Kolom DirJen

Mempertahankan identitas hutan di tengah tantangan global

Sejumlah panelis hanya berbicara soal deforestasi, manajemen karbon, dan perdagangan karbon. Sebatas inikah yang dipahami soal kehutanan?
Bagikan
0
Kehutanan harus tetap relevan dengan gambar besar. Yayan Indriatmoko, Mokhamad Edliadi and Douglas Sheil
Kehutanan harus tetap relevan dengan gambar besar. Yayan Indriatmoko, Mokhamad Edliadi and Douglas Sheil

Paling popular

Kita tampaknya mempunyai perdebatan baru dalam lingkup kehutanan internasional menyusul inisiatif terbaru untuk mengadakan forum global tentang bentang alam pada pertemuan COP UNFCC 2013 di Warsawa.

Sebagian besar reaksi atas upaya kita menyatukan hari hutan dan pertanian ternyata amat positif dan suportif.. Menciptakan aliansi antara kehutanan dan pertanian merupakan langkah berani, dan ternyata mendapat apresiasi luas. Seperti kita, para pendukung langkah ini memahami bahwa melanjutkan pendekatan sektoral yang terisolasi di tiap sisi di dalam garis pemisah dalam wilayah bentang alam secara umum tidaklah efektif; solusi untuk masa depan berkelanjutan dengan pertumbuhan hijau harus dilakukan secara bekerjasama, bukan sendiri-sendiri. Mitra kita di CGIAR dan lainnya yang berbagi pandangan ini, berdiri di belakang pendekatan bentang alam.

Namun kita juga mendengar beberapa argumen menentang pendekatan ini. Guna merangkul peluang kerjasama dengan mitra pertanian, sebagian berpikir bahwa kita menempatkan resiko akan jati diri hutan. Mereka percaya bahwa kehutanan akan disibukkan dengan sektor besar dan kepentingan lain, seperti peternakan dan ketahanan pangan.

Tampaknya juga debat internasional masalah hutan lebih semakin menyempit.. Saya baru-baru saja mendapat kehormatan untuk tampil sebagai pembicara utama di World Forests Summit, sebuah konferensi istimewa yang diadakan oleh the Economist di Stockholm, 5-6 Maret. Tetapi di tengah konferensi, sejumlah panelis hanya berbicara soal deforestasi, manajemen karbon hutan, dan perdagangan karbon, hingga saya berpikir—“inikah yang dipahami soal kehutanan?” Walaupun tidak sengaja, masukan mereka tidak merefleksikan kata-kata bijak dari HRH Prince of Wales, yang dalam pidato pembukaannya mendorong pendekatan bentang alam lebih luas untuk menjawab tantangan global yang di dalamnya terkait soal kehutanan.

Jadi saya bertanya: sejak kapan kehutanan mulai turun mengarah protektif? Mengapa hanya sebagian saja isu berkaitan kehutanan yang muncul di debat internasional? Mengapa hubungan kehutanan dengan banyak sekali tantangan pembangunan—kemiskinan, ketahanan pangan, kesehatan, pertumbuhan hijau—tidak hadir dalam debat? Saya tidak mengklaim mempunyai jawaban akan semua itu. Namun, ada pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya ditanyakan kembali saat kita menyusun prioritas penelitian dan pengembangan kehutanan.

Mempertimbangkan hasil UNCED 1992. Sebagai penguatan dalam membangun proses utama PBB untuk pembangunan berkelanjutan, pertemuan itu merupakan tempat lahir tiga Konvensi Rio mengenai Perubahan Iklim, Keragaman Hayati dan Desertifikasi. Kita juga sadar betapa tinggi posisi konvensi ini dalam 20 tahun terakhir, dan dampaknya pada agenda keberlanjutan baik di tingkat nasional maupun global dalam proses antar-pemerintahan seperti G20. Komunitas kehutanan juga memiliki harapan besar ada sebuah konvensi yang  mengarah pada UNCED 1992, walaupun kemudian hanya mendapatkan Prinsip-Prinsip Kehutanan (Forestry Principles) yang tidak mengikat. Tidak seperti sepupunya, yaitu Perubahan Iklim, Keragaman Hayati dan Desertifikasi, kehutanan tidak terlalu dinilai sebagai isu antar-pemerintah, tetapi hanya masalah kedaulatan nasional atau prioritas local. Jadi, tidak ada konvensi.

Mengapa hubungan antara kehutanan dan tantangan inti pembangunan begitu banyak- kemiskinan, ketahanan pangan, kesehatan, dan pertumbuhan hijau – sehingga absen dalam perdebatan?

Sejak saat itu, kehutanan internasional berjuang dengan status non-konvensi, selamanya dikenali sebagai isu sampingan dalam proses mirip yang digambarkan Unasylva pada edisi Global conventions related to forests. Malah, Forum PBB mengenai Hutan UNFF, menjadi semacam pengganti dari konvensi hutan. Inisiatif spesifik-kehutanan internasional  lain, seperti  criteria and indicators for sustainable forest management, rencana aksi kehutanan tropis, Collaborative Partnership on Forests, komisi regional kehutanan FAO dan Committee on Forestry, serta sebuah keputusan pada 2011 untuk mendirikan European forest convention, semuanya beroperasi terkait dengan kebangkitan UNCED 1992, tetapi tanpa pencapaian perhatian politis yang sama seperti Konvensi Rio, dan seringkali dengan perspektif kehutanan.

Kemudian datang REDD. Hampir seperti sebuah terapi kejut, COP13 in Bali pada tahun 2007 sepakat untuk mengambil langkah maju mengurangi emisi dari (yang paling utama) deforestasi, dan negara donor meletakkan sejumlah uang di atas meja untuk memulai proses. Belum pernah sebelumnya, miliaran dollar dari negara donor dimungkinkan untuk kemanfaatan kehutanan internasional. Belum pernah sebelumnya begitu banyak pemimpin negara berbicara dengan hangat soal kehutanan.

Secara tradisional institusi kehutanan memiliki reaksi campur aduk—karena ini muncul dari Konvensi Rio dan bukan dari proses kehutanan manapun—tetapi mereka terbangun dengan realitas finansial dan politik baru. Sebuah realitas yang kini mendominasi kehutanan internasional selama separuh dekade dan memicu investasi dalam riset dan pengembangan kapasitas kehutanan di seluruh dunia. Tidak heran banyak pembicara kehutanan kini berbicara mengenai perdagangan karbon daripada investasi pemotongan kayu.

Semua menjadi alasan kita bersyukur atas perhatian pada hutan dan perubahan iklim serta peluang finansial dan politik yang dibawanya.

Tetapi juga jadi perlu waktu untuk mengaitkan kembali hutan dan kehutanan ke dalam agenda pembangunan lebih luas. Dengan pikiran dipenuhi agenda hutan dan perubahan iklim dalam pikiran, mengedepankan argumen pendekatan bentang alam menjadi suara sayup-sayup, tanpa janji pendanaan yang sesuai, hanya sekedar prospek berbagi panggung dengan pertanian—sebuah sektor yang diyakini, dalam sebagian lingkup kehutanan, bisa mengabaikan banyak isu kehutanan.

Memperkenalkan pendekatan lanskap untuk kehutanan bukanlah baru, juga tidak mengancam identitas hutan

Bagaimanapun, dengan semacam fokus melihat ke dalam sektor kehutanan internasional dalam beberapa dekade terakhir, kita tampaknya kehilangan pandangan terhadap harapan untuk melihat gambar lebih besar: pengurangan kemiskinan, ketahanan pangan, kesehatan, pertumbuhan hijau, dan menghadapi perubahan iklim, serta bagaimana kehutanan dapat berkontribusi pada semua ini.

Melihat ke belakang, sangat berguna untuk mengingat bahwa Tahun Internasional Hutan Dunia (1985 International Year of the Forest) memiliki ketahanan pangan sebagai tema. Kongres kehutanan dunia (1972 World Forestry Congress) difokuskan pada kehutanan dan pembangunan sosio-ekonomi. Dalam terbitan pertama (very first Unasylva in 1947), rujukan kitab suci menggambarkan hilangnya hutan cedar di Lebanon, dan menghilangnya pula “…taman air mancur, sumur kehidupan, dan sungai-sungai.”

Akhir-akhir ini, salah satu rekomendasi dari Forest Day 2 di Poznan 2008 adalah bahwa kita seharusnya “memperhitungkan kondisi lokal dan mengintegrasikan pendekatan bentang alam dan ekosistem untuk memfasilitasi kemanfaatan sosial dan lingkungan yang lebih besar”.

Dari perspektif CIFOR, saya meyakinkan Anda bahwa kami terus membangun identitas dan basis pengetahuan kehutanan seperti yang telah kami lakukan selama 20 tahun terakhir. Setiap hari, para ilmuwan dan mitra penelitian serta para pemberi rekomendasi kebijakan membantu memastikan pembangunan berkelanjutan hutan dunia, menjaga keragaman hayati yang hutan miliki, karbon yang hutan simpan, serta melindungi kehidupan dan budaya masyarakat yang bergantung pada hutan. Memasuki 20 tahun berikutnya, kami akan memastikan bahwa kehutanan tetap relevan dengan gambaran lebih besar dan audiens lebih luas.

Jadi, memperkenalkan pendekatan lanskap pada kehutanan bukan hal baru, tidak pula mengancam identitas kehutanan. Hal ini dilakukan untuk lebih membantu membangun dan menjaga identitas kehutanan dengan menempatkan kehutanan kembali pada tempat sejatinya: dalam sebuah lanskap keruangan, bersama dengan pertanian—mitra dalam menciptakan masa depan berkelanjutan.

(Visited 635 times, 1 visits today)
Topik :   Bentang alam