Analisis

Bisakah perempuan desa memiliki semua itu? Pentingnya suara “perempuan elit” bagi kaum tertindas

Dari sudut pandang keseimbangan antara kehidupan dan kerja, tidak ada beda antara keadaan darurat perempuan desa dengan perempuan kota?
Bagikan
0
Perempuan yang tinggal di dalam hutan di Indonesia dilihat lebih baik daripada pria dalam merawat sumber daya keluarga. Mereka dengan demikian erat terlibat dalam upaya keluarga untuk mendapatkan, mempertahankan, dan kadang-kadang menyembunyikan kekayaan. CIFOR/Tim Cronin
Perempuan yang tinggal di dalam hutan di Indonesia dilihat lebih baik daripada pria dalam merawat sumber daya keluarga. Mereka dengan demikian erat terlibat dalam upaya keluarga untuk mendapatkan, mempertahankan, dan kadang-kadang menyembunyikan kekayaan. CIFOR/Tim Cronin

Paling popular

Indonesia - Dalam beberapa bulan terakhir, dua tulisan terbaru “gelombang feminis ketiga” dari Anne-Marie Slaughter dalam Why Women Still Can’t Have it All dan Sheryl Sandberg dalam Lean In: Women, Work and the Will to Lead telah menjadi topik pembicaraan kota. Kritikus berpendapat bahwa “perempuan elit” terlalu khawatir akan hal-hal yang bisa mempengaruhi diri mereka, seperti —kepuasan pribadi, gengsi, kenyamanan—dan agaknya mengesampingkan isu keadilan sosial.

Secara spesifik, kritikus tidak puas terhadap Slaughter dan Sandberg terkait kurangnya perhatian mereka atas sesuatu yang lebih fundamental, serta kelemahan struktural (mata pencaharian, upah yang adil, kondisi kerja) dari kalangan perempuan non-atas.

Namun demikian, suara-suara seperti “perempuan elit” ini telah mampu mengangkat permasalahan sebagai suatu diskusi dapat menjadi salah satu cara bagi perempuan penghuni hutan (dan kaum “non-elit” lainnya) untuk memperkuat upaya-upaya mendorong isu-isu terkait yang menjadi perhatian mereka. ” Perempuan elit” berbicara tentang perlunya bantuan dengan perawatan anak, pembagian yang lebih adil untuk pekerja rumah tangga, suara politik yang lebih kuat, dalam arti “memberi izin” kepada orang lain untuk membahas masalah ini yang juga menjadi perhatian pusat perempuan dalam berbagai keadaan.

Sebagai seorang antropolog yang telah tinggal dan bekerja dengan masyarakat desa di seluruh hutan dunia selama lebih dari 40 tahun, sejumlah besar pengamatan profesional saya tertuju kepada kehidupan perempuan di hutan tropis. Pengalaman tersebut telah meyakinkan saya bahwa perempuan-perempuan ini tidak jauh berbeda dari perempuan kalangan atas.

Para perempuan yang hidup di hutan memiliki kebanggaan atas kerja produktif mereka, dan dengan keinginan kuat mereka berjuang mereka agar dengan lebih baik merawat anak-anak mereka—apa yang kita sebut sebagai “keseimbangan antara kerja-kehidupan”. Selama lebih dari setahun, saya tinggal dengan Uma’ Jalan Kenyah, seorang perempuan Kenyah di pusat area terpencil Kalimantan. Ketika diperkenalkan kepada upaya kontrol terhadap kelahiran, mereka dengan sigap menangkap potensi untuk kelahiran ketika suami ada (para pria seringkali pergi untuk mencari uang), dan mengurangi waktu yang dihabiskan untuk merawat anak-anak mereka, sehingga membebaskan sementara waktu mereka untuk melakukan peran produktif mereka yang utama: yaitu memberikan keluarga mereka nasi. Pribadi mereka yang tertanam dalam peran ini dalam segala hal sejajar dengan peran elit perempuan Amerika dalam karir mereka.

Perempuan hutan mencari kesejahteraan dan wibawa—apa yang kita anggap “ambisi”. Perempuan di hutan-hutan di Indonesia dianggap lebih mampu memelihara sumber daya keluarga ketimbang pria. Oleh sebab itu, mereka erat terlibat dalam upaya-upaya keluarga untuk memperoleh, mempertahankan, dan terkadang menyimpan kekayaan. Di banyak wilayah sub-Sahara Afrika, perempuan dan pria dalam satu atap memiliki pendapatan yang terpisah, dan perempuan terlibat aktif dalam upaya mencari uang dengan menjual produk non-hutan dan hasil pertanian.

“Perempuan miskin” menginginkan pengetahuan, keintiman dan aktualisasi diri —sesuatu yang kita anggap “mempengaruhi”. Langkah yang dilakukan oleh perempuan Kenyah dalam memproduksi manik-manik indah jauh melampaui apa yang disyaratkan oleh praktik standar. Meskipun ada kebanggan bagi mereka yang membuat manik-manik dengan baik, namun jelas juga bahwa mereka bangga dalam kualitas pekerjaan mereka—sama seperti kita senang dalam upaya profesional atau pribadi kita sebagai unsur aktualisasi diri. Saya juga ingat seorang perempuan muda di hutan di Jambi, Sumatera, yang menangis saat dia menceritakan bagaimana orang tuanya telah membawanya keluar dari sekolah untuk menikah (meskipun dia mencintai suaminya), dia rindu untuk sekolah, untuk belajar. Dia bekerja dengan proyek CIFOR sebagai upaya memuaskan kerinduannya untuk belajar dan berkontribusi.

Perempuan hutan, sama seperti perempuan elit, memiliki resiko pekerjaan yang bersinggungan dengan tanggung jawab keluarga. Slaughter mengungkapkan bahwa ketika harus pulang terlambat dari kantor, maka ia membutuhkan baik pengaturan darurat pengasuhan anak sekaligus bertentangan dengan keinginannya untuk merawat anak-anaknya dengan baik. Bagi “perempuan miskin”, keadaan darurat kemungkinannya disebabkan oleh cuaca atau kondisi perang atau kesehatan yang buruk. Tapi keadaan darurat seperti itu tidak berarti tidak perlu mendapat perhatian sepenuh hati dari perempuan.

Ketika saya tinggal di Kalimantan, banjir hebat terjadi, merusak padi yang telah dikerjakan perempuan selama tiga bulan. Di saat mereka cemas karena usaha mereka lenyap dan khawatir akan masa depan mereka, mereka harus cepat mengumpulkan kayu yang mengambang karena banjir (untuk digunakan sebagai kayu bakar); dan dari perahu mereka, mereka mendayung dari batang padi yang terendam ke batang padi lainnya, mengumpulkan belalang yang dapat dimakan yang berhamburan pada apapun bulir padi yang tersisa. Seseorang —biasanya adalah orang tua atau anak-anak, penderita, yang lemah atau yang tidak terlatih untuk membantu dalam keadaan darurat—tetap diperlukan untuk menjaga anak-anak, mencuci pakaian dan menyiapkan makanan.

Dari sudut pandang keseimbangan antara kehidupan dan kerja, apa bedanya antara keadaan darurat tersebut dengan keadaan yang memaksa seorang elit perempuan untuk kembali ke kantor untuk sebuah rapat setelah jam kerja?

Salah satu perbedaannya ialah bahwa kondisi yang pertama disebutkan mungkin suatu pertaruhan antara hidup atau mati bagi individu atau keluarga. Sementara dalam kondisi yang terakhir, sebagaimana Sandberg mengutarakannya secara fasih, bisa menyuarakan perbedaan antara kebijakan yang merugikan dengan kebijakan yang membantu karyawan perempuan di perusahaan atau warga negara perempuan dalam suatu negara (tergantung pada skala mana elit perempuan berkontribusi).
Kesadaran elit perempuan terkait masalah yang mempengaruhi perempuan dapat berefek menular yang mempengaruhi (meskipun tidak selalu) banyak perempuan non-elit secara positif.

Tidak ada keraguan bahwa perhatian yang jauh lebih besar perlu difokuskan pada pembenahan struktur global untuk memperluas keadilan sosial (lihat cerita terbaru di Al-Jazeera dan USA Today). Selain membuat kehidupan mereka sendiri menjadi lebih baik, elit perempuan yang melek jender, perempuan dengan kekuasaan, dapat membawa efek positif pada lingkungan kerja, gaji dan “keseimbangan antara kehidupan dan kerja” bagi perempuan (dan pria) yang dipengaruhi oleh kebijakan yang mereka rumuskan.

Ketidakadilan global yang terjadi terang-terangan adalah sebuah parodi dan secara historis pasti akan terlihat sebagai noda di era kita. Tetapi ada satu cara untuk mulai mengatasi ketidakadilan ini yakni dengan menganalisis kontribusi kita masing-masing terhadap ketidakadilan jender—sebagaimana Sandberg dan Slaughter telah lakukan dengan cukup lantang—dan dengan mengkomunikasikannya sehingga orang lain akan mulai mempertimbangkannya dan belajar dan mulai bertindak berbeda.

Dengan demikian, suara-suara “perempuan elit ” seperti Sandberg dan Slaughter dapat berkontribusi untuk mengatasi keadilan sosial, meskipun mereka tidak dengan sengaja menargetkan masalah tersebut.

(Visited 193 times, 1 visits today)
Topik :   Jender