Berita

Hutan pembuat hujan: Dukungan bagi peneliti CIFOR untuk suatu hipotesis kontroversial

Sulit sekali meyakinkan orang bahwa ide radikal yang berdasar prinsip fisika sederhana dilewatkan begitu saja selama ini.
Bagikan
0
Suatu teori baru menyatakan bahwa hutan menghasilkan angin membantu memompa air ke permukaan bumi. Kenneth J Gill
Suatu teori baru menyatakan bahwa hutan menghasilkan angin membantu memompa air ke permukaan bumi. Kenneth J Gill

Paling popular

Africa - BOGOR (26 Februari 2013)_Sebuah telaah baru memberi penguatan landasan proses fisika dibalik teori kontroversial yang menyatakan hutan memainkan peran signifikan dalam menentukan hujan, menciptakan angin atmosferik yang memompa kelembapan di seluruh benua.

Model ini dapat merevolusi cara kita memahami iklim lokal, dan kerawanannya, disertai  banyak implikasi besar. Teori ini menyatakan, antara lain, dengan menanami kembali hutan secara strategis kita dapat menarik hujan ke gurun dan daerah kering seperti Sahel Afrika, dimana kekeringan telah menghancurkan pertanian dan melumpuhkan peternakan selama bertahun-tahun.

Sebaliknya, kehilangan hutan yang signifikan mengubah area tropis basah menjadi bentang alam kering.

“Teori ini memberi kita alasan tambahan untuk melindungi dan menjaga tutupan hutan,” kata Douglas Sheil, salah seorang penulis laporan yang dipublikasikan di jurnal Atmospheric Chemistry and Physics dan asosiasi senior di Center for International Forestry Research (CIFOR).

“Secara tradisional, orang menyatakan daerah seperti Kongo dan Amazon memiliki hujan lebat karena mereka berada di bagian dunia yang mengalami kelembaban udara (presipitasi) yang tinggi,” katanya.

“Tetapi kita menawarkan kebalikannya; bahwa hutan menyebabkan hujan dan jika hutan tidak ada bagian dalam benua ini akan menjadi padang pasir.”

Pada 2006, Ilmuwan Anastassia Makarieva dan Victor Gorshkov pertama kali mempublikasikan makalah yang menjelaskan model bahwa hutan—dengan menciptakan tekanan atmosfer rendah—memindahkan kelembapan udara di daratan dan membantu mengembangkan hujan.

Sheil dan mitra-penulis Daniel Murdiyarso meninjau ulang nilai penting konsep ini pada artikel di jurnal Bioscience di tahun 2009. Dalam laporan baru, Makarieva, Gorshkov, Sheil dkk. bekerjasama memberikan gambaran rinci proses fisika di balik hipotesis “pompa biotik”,  melangkah lebih jauh dengan menyoroti proses bagaimana penguapan dan kondensasi menimbulkan perbedaan tekanan atmosfer.

Model ini menjelaskan mengapa udara naik di wilayah dengan penguapan intensif, seperti hutan. Tekanan rendah yang dihasilkan menarik tambahan udara lembap, menyebabkan perpindahan uap air yang kemudian jatuh sebagai hujan di wilayah dengan penguapan tinggi.

The “biotic pump” model: (a) Under full sunshine, forests maintain higher evaporation than oceans and thus draw in moist ocean air. (b) In deserts, evaporation is low and air is drawn toward the oceans. (c) In seasonal climates, solar energy may be insufficient to maintain forest evaporation at rates higher than those over the oceans during a winter dry season, and the oceans draw air from the land. However, in summer, high forest evaporation rates are reestablished (as in panel a). (d) With forest loss, the net evaporation over the land declines and may be insufficient to counterbalance that from the ocean: air will flow seaward and the land becomes arid and unable to sustain forests. (e) In wet continents, continuous forest cover maintaining high evaporation allows large amounts of moist air to be drawn in from the coast. Source: Sheil and Murdiyarso (2009).

Model “Pompa Biotik”: (a) Di bawah matahari penuh, hutan menjaga penguapan lebih tinggi dibanding lautan dan oleh karena itu menarik masuk udara lembap lautan. (b) Di padang pasir, penguapan rendah dan udara tertarik ke lautan. (c) Di iklim musiman, energi matahari tidak cukup untuk menjaga penguapan hutan pada tingkat yang lebih tinggi dibanding penguapan di lautan pada musim kering berangin, dan lautan menarik udara dari daratan. Namun, ketika musim panas, tingginya penguapan hutan diseimbangkan (seperti pada panel a). (d) Dengan hilangnya hutan, penguapan bersih di atas daratan menurun dan tidak cukup untuk menyeimbangkan penguapan di lautan: udara akan mengalir ke arah laut dan daratan menjadi kering serta tidak mampu mempertahankan hutan. (e) Di benua basah, tutupan hutan berkelanjutan menjaga penguapan tinggi yang memungkinkan sejumlah besar udara lembap ditarik dari pantai. Sumber: Sheil dan Murdiyarso (2009)

Karena model ini bertentangan dengan model iklim yang ada, para penulis menghadapi rintangan untuk mendapatkan dukungan dari rekan-rekannya di lapangan atau menemukan penerbit.

“Sulit sekali meyakinkan orang bahwa ide radikal yang berdasar prinsip fisika sederhana  dilewatkan begitu saja selama ini,” kata Sheil.

“Orang-orang begitu yakin ini salah dan tidak mau membuang waktunya mengurusinya.”

“Tantangannya adalah bertahan dalam periode awal penolakan—ketika kita menjadi makhluk asing dan seluruh masyarakat melawan kita, karena kita ingin mereka semua meninggalkan konsep besar yang mereka yakini,” kata Marieva dan Gorskov.

“Tetapi berkat teman dan mitra-peneliti kami merasa bahwa kami tidak lagi sendiri dalam perjuangan ini.”

“Makalah ini benar-benar mencoba untuk membawa fisika mendapat perhatian formal dari ilmuwan-ilmuwan iklim,” kata Sheil.

“Kami telah meminta mereka untuk menyanggah teori ini dan sejauh ini tidak ada yang bisa melakukannya.”

Para editor Atmospheric Chemistry and Physics memutuskan untuk mempublikasikan laporan dengan memberi penjelasan khusus mengenai sifat “kontroversial-nya”. Debat keras terjadi antara para perujuk, penulis, dan lainnya, semuanya bisa dilihat secara online.

Teori ini memberi kita alasan tambahan untuk melindungi dan menjaga tutupan hutan,

Dalam penjelasan keputusan untuk mempublikasi, para editor jurnal dan komite eksekutif menyatakan bahwa mereka tidak yakin jika makalah ini salah.

“Setelah pertimbangan sangat panjang…editor memutuskan bahwa naskah tetap seharusnya diterbitkan…untuk mendorong keberlanjutan dialog ilmiah mengenai teori kontroversial,” tulis catatan editor.

Jika teori mendapatkan banyak perhatian dan dukungan ilmiah, akan didapat beberapa implikasi kebijakan yang signifikan, tambah Sheil.

“Sekali kita menerima ide bahwa tutupan hutan menentukan turunnya hujan, akan ada sejumlah besar kebijakan yang perlu dibuat untuk mengakui nilai tersebut,” katanya.

“Ini juga membuka banyak potensi untuk mempertinggi hujan di daerah kering melalui penanaman hutan kembali. Tetapi kita perlu investasi usaha lebih besar dalam riset untuk melihat pengembangan dampak potensialnya.”

Bagi Makarieva dan Gorshkov, pelajaran bagi kebijakan hutan dari riset mereka sudah jelas.

“Seorang pembuat kebijakan harus langsung bereaksi terhadap pengetahuan baru ini… Anda mengelola salah satu jantung planet yang memutar sesuatu yang sangat dibutuhkan: yaitu air.”

“Jika kita menimbang pembuat kebijakan hutan yang ideal, sebuah karir bervisi besar bagi kebaikan manusia, pesannya tidak ambigu: habiskan waktu kerja untuk menghentikan deforestasi. Mulai perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.”

(Visited 171 times, 1 visits today)