Mengukur stok karbon: Pengukuran akurat amat penting bagi dampak REDD+

BOGOR, Indonesia (23 November 2012)_Dalam perbincangan dengan Forests News, Louis Verchot, ilmuwan utama perubahan iklim dari CIFOR, berbicara tentang pentingnya pengukuran akurat emisi gas rumah kaca untuk keberhasilan strategi, seperti mengurangi deforestasi dan degradasi, atau REDD+.

Bisakah Anda menceritakan rangkuman singkat tentang REDD+?

REDD+ merupakan mekanisme internasional untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Emisi hutan di negara-negara tropis mewakili antara 12 hingga 18 persen dari total emisi gas rumah kaca global. Pada tahun 2005, sebuah koalisi negara-negara hutan tropis datang ke UNFCCC, Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim, dan mengusulkan sebuah program internasional dengan dukungan dari negara-negara maju untuk mendukung negara berkembang dalam mengurangi emisi dari hutan-hutan di negara mereka.

Jadi, pada dasarnya negara-negara kaya memberi kompensasi kepada Negara yang lebih yang miskin?

Tidak, itu tidak harus diatur sebagai skema kompensasi. Ada beberapa orang yang merumuskan seperti itu, ada juga orang lain yang melihat hal itu lebih sebagai suatu sistem bantuan untuk membantu melindungi hutan mereka. Ini adalah sesuatu yang ingin dicapai oleh negara-negara berkembang dan mereka mencari bantuan teknis serta bantuan keuangan dari negara-negara maju untuk dapat melakukan hal ini.

Apa yang dilakukan oleh ilmuwan dalam hal REDD+ dan penelitian apa yang Anda lakukan terhadap akuntansi dan persediaan karbon?

Salah satu tantangan teknis dalam melaksanakan REDD+ adalah menentukan dampak apa yang Anda berikan: Berapa banyak Anda telah mengurangi emisi deforestasi Anda. Untuk melakukan hal itu, Anda harus mampu menghitung transfer karbon dan gas rumah kaca lainnya dari ekosistem ke atmosfer. Secara teknis, ini merupakan tantangan, terutama di negara yang tidak memiliki inventarisasi hutan  dari waktu ke waktu, sehingga Anda tidak mengetahui riwayat perubahan stok hutan Anda. Jika kita memproyeksikan dari masa lalu ke masa depan, negara-negara yang kaya akan hutan perlu mengetahui apakah kita telah membuat perubahan dalam tren ini, atau apakah kita masih mengikuti lintasan emisi dengan keadaan bisnis seperti biasa? Jadi, kita harus bisa menghitung ini.

Secara teknis rumit untuk menentukan berapa banyak area yang mengalami deforestasi, tetapi yang juga lebih penting lagi, berapa banyak karbon dari area yang telah mengalami deforestasi tersebut berakhir di atmosfer – dan di sanalah pekerjaan kami di lahan gambut khususnya menjadi sangat penting sekarang ini. Lahan gambut ditemukan di beberapa daerah di Asia Tenggara dan sedang berubah dengan cepat, tapi kita hanya mengetahui  sedikit tentang kepadatan karbonnya.

Alasan bahwa hal ini sulit adalah karena emisi dilepaskan dari lahan gambut bersifat persisten.  Misalnya, gambut bersifat anaerobik – tidak ada oksigen di sana – mikroba dalam tanah mengalami kesulitan dalam menguraikan materi organik yang ditemukan dalam gambut. Setelah Anda mengeringkannya dan tempat tersebut menjadi lingkungan dengan kadar oksigen tinggi, mikroba dapat menguraikan gambut, dan dari setiap tahun pengeringan gambut akan terdapat tambahan 10 sampai 20 ton karbon per hektar yang dilepaskan dari gambut ke atmosfer.

Jadi yang sedang kami coba lakukan adalah menurunkan angka-angka itu dan membuat proksi atau default global, sehingga negara-negara berkembang yang ingin menerapkan inventarisasi emisi gas rumah kaca dapat melakukannya tanpa harus mengukur hilangnya karbon di setiap ekosistem tertentu. Kami sedang berusaha mengurangi angka-angka ini, sehingga negara-negara dapat mengukur pengaruh perubahan tutupan hutan dan perubahan pengelolaan lahan dengan lebih baik di lahan gambut tersebut terhadap atmosfer.

Mangrove juga digolongkan bersama-sama dengan lahan gambut sebagai lahan basah. Dalam hal penyimpanan karbon mengapa ekosistem mangrove sangat penting?

Mangrove merupakan kasus yang menarik karena di sana terjadi laju deforestasi yang sangat pesat, khususnya di sini di Asia Tenggara. Kita telah kehilangan sekitar 60-70 persen hutan mangrove dan kita terus kehilangan dalam angka 3-4 persen dari hutan mangrove yang tersisa per tahunnya. Mangrove menyimpan karbon 6 sampai 10 kali lebih banyak dibandingkan dengan hutan tropis di dataran tinggi.  Mangrove memiliki sedimen sangat dalam yang mengubur karbon untuk waktu yang lama, dan setelah Anda menghilangkan vegetasi tersebut maka sedimen tersebut mulai terkikis. Karbon yang dilepaskan kemudian kembali tertahan dalam kolom air di pesisir zona dalam dan kemudian dioksidasi dan ditransfer ke atmosfer.

Mengapa penting untuk memahami kuantitas dan perubahan dalam stok karbon ini dari ekosistem hutan lahan basah tersebut?

Ini sangat penting untuk dipahami karena ekosistem ini berkontribusi sangat besar terhadap emisi nasional dari Indonesia, dari Malaysia, dari negara-negara lain di sini, di Asia Tenggara.  Sebagai negara yang kaya akan hutan, jika Anda ingin mengetahui emisi total Anda, dan kemudian menentukan pengurangan emisi, Anda harus memahami apa yang terjadi di dalam ekosistem ini. Jika Anda tidak memahami apa yang terjadi di ekosistem ini, Anda mungkin kehilangan 20 sampai 40 persen dari kisah dari negara-negara ini.

Mengapa jenis ekosistem hutan ini semakin terancam?

Ada beberapa alasan mengapa ekosistem ini semakin berkurang. Menumbuhkan kelapa sawit dan tanaman cepat tumbuh untuk pulp (bubur kertas) memang menguntungkan, tetapi perusahaan mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses ke lahan untuk menanam tanaman ini di dekat pabrik mereka.  Seiring pertumbuhan penduduk, lahannya diambil untuk pertanian subsisten.  Demikian pula, banyak lahan yang telah dialokasikan untuk perusahaan kehutanan swasta melalui sistem konsesi.  Di daerah dekat pemukiman, sering kali kepemilikan tanah menjadi sengketa.  Jadi sangat sulit bagi industri ini untuk melakukan ekspansi produksi.  Lahan gambut secara tradisional tidak dimiliki, sehingga industri dapat melakukan ekspansi di sana tanpa menciptakan konflik atas kepemilikan lahan.

Di wilayah mangrove terdapat banyak tekanan dari pertambakan udang.  Udang dapat menjadi jadi produk daging dengan kandungan karbon paling tinggi di pasar.

Bagaimana kisahnya mengenai utang karbon dari ekosistem hutan?

Gagasan di balik utang karbon adalah bahwa ketika Anda melakukan deforestasi di suatu daerah, Anda telah menghasilkan emisi dalam tingkat tinggi. Sekarang jika Anda akan melakukan kegiatan di daerah itu dan mencoba dan mengklaim pengurangan emisi, Anda sebenarnya harus terlebih dahulu melunasi utang itu – utang karbon ini dapat berlangsung puluhan tahun, hingga beberapa dekade, beberapa abad, untuk dapat dilunasi.

Sebagai contoh, dalam kasus lahan gambut atau mangrove, jika Anda ingin menghasilkan biodiesel untuk mengurangi emisi bahan bakar fosil, Anda mungkin akan memerlukan  setidaknya 100 dan mungkin 250 tahun untuk membayar utang karbon.

Jadi, utang karbon adalah bagian besar dari persamaan untuk memahami efek dari tata guna lahan terhadap atmosfer. Jika Anda akan berinvestasi dalam intervensi pengurangan emisi, Anda harus memahami dampak total Anda terhadap atmosfer. Anda harus melakukan analisis siklus hidup penuh dan Anda harus menghitung emisi yang diciptakan saat Anda mengonversi ekosistem ini dan menciptakan ekosistem baru Anda, bukan hanya menghitung apa yang bisa Anda serap atau Anda hilangkan dari atmosfer oleh ekosistem baru ini.

Adakah  contoh dari utang karbon ini di Indonesia?

Di Sumatra terdapat banyak konversi lahan gambut untuk memproduksi kelapa sawit. Minyak kelapa sawit dapat digunakan sebagai biodiesel dan biodiesel ini dijual sebagai bahan bakar hayati. Bahan bakar ini dianggap ‘lebih hijau’ bila dibandingkan dengan bahan bakar fosil dan dapat membantu mengurangi emisi bahan bakar fosil. Bila Anda mengonversi lahan gambut, Anda menghilangkan sejumlah besar biomassa, kemudian Anda mengemisikan 8 sampai 10 ton karbon per hektar dalam setiap tahun Anda memproduksi kelapa sawit dari dekomposisi gambut. Kemudian Anda harus menyeimbangkannya dengan kekurangan bahan bakar fosil yang mungkin terjadi. Jika Anda tidak menyeimbangkannya, Anda memiliki dampak negatif pada atmosfer, sementara Anda mengatakan kepada diri sendiri bahwa Anda memberi dampak positif terhadap atmosfer dengan tidak membakar bahan bakar fosil.

Atmosfer tidak terlalu peduli tentang dari mana karbon itu berasal. Jika berasal dari bahan bakar fosil, atau dari gambut, tetap saja karbon itu ada di atmosfer dan perubahan iklim tetap berlangsung.

Mengapa penelitian ini penting bagi para pembuat kebijakan dan pengambil keputusan dalam pengelolaan hutan?

Penelitian ini sangat penting bagi para pembuat kebijakan dan pengambil keputusan karena pemahaman emisi karbon sangat penting untuk benar-benar memberi dampak terhadap atmosfer. Jika Anda melakukan proses kebijakan atau membuat keputusan kebijakan dan Anda tidak benar-benar menghitung dampak Anda terhadap atmosfer, Anda dapat mengalami konsekuensi yang tidak diinginkan – Anda bisa mengatakan kepada diri sendiri bahwa Anda memberi dampak positif padahal tidak. Dengan melakukan penelitian ini dan menghasilkan angka-angka riil, dan memahami ketidakpastian di sekitar angka-angka ini, Anda dapat memiliki tingkat kepercayaan tertentu bahwa kebijakan dan praktik-praktik Anda memberi dampak terhadap atmosfer.

Mengapa pekerjaan ini perlu dilanjutkan untuk pelaksanaan REDD+?

Untuk REDD+, ini akan terus menjadi penting karena, selama tujuh sampai 10 tahun ke depan, akan menghilangkan kendala inventaris gas rumah kaca dan akuntansi karbon untuk negara-negara berkembang. Ada banyak hambatan untuk melaksanakan REDD+ secara efektif. Ini adalah kendala teknis yang dapat kita pecahkan atau membuat kemajuan yang signifikan dalam tujuh sampai 10 tahun ke depan. Penelitian ini juga akan membantu menargetkan intervensi emisi Anda, sehingga Anda mendapatkan hasil terbaik untuk uang investasi Anda. Jadi, ketika Anda menginvestasikan uang, Anda benar-benar mendapatkan pengurangan emisi tertinggi yang dimungkinkan atau pengurangan emisi dengan biaya terendah yang dimungkinkan.


Komentar anda