Kolom DirJen

Pemikiran-pemikiran mengenai Laporan Kebijakan Pangan Global 2012

Sistem pangan harus dilihat sebagai bagian dari keberlanjutan. Bagaimana hutan dan lanskap berintegrasi dengan sistem pangan?
Bagikan
0
Jamur, di Berbak.
Jamur, di Berbak.

Paling popular

Saya senang membaca Laporan Kebijakan Pangan Global 2012, yang diterbitkan 14 Maret lalu oleh International Food Policy Insitute (IFPRI), salah satu mitra CIFOR dan CGIAR.

Laporan ini menggambarkan dengan baik bagaimana sistem pangan harus dilihat sebagai bagian dari keberlanjutan keselarasan, dan sebaliknya bagaimana hutan dan lanskap lebih luas perlu berintegrasi dengan sistem pangan.

Artikel utama, Walk the Talk, oleh Direktur Jenderal IFPRI, Dr. Shenggen Fan, menggiring saya untuk membuat beberapa catatan dengan tambahan pendapat di bawah ini.

  • Tidak ada komitmen-komitmen politik yang lemah soal pangan dan tata ruang lahan saat ini. Rio+20 telah menyuarakan tentang nol kelaparan dan nol degradasi lahan. G20 dan G8 telah menyoroti kebutuhan investasi di bidang pertanian dan nutrisi. Jadi bagaimana kita menerapkan komitmen-komitmen ini dan bagaimana kita mengukur kemajuan?
  • Terdapat ekspektasi tinggi akan apa yang kita sebut sebagai “ekonomi hijau”. Titik pusat aspirasi ini yaitu “bioekonomi” yang mengintegrasikan kontribusi dari sektor berbasis lahan untuk pertumbuhan hijau inklusif sebagai komponen kunci dari pembangunan berkelanjutan. Di sini terletak peluang besar bagi ekonomi pedesaan, termasuk kehutanan, dan masyarakat miskin pedesaan di seluruh dunia—menyediakan akses modal dan pengembangan pasar, dengan kondisi relevan terhadap keberlanjutan hasil semua itu. Tetapi kita tampaknya lemah dalam peta jalan kebijakan. Haruskah kita melihat pada proses SDG (sustainable development goals) untuk mengatasi ini?
  • Laporan ini menyoroti kebutuhan untuk berpindah dari pengukuran kuantitatif keamanan pangan yang berbasis umlah asupan kalori kepada pengukuran yang memasukan aspek kualitatif nutrisi. Pengukuran kalori dapat secara keliru memperlihatkan kebutuhan nutrisi yang penting serta mengecilkan peluang kehutanan berkontribusi pada nutrisi. Selain itu, terdapat risiko bahwa kebijakan pertanian yang berorientasi kalori bisa tidak terarah kepada tata kelola terbaik sumber daya alam.
  • Harga makanan terus menjadi faktor utama dalam kebijakan politik keamanan pangan, tetapi kita harus waspada terhadap perilaku proteksionis yang bisa meningkat dan bagaimana hal itu bisa mempengaruhi keberlanjutan tujuan-tujuan. Dalam jangka pendek, menjaga harga pangan tetap rendah bisa membantu pangan terbeli, tetapi implikasi pada kehidupan petani dan bagaimana sumber daya alam dikelola juga mungkin signifikan.
  • Kita mulai melihat sebuah fokus yang lebih jauh yang telah lama ditunggu, yaitu isu jender dalam pertanian dan ekonomi pedesaan.
  • Saya setuju dengan Dr. Fan, bahwa kita perlu lebih banyak informasi dan bukti mengenai jender yang tersebar untuk memastikan bahwa kebijakan-kebijakan seperti ini menjadi arus utama.
  • Kita harus memperhatikan mega-tren dan pendorong jangka panjang. Salah satunya adalah urbanisasi dan dampak dari peningkatan daya beli pada pola konsumsi, selain itu bagaimana daya tarik pertanian sebagai profesi. Pertanian dan kehutanan harus menguntungkan dan dinamis untuk menarik anak muda.
  • Pendorong besar lain adalah irisan antara pertanian dan kehutanan dengan produksi dan konsumsi energi. Dengan 30 persen energi dikonsumsi oleh sistem pangan, dan 10 persen keseluruhan energi disediakan dari biomassa terbarukan, kebutuhan dan ekspektasi energi dari sektor berbasis lahan akan menjadi topik kunci bagi keberlanjutan dan keamanan pangan.

Saya sangat merekomendasikan Anda membaca laporan lengkapnya!

(Visited 85 times, 1 visits today)
Topik :   Tujuan Pembangunan Berkelanjutan