Berita

Bahan pangan asal hutan semestinya dimanfaatkan untuk melawan malnutrisi global– Peneliti

Fokus kebijakan perlu digeser ke arah penyediaan lebih banyak nutrien ketimbang kalori.
Bagikan
0
Dibutuhkan riset lebih lanjut tentang komposisi nutrisi bahan pangan dari hutan dibandingkan dengan makanan lain.
Dibutuhkan riset lebih lanjut tentang komposisi nutrisi bahan pangan dari hutan dibandingkan dengan makanan lain.

Paling popular

Africa - Bogor, Indonesia (12 April 2013)_Bahan pangan asal hutan yang kaya nutrisi dapat berperan penting dalam upaya menyediakan sumber makanan penduduk dunia jika diidentifikasi dalam strategi nutrisi nasional dan lebih mudah dijangkau, menurut sebuah riset ilmiah terbaru.

Berkah dari hutan, termasuk burung liar, hewan pengerat, dan hewan-hewan lebih besar, selain juga dedaunan, akar-akaran, umbi-umbian, buah-buahan, jamur dan kacang-kacangan dapat membantu memastikan ketahanan pangan bagi mereka yang masih mengalami malnutrisi – angka yang terus meningkat di tengah upaya-upaya internasional yang dilakukan, ujar Bronwen Powell, seorang peneliti  dari Center for International Research (CIFOR), dalam Hari Kesehatan Dunia.

Kebanyakan pembuat kebijakan hanya berfokus pada budidaya pertanian tanaman pokok penghasil karbohidrat seperti jagung dan beras untuk melawan kerawanan pangan. Sayangnya, pendekatan ini gagal mengatasi kenyataan bahwa saat ini jumlah penduduk yang kekurangan mikronutrien berlipat ganda ketimbang estimasi jumlah penduduk yang kelaparan.

Secara global, sekitar  870 juta jiwa kekurangan bahan pangan, dan lebih dari  dua miliar jiwa menderita kekurangan mikronutrien, berdasar laporan badan PBB yang menangani masalah pangan.

Perubahan iklim, peningkatan urbanisasi dan tingginya harga pangan juga harus ditangani, lanjut Powell.

“Di saat hanya sedikit masyarakat dunia yang kini bergantung pada bahan pangan hutan untuk melengkapi menu makanannya, hutan serta bahan pangan yang berasal dari satwa liar dapat  membantu mempertahankan nutrisi rumah tangga selama musim paceklik, sebagai pelengkap bahan pangan pokok musiman,” terang Powell.

“Bahan pangan ini jarang yang memiliki persentase kalori tinggi, namun sangat penting sebagai sumber mikronutrien semisal vitamin A, zat besi dan kalsium.”

Selain itu, makanan dengan gizi seimbang dapat membantu melawan tekanan darah tinggi – yang menjadi fokus dalam Hari Kesehatan Dunia 2013. Penyakit ini diderita oleh satu di antara tiga remaja di dunia dan mengakibatkan sekitar setengah dari total angka kematian karena penyakit stroke dan serangan jantung, berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Kami ingin menggeser fokus kebijakan ke arah penyediaan lebih banyak nutrien ketimbang kalori, dan ini bisa dipenuhi oleh bahan pangan dari hutan,” jelas Powell.

Telah ada sekitar 1,6 juta penduduk dunia yang bergantung pada hutan untuk memenuhi penghidupan mereka yang meliputi sekitar 30% permukaan bumi, berdasar data dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Konferensi Internasional tentang Hutan untuk Ketahanan Pangan dan Nutrisi yang akan diadakan oleh FAO di Roma akan membahas lebih lanjut tentang pentingnya peran hutan dalam kehidupan masyarakat perdesaan dan perekonomian global.

Sumber bahan pangan hutan juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan, kata Powell, menunjuk pada sebuah riset global yang dilakukan CIFOR. Riset tersebut menunjukkan bahwa pendapatan yang berasal dari hutan berkontribusi sekitar seperlima dari total pendapatan rumah tangga di perdesaan di 24 negara – jika uang tersebut dipergunakan secara bijak, bisa untuk  membeli makanan yang bergizi.

Daging satwa liar adalah sumber utama protein hewani di banyak negara tropis, menyediakan mikronutrien penting semisal zat besi, yang jarang didapatkan dari sumber nabati, ujar Powell. Ia  menambahkan bahwa dalam riset terbaru di Madagaskar menunjukkan jika tanpa daging satwa liar, 30% lebih anak-anak akan menderita kekurangan zat besi.

“Bahan pangan dari hutan dapat menjadi semacam obat mujarab bagi masalah global terkait ketahanan pangan dan nutrisi, dan di konteks geografis tertentu bahkan mampu berperan sangat penting,” terang Barbara Vinceti, seorang peneliti di Bioversity International. Ia menambahkan bahwa meski masih belum dimaksimalkan, ketersediaan bahan makanan yang kaya akan mikronutrien secara lokal mungkin lebih terjangkau dan berpotensi untuk diterima dibanding pilihan lain.

“Terjadi peningkatan ketertarikan akan pemanfaatan bahan pangan dari tumbuhan dan pepohonan adat atau tradisional untuk memenuhi  kebutuhan nutrien yang tinggi bagi balita dan anak-anak, yang kebanyakan makanannya berupa sereal dan umbi-umbian,” ujarnya, mencontohkan semacam bumbu yang difermentasikan dari biji soumbala (Parkiabiglobosa) yang kaya akan zat besi di Afrika Barat dan dimanfaatkan sebagai pengganti daging yang murah bagi keluarga.

Riset lebih lanjut mengenai komposisi nutrisi bahan pangan dari hutan dibandingkan dengan makanan lain memang dibutuhkan, kata Powell. Ia menambahkan perlunya lebih banyak lagi pengetahuan untuk memastikan keberlanjutan dan perlindungannya mengantisipasi pemanenan yang berlebihan.

Pemerintah, organisasi nonpemerintah (NGO), sekolah, rumah sakit, dan puskesmas dapat pula membantu dengan mendukung sumber makanan dari hutan lewat informasi pemanfaatan secara bertanggung jawab dan terkoordinasi.

“Pembentukan platform kebijakan nutrisi lintas  sektor-sektor lain seperti lingkungan hidup, kesehatan, pembangunan, pertanian dan konservasi akan memastikan lebih banyaknya dukungan untuk memasukkan bahan pangan dari hutan ke dalam program nutrisi tingkat nasional,” terang Vinceti.

Beberapa faktor mungkin akan dianggap bertanggung jawab atas terabaikan dan kurangnya pemanfaatan bahan pangan adat – termasuk bahan pangan hutan – yang tentu saja tergantung pada konteksnya.

“Hal tersebut diantaranya karena persepsi budaya, sedikitnya ketersediaan barang yang berakibat pada habisnya sumber daya, berkurangnya waktu untuk berburu bahan pangan liar karena perubahan pembagian suplai pekerja rumah tangga, meningkatnya tekanan bagi waktu kaum perempuan, kecilnya pengetahuan tentang bahan pangan hutan dan sedikitnya kesempatan untuk mengkomersialkan  produksi ini,” pungkas Vinceti.

Kegiatan ini adalah bagian dari Program Penelitian CGIAR tentang Hutan, Pohon dan Wanatani dan didukung oleh proyek global GEF/UNEP/FAO tentang Keanekaragaman Pangan dan Nutrisi.

(Visited 337 times, 1 visits today)
Topik :   Jender Daging satwa liar