Analisis

Hari Kesehatan Dunia 2013: Melawan malnutrisi dan infeksi bersama hutan

Sulit mengatasi malnutrisi tanpa kombinasi pengembangan pola makan dan pengurangan tingkat infeksi. Hutan bisa jadi jawaban.
Bagikan
0
Seorang Ibu mempersiapkan makanan dari jamur liar yang diambil dari hutan di negara Zambia. CIFOR/Fiona Paumgarten
Seorang Ibu mempersiapkan makanan dari jamur liar yang diambil dari hutan di negara Zambia. CIFOR/Fiona Paumgarten

Paling popular

Africa - Bogor, Indonesia (12 April 2013)_ Hari Kesehatan Dunia adalah saat ketika – saya sebagai seorang ahli gizi – berpikir tentang hubungan antara gizi dengan infeksi.

Prakiraan terkini menyatakan bahwa 30% kematian anak secara global berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan malnutrisi. Ini dikarenakan infeksi dan malnutrisi saling terkait satu sama lain: malnutrisi mengurangi fungsi kekebalan dan meningkatkan risiko infeksi (misal: kekurangan vitamin A meningkatkan risiko diare dan infeksi saluran pernafasan) – sementara infeksi membutuhkan asupan nutrisi dan risikonya adalah malnutrisi (misal: parasit malaria akan menghancurkan sel darah merah dan berakibat kekurangan zat besi)

Hutan berkontribusi terhadap nutrisi serta kesehatan dan penyakit manusia. Hutan memasok sekitar 75% air yang digunakan secara global dengan menyediakan jasa ekosistem penyimpanan dan peresapan. Di lingkungan masyarakat miskin yang tidak memiliki air minum yang bersih, hampir setiap anak dapat terinfeksi oleh parasit usus dan terkena diare yang meningkatkan risiko menjadi anemia dan bertubuh kerdil.

Perubahan tata guna lahan dan tutupan hutan juga berhubungan dengan perubahan tingkat penyebaran malaria. Di daerah Amazon Peru, areal dengan deforestasi yang tinggi juga memiliki delapan kali lebih tinggi tingkat gigitan nyamuk malarianya dibandingkan lokasi lain dengan tingkat deforestasi lebih rendah.

Hal ini dikarenakan perubahan bentang alam yang dilakukan manusia dimana air genangan (gorong-gorong jalan, galian tambang, dan areal dengan pembersihan seadanya) menjadi tempat subur hidupnya nyamuk pembawa penyakit malaria. Sebuah riset dari Brasil menunjukkan bahwa 4,3% perubahan tutupan hutan berhubungan dengan hampir 50% lebih tingginya kasus malaria.

Hutan serta pepohonan juga menjadi sumber daya yang sangat penting untuk kayu bakar. Sebuah kajian yang dilakukan staf CIFOR meneliti bagaimana kelangkaan bahan bakar kayu dapat menimbulkan risiko multipel terhadap kesehatan kaum perempuan: asap dari jenis kayu bakar yang seadanya dapat memunculkan risiko yang tinggi bagi gangguan kesehatan pada pernapasan. Selain itu, kaum perempuan jadi memiliki sedikit waktu untuk memperoleh dan menyiapkan makanan yang sehat jika mereka harus pergi jauh hanya untuk mencari kayu bakar.

Dari perbandingan sisi ketahanan pangan dan nutrisi, bahan pangan dari satwa liar yang diperoleh dari hutan dan peternakan dengan tutupan hutan (seperti lahan bera dan wanatani), kebanyakan termasuk buah-buahan, sayuran dan daging satwa semak adalah sumber yang bagus untuk vitamin A dan zat besi.

Di Tanzania kami menemukan fakta jika anak-anak yang mengkonsumsi daging satwa liar dari hutan memiliki pola makan yang beragam dan bergizi. Meskipun daging satwa liar hanya berkontribusi 2% dari total asupan kalori  anak-anak, namun berperan bagi lebih dari 30% vitamin A dan lebih dari 20% zat besi yang dikonsumsi anak-anak setiap harinya (Powell, dkk. sedang dalam penerbitan).

Daging satwa semak berperan penting dalam pola makan banyak penduduk yang tinggal di wilayah negara berkembang. Daging ini penting tidak hanya sebagai sumber protein tetapi juga sumber zat besi dan mikronutrien lain yang penting bagi kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan (dibanding dari tumbuhan, zat besi dari daging lebih mudah diserap).

Riset terbaru dari Madagaskar menunjukkan bahwa tanpa akses mendapatkan daging satwa semak, sekitar 30% anak-anak akan menderita anemia.

Jelas terbukti bahwa kita tidak dapat mengatasi malnutrisi global dan kekurangan mikronutrien tanpa kombinasi pengembangan pola makan dan pengurangan tingkat infeksi.

Tahun ini, Hari Kesehatan Dunia difokuskan pada kasus tekanan darah tinggi, penyakit yang berkaitan erat dengan pola makan dan berat badan. Hutan mungkin juga bisa membantu mengatasi tekanan darah tinggi.

Penelitian baru CIFOR kini berusaha mencari tahu peran hutan untuk memastikan akses terhadap tercukupinya konsumsi buah dan sayuran.

Meningkatkan konsumsi buah dan sayuran tidak hanya penting untuk memenuhi mikronutrien tertentu seperti Vit A, namun juga berhubungan dengan penurunan tekanan darah. Simak hasil penelitian kami tentang hutan untuk ketahanan pangan dan malnutrisi yang akan segera terbit.

Penelitian CIFOR tentang hutan dan nutrisi adalah bagian dari Program CGIAR tentang Hutan, Pohon dan Wanatani dan didukung oleh UK Department for International Development (DFID) dan The Austrian Development Agency.  

(Visited 351 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi Bentang alam Jender Daging satwa liar