Wawancara

Tanya+Jawab di Doha: Memenuhi kebutuhan pangan sambil melindungi hutan

Kita juga perlu mengetahui batas intensifikasi, terutama degradasi dan kerentanan lingkungan menghadapi risiko perubahan iklim.
Bagikan
0
Melestarikan hutan sama halnya dengan mengembangkan pertanian merupakan salah satu tantangan utama dalam menangani kebutuhan makanan dari pertumbuhan populasi dunia. Neil Palmer (CIAT).
Melestarikan hutan sama halnya dengan mengembangkan pertanian merupakan salah satu tantangan utama dalam menangani kebutuhan makanan dari pertumbuhan populasi dunia. Neil Palmer (CIAT).

Paling popular

Qatar - Doha, Qatar (2 Desember, 2012)_Ketika dunia berjuang memenuhi kebutuhan makanan bagi populasi yang terus berkembang tanpa menjarah hutan dan area pepohonan, harus dipertimbangkan untuk mempertinggi efisiensi penggunaan lahan dan merelokasi pertanian ke area non-hutan atau wilayah terdegradasi, kata para ilmuwan.

Deborah Bossio dan Lini Wollenberg dari Pusat Pertanian Tropis Dunia (International Center for Tropical Agriculture) dan CGIAR berbicara kepada Forest News di sela-sela perundingan Iklim PBB di Doba, Qatar.

Masih banyak jalan yang bisa dilakukan untuk membangun keseimbangan antara keamanan pangan dan konservasi, menurut mereka, dukungan dari pengambil keputusan dibutuhkan untuk meningkatkan momentum.

T: Sesulit apa untuk menjaga hutan sementara kita mengembangkan pertanian untuk menjawab kebutuhan pangan dari peningkatan populasi dunia.

J: Ada beberapa pendekatan berbeda yang bisa kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan sambil melindungi hutan. Dengan intensifikasi pertanian, kita bisa mendorong efisiensi penggunaan lahan dan produktivitasnya. Contohnya, hewan ternak bisa menggunakan pola peternakan intensif, perkandangan, atau operasi pemuliaan.

Kita juga bisa menciptakan hutan multifungsi atau wilayah wanatani, dimana pertanian dan kehutanan hidup bersama. Atau kita bisa merelokasi pertanian ke wilayah non-hutan—walaupun mungkin wilayah ini terdegradasi dan membutuhkan investasi lebih tinggi. Jika kita mengambil langkah ini, kita perlu mengenali wilayah-wilayah lain yang baru, seperti sabana Cerrado di Brasil, bisa jadi memiliki nilai keanekaragaman hayati yang unik.

T: Strategi atau teknik apa yang perlu dipertimbangkan untuk mencapai tujuan ini?

J: Kita harus mengakui bahwa pasar pertanian dan kehutanan seringkali saling merugikan satu sama lain (contohnya, setelah penebangan hutan komersial, kemudian pertanian masuk), jadi mau tidak mau kedua sektor ini perlu ditangani secara bersama. Terutama, ketika jatuh ke “tata kelola  pasar” dan mekanisme kebijakan lain.

Juga sangat penting untuk memeriksa secara seksama apakah produksi makanan dibutuhkan untuk meningkatkan keamanan pangan, atau adakah aspek lain dari sistem pangan yang perlu diubah, seperti akses, distribusi, limbah, dan konsumsi.

Plus, banyak tanaman yang bukan tanaman pangan, jadi masyarakat perlu membuat pilihan kebijakan antara pangan dibandingkan dengan pemasukan pertanian (contoh kopi, teh) atau tanaman energi.

T: Akankah intensifikasi pertanian memberi solusi pada perubahan ini?

J: Intensifikasi berpotensi memberi hasil lebih tinggi dari lahan, tetapi jika berdiri sendiri hal ini tidak menjamin konversi hutan tidak akan terjadi di area tertentu. Dalam skala lebih besar (contohnya global), dampak keterbatasan lahan telah menjadi bukti (keberhasilan efektivitas)  sejak lama. Tetapi, dalam skala lokal, peningkatan efisiensi seringkali mengarah pada peningkatan konversi, terutama untuk pertanian atau peternakan yang terpengaruh pasar, kecuali ada pembatasan, sanksi atau insentif yang diterapkan dan ditegakkan. Termasuk dalam mekanisme itu adalah soal sengketa lahan, penggunaan lahan, standar keberlanjutan, dan lain-lain. Hal-hal tersebut biasanya bekerja lebih baik ketika mekisme rangkap digunakan, mereka lebih dekat pada level produsen dan memiliki akuntabilitas yang akuntabel. Brasil, contohnya, tampak bisa membuat kemajuan dengan pendekatan jurisdiksi pada tingkat nasional dan provinsi.

Kita juga perlu mengetahui batas intensifikasi, terutama tingkat tertentu dari degradasi dan kerentanan lingkungan (contoh tanah rumput) yang menghadapi risiko perubahan iklim dan ancaman lain.

T: Apa langkah paling darurat yang harus diambil oleh pengambil keputusan internasional?

J: Tindakan perlu dilakukan berbeda tergantung dari kondisi kapabilitas tata kelola dan pendorong pasar komoditas di tiap negara yang berbeda. Jadi perlu diidentifikasi dimana ancaman (tekanan pasar) dan peluang (tata pemerintahan yang baik) yang keduanya sama-sama tinggi. Kemudian kita seharusnya mulai bekerja dalam konteks spesifik tersebut.

Pendekatan insentif dan akuntabilitas seharusnya juga diciptakan untuk menjaga keberlanjutan komoditas yang berkaitan dengan konversi hutan, melalui sebaran informasi untuk konsumen dan penyaringan investasi nasional.

REDD+ (skema PBB untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan) harus didukung untuk menjaga pengembangan pertanian berkelanjutan. Pendekatan kebijakan nasional perlu juga mendukung pengarahan kembali pembangunan pertanian. Kita perlu mendorong program jembatan dan insitusi yang menghubungkan kehutanan dan pertanian dengan pemantauan dan kebijakan.

Deborah Bossio, Direktur, Penelitian Tanah di  International Center di Tropical Agriculture, adalah pembicara utama pada Forum Diskusi Forests on a Cultivated Planet at Forest Day 6 held in Doha, Qatar, bersamaan dengan UNFCCC COP18.

(Visited 2,728 times, 8 visits today)
Topik :   Pertanian ramah hutan