Analisis

Lebih dari sekedar penerbangan mewah: Organisasi Roundtable on Sustainable Palm Oil

Ketika seorang pimpinan menyatakan RSPO "sedang terbang”, mengapa para anggota menyadari keseimbangan mereka justru rapuh?
Bagikan
0
Pertaruhan bagi RSPO adalah menyelaraskan keinginan anggota tanpa melupakan pesan konservasi
Pertaruhan bagi RSPO adalah menyelaraskan keinginan anggota tanpa melupakan pesan konservasi

Paling popular

BOGOR, Indonesia (19 November, 2012)_Ketika Sekretaris Jenderal Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Darryl Webber, berdiri menutup rapat kesepuluh organisasi tersebut dua minggu lalu di Singapura, dengan sederhana ia menyatakan “RSPO sedang terbang”.

Selama dua tahun terakhir, secara praktis,  jumlah anggotanya bertambah dua kali lipat dan evolusi akan kepentingan kolektif dapat dirasakan nyata di pihak para pengusaha kelapa sawit, pemroses, penjual, investor, pengecer, LSM, dan juga pemerintah.

Namun gambaran ini tidak memberikan indikasi bahwa perkembangan RSPO telah, atau di masa depan akan, bebas dan mudah; jauh dari hal itu. Pencapaian besar RSPO, seperti diskusi/konferensi lain sebelumnya, adalah untuk mempersatukan sejumlah besar pelaku dalam satu cita-cita bersama: mentransformasi dan menjadikannya berkelanjutan, pasar global bagi minyak kelapa sawit. Tidak seorang pun akan menyangkal berbagai aspirasi tantangan bagi RSPO, khususnya pada jeda saat ini, dengan akan tibanya saat peninjauan pertama prinsip-prinsip dan kriteria organisasi tersebut. Bahkan, para anggota RSPO tampaknya sangat menyadari bahwa masa depan perusahaan kolektif mereka keseimbangannya rapuh.

Dari manakah asalnya ketidakpastian ini? Pastilah bukan dari masa depan minyak kelapa sawit itu sendiri, sebagai minyak nabati yang paling melimpah di dunia. Permintaan untuk minyak nabati secara menyeluruh telah meningkat secara terus menerus selama berpuluh-puluh tahun, suatu kecenderungan yang menempatkan minyak sawit secara unik menjadi makmur karena sifatnya yang multiguna dengan biaya produksi rendah (khususnya di Asia Tenggara). Produksi minyak kelapa sawit sekarang meluas ke Afrika Barat, tempat cikal bakalnya, dan juga Amerika Latin, di mana kontribusi terhadap deforestasi seringkali terjadi karena lokasi [perkebunan] ada di wilayah perbatasan pertanian.

Tantangan bagi RSPO yaitu memperlihatkan bahwa kelanjutan perluasan perkebunan kelapa sawit, dalam pengertian geografis maupun volumetrik, dapat terus tumbuh secara ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Khususnya di Asia Tenggara, dimana 90 persen produksi terjadi di wilayah ini, sejarahnya telah sering kali cenderung untuk menunjukkan hal yang berlawanan : kawasan hutan yang luas dibersihkan dan banyak kepentingan komunitas dilangkahi untuk membuka jalan bagi komoditi dengan keuntungan yang hampir tidak dapat ditandingi ini.

Tentu saja, beberapa pengusaha kelapa sawit telah lama berusaha melawan kecenderungan ini dengan berpegang pada standar pengelolaan yang sempurna. Sesaat sebelum konferensi dimulai, Greenpeace mengeluarkan ‘kartu skor’ dari para pengusaha kelapa sawit yang mewakili hampir seperempat dari produksi global, memeringkatkan Agropalma (Brasil), New Britain Palm Oil Ltd. (Papua Nugini), Golden Agri-Resources (Singapura) and Wilmar International (Singapura) sebagai yang tertinggi untuk tiga indikator lingkungan hidup yang utama.

Fungsi primer RSPO – bahkan yang merupakan salah satu dasar pendiriannya – adalah untuk memberikan penghargaan bagi para pengusaha akan usaha mereka, berhubungan dengan pemroses dan pengecer yang bersedia untuk menyediakan akses pasar dan/atau premium harga. Salah satu penyebab frustrasi yang cukup berarti pada konferensi yang baru lalu adalah fakta bahwa separuh dari kelapa sawit yang saat ini diproduksi sesuai persyaratan RSPO, tidak dapat dijual dalam keadaan tersebut (karena permintaan tertinggal di belakang pasokan); bahkan bila memungkinkan, harga premiumnya dapat bersifat marjinal. Sementara daya tarik RSPO untuk para pengusaha kelapa sawit dapat dibaca sebagai suatu takaran keberhasilan, pentingnya menemukan cara-cara untuk meningkatkan permintaan kelapa sawit bersertifikat dan mempertahankan [bisnis] para pengusaha tersebut.

Desakan untuk meningkatkan cakupan RSPO di antara para pemasok kelapa sawit menjadi semakin sukar karena adanya karakteristik lain: mereka yang pertama kali bergabung dalam skema tersebut kebanyakan adalah para pemasok dengan kinerja sosial dan lingkungan hidupnya terbaik. Para pemasok ini memiliki paling sedikit kelalaian untuk diperbaiki agar dapat mencapai kepatutan, dan prinsip-prinsip manajemen mereka sering kali sudah disejajarkan dengan apa yang dikemukakan oleh RSPO. Dalam istilah akademis, hal ini dikenal sebagai “bias seleksi diri”, dan tantangan yang ada untuk RSPO dalam mendorong para pemasok lebih jauh ialah usaha yang lebih besar yang secara bertahap akan mereka minta.

Meskipun ada hal-hal tersebut dan ketegangan lainnya, tidak diragukan lagi bahwa pencapaian RSPO sampai saat ini layak mendapat pujian. Dalam rentang waktu kurang dari satu dekade, RSPO telah berhasil mengumpulkan lebih dari 1000 anggota, yang mencerminkan spektrum penuh dari berbagai entitas/badan yang memiliki minat terhadap komoditas berharga ini. RSPO saat ini mensertifikasi 14 persen, atau lebih dari 7 juta ton produksi minyak kelapa sawit global. Sampai dengan pemilihan suara berdasarkan mayoritas dalam pengajuan berbagai resolusinya, organisasi ini beroperasi secara demokratis, sebuah fitur yang tetap menjadi sumber kredibilitas fundamentalnya dalam memformulasikan kebijakan minyak kelapa sawit. Tetapi sifat demokratis ini juga merupakan titik lemah kecil yang penting dari organisasi tersebut.

Untuk RSPO, sejumlah uji kasus penting masih menghadang : berbagai keputusan tertunda mengenai tingkat emisi gas rumah kaca yang dapat diterima, takaran perlindungan untuk wilayah konservasi bernilai tinggi dan titik ledak dari penanaman lahan gambut (terutama di Indonesia). Dapat dikatakan, keputusan-keputusan ini merupakan yang tersukar yang harus dihadapi oleh RSPO. Pertaruhan RSPO, sama seperti semua konferensi lainnya, ialah bahwa hal-hal tersebut dapat diselesaikan dengan memuaskan bagi setiap anggotanya tanpa harus melanggar mandat dan prinsip manapun yang berbeda.

Ada beberapa alasan untuk berharap. Sering kali dalam konferensi tersebut, saya terpana oleh keterbukaan pembicaraan antara para anggotanya. Bersama-sama dengan komitmen kuat para anggotanya terhadap aspirasi RSPO, keterbukaan ini memberikan kepada organisasi tersebut kekuatan untuk melakukan pendekatan terhadap berbagai tantangan yang menanti di masa depan. Apakah RSPO dapat atau tidak dapat menyelesaikan berbagai hambatan tersebut sebagian besarnya menentukan, dalam pandangan banyak anggota dan pengikutnya, apakah produksi minyak kelapa sawit dapat berkelanjutan dalam skala yang cukup besar untuk memberi pengaruh positif terhadap ‘manusia, planet dan keuntungan’

(Visited 111 times, 1 visits today)
Topik :   Kelapa sawit