Wawancara

Kemajuan REDD+ di Doha lambat bila pemahaman kaitan karbon, biodiversitas, dan masyarakat belum baik

Tidak ada pendekatan tunggal yang bisa direplikasi luas. Bahkan strategi penerapan REDD+ perlu dijalin dalam kondisi lokal dan regional.
Bagikan
0
Hubungan antara hutan, keanekaragaman hayati, dan orang tidak dapat diabaikan oleh skema mitigasi iklim. Jan van der Ploeg / CIFOR.
Hubungan antara hutan, keanekaragaman hayati, dan orang tidak dapat diabaikan oleh skema mitigasi iklim. Jan van der Ploeg / CIFOR.

Paling popular

Qatar - DOHA, Qatar (29 November, 2012)_Ketika tidak ada satu satu solusi utuh untuk masalah kehilangan dan degradasi hutan, pengelolaan hutan di bawah skema REDD+ harus diadaptasi ke konteks lokal untuk menjamin tujuan karbon dan biodiversitas tercapai, kata para ilmuwan.

Christoph Wildburger dan John Parrotta dari International Union of Forest Research Organizations (IUFRO) and salah seorang penulis  studi terbaru yang mengupas hubungan antara hutan, biodiversitas, dan masyarakat, berbicara kepada Forest News di sela-sela konferensi Iklim PBB di Doha, Qatar.

Mereka menyoroti perlunya jaminan akan  timbal-balik antara tujuan mitigasi perubahan iklim dan konservasi biodiversitas diperhatikan secara hati-hati dalam skema REDD+.

T: Riset Anda didasari analisis literatur ilmiah lengkap mengenai hutan dan tata kelola lahan serta pengalaman spesifik REDD+. Apa yang Anda temukan?

J: Faktanya cukup jelas, dengan mengejar tujuan biodiversitas dan sosial dalam perencanaan REDD+ pada tahap awal, tantangan yang dihadapi yakni aktivitas REDD+ diharapkan menghasilkan penurunan signifikan dan bertahan lama dalam pengurangan emisi gas rumah kaca.

T: Apa hubungan kunci antara biodiversitas dan karbon, dan mengapa hal ini menjadi sangat penting?

J: Beberapa hubungan kunci antara biodiversitas dan karbon termasuk fotositesis, dekomposisi, dan penyimpanan karbon. Bagaimanapun ini adalah proses yang kompleks dan hasil dari interaksi beragam spesies yang membentuk ekosistem hutan. Pada skala yang lebih luas, sebuah biodiversitas kaya memungkinkan hutan bertahan dari perubahan lingkungan dan menjadi sumberdaya yang dimanfaatkan manusia. Di hutan tropis, ketahanan ini menghasilkan kapasitas jangka panjang hutan dalam menyimpan karbon. Jadi, hilangnya spesies menyebabkan penurunan kualitas proses, yang otomatis mengurangi penyimpanan karbon di hutan.

T: Apa peran masyarakat dalam hubungan ini?

J: Masyarakat sangat bergantung pada produk (mulai dari kayu hingga minyak, makanan hingga obat-obatan) dan jasa ekosistem yang disediakan hutan dan biodiversitas, termasuk penyerapan karbon. Pembukaan hutan untuk pertanian dan degradasi hutan (contohnya, dari penebangan liar dan kebakaran) menjadikan integritas ekosistem hutan, dan kemampuan mereka untuk terus menyediakan manfaat penting bagi umat manusia di seluruh dunia, menjadi terancam. Ini juga memiliki dampak tak seimbang terhadap masyarakat rentan, yang sering sangat tergantung pada hutan dan isinya.

Pendekatan tata kelola yang hati-hati menghitung kompleksitas biodiversitas hutan, dan ribuan spesies yang membangun fungsi ekologis dalam menyokong ekosistem  dapat membantu memperbaiki area terdegradasi dan pengaman hutan yang masih ada menghadapi dampak masa depan manusia dan perubahan iklim.

T: Bagaiman dampak hubungan ini terhadap efektivitas REDD+?

J: Pengakuan pentingnya hutan terhadap manusia dapat secara potensial meningkatkan efektivitas aksi REDD+, jika aksi ini dilakukan, dan diarahkan untuk mempertemukan kebutuhan masyarakat lokal terhadap sumber daya dan jasa hutan. Ketika kebutuhan ini diabaikan atau tidak memenuhi kebutuhan dalam perencanaan dan tata kelola REDD+, akan muncul bahaya bahwa aksi REDD kurang mendapat dukungan lokal sehingga bisa gagal, sehingga membiarkan hutan lemah terhadap perusakan atau degradasi yang melumpuhkan kemampuan mereka menyediakan jasa vital termasuk mitigasi perubahan iklim.

Jika kesejahteraan masyarakat dipandang sebagai tujuan utama, tampaknya ativitas REDD bisa sesuai dengan aspirasi pemangku kepentingan lokal.

T: Alat dan pendekatan apa yang bisa digunakan pengambil keputusan untuk menyeimbangkan hubungan ini ketika mendisain projek REDD+?

J: REDD+ muncul dengan wilayah yang luas dari hutan dan tata kelola lahan. Ada rentang lebar dalam kesepakatan antar-pemerintah yang ada, skema lingkungan dan sertifikasi sosial, mekanisme pendanaan multi-lateral, dan mekanisme pemerintahan nasional dan lokal yang berkaitan dengan REDD+, biodiversitas, hak asasi manusia, dan keberlanjutan kehidupan.

Daripada hanya mengembangkan alat dan lapisan kompleksitas baru, tantangan dari projek REDD+ adalah melibatkan dengan pemangku kepentingan dalam mengidentifikasi pendekatan lokal yang tepat, hal ini juga dapat menunjukkan sinergi dengan norma-norma nasional dan internasional.

T: Apa langkah lain yang bisa dilakukan untuk menjamin REDD+ tidak memberi dampak negatif pada karbon, biodiversitas, dan masyarakat?

J: Kehati-hatian diperlukan ketika  mengekstrapolasi rekomendasi tata kelola dalam ekosistem hutan dan lahan tutupan pohon. Tidak ada pendekatan tunggal yang bisa direplikasi secara luas; bahkan strategi untuk menerapkan aksi REDD+ perlu dijalin dalam kondisi lokal dan regional.

Lebih dari itu, imbal balik antara karbon dan biodiversitas perlu dijawab dalam perencanaan REDD+ and diterapkan untuk meminimalisasi risiko dampak negatif, seperti pemindahan degradasi hutan atau deforestasi ke area lain. Sebuah pendekatan tata kelola wilayah terintegrasi membantu mendefinisikan dan menjawab hasil imbal balik dan menyediakan alat untuk menggabungkan pertimbangan lingkungan, sosial dan ekonomi dalam REDD+.

Lebih jauh lagi, dampak sosio-ekonomi implementasi REDD+ perlu dipertimbangkan secara dini dalam implementasi REDD+. hak tenurial dan kepemilikan, termasuk hak atas akses, penggunaan dan kepemilikan, juga perlu diperjelas.

Laporan  Understanding Relationships between Biodiversity, Carbon, Forests and People: The Key to Achieving REDD+ Objectives akan dipresentasikan dalam forum REDD+, biodiversity and people: Opportunities and Risks at Forest Day 6, yang digelar di sela-sela UNFCCC COP18 on December 2.

 

(Visited 138 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi Tenurial