Berita

Ilmuwan membidik peran kunci hutan dalam perang melawan “kelaparan tersembunyi”

Lebih dari 2 miliar orang menderita defisiensi mikronutrisi, atau “kelaparan tersembunyi”. Bagaimana hutan bisa menjawab masalah ini?
Bagikan
0
Data PBB mengindikasikan peningkatan populasi global dari 7 miliar menjadi 9 miliar lebih tahun 2050, yang makin mendorong tingginya angka deforestasi di wilayah tropis dan memperparah ancaman kesehatan. CIFOR/Olivier Girard
Data PBB mengindikasikan peningkatan populasi global dari 7 miliar menjadi 9 miliar lebih tahun 2050, yang makin mendorong tingginya angka deforestasi di wilayah tropis dan memperparah ancaman kesehatan. CIFOR/Olivier Girard

Paling popular

Africa - ROMA, Italia (28 Mei 2013) – Pandangan bahwa meningkatkan produksi pertanian adalah strategi untuk mendapatkan situasi keamanan pangan global, kenyataannya membuat lahan pertanian menggerogoti ekosistem yang berharga, menimbulkan dampak kerusakan hutan dan malah tidak menyelesaikan keamanan pangan dan masalah nutrisi, kata para ilmuwan.

Riset lanjutan perlu dilakukan untuk memahami dampak menyeluruh hutan dan sistem pertanian berbasis pohon pada sistem diet dan kebutuhan nutrisi untuk sedikitnya 1 miliar orang yang kehidupannya dipengaruhi langsung oleh hutan, demikian dikatakan para ilmuwan dalam makalah diskusi yang dirilis pada saat Konferensi Internasional mengenai Hutan untuk Keamanan Pangan dan Nutrisi yang digelar Organisasi Makanan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization/FAO) di Roma.

“Penggenjotan besar-besaran produksi pertanian seiring meningkatnya populasi dunia dapat menggerogoti sumber makanan bernutrisi yang ditemukan di hutan,” kata Terry Sunderland, ilmuwan di Center for International Forestry Research (CIFOR) dan salah seorang penulis laporan mengenai keamanan pangan, nutrisi dan peran hutan tersebut.

“Ini bukan soal produksi, ini soal kesetaraan, penyebaran, daya beli dan limbah makanan,” katanya mengutip laporan Randy Stringer, profesor di Universitas Adelaide yang sangat berpengaruh, ketika pada tahun 2000 ia menyatakan bahwa dunia memproduksi makanan yang cukup untuk semua.

Data PBB mengindikasikan bahwa populasi global akan meningkat dari 7 miliar menjadi lebih dari 9 miliar pada 2050, makin mendorong tingginya angka deforestasi dan memperparah ancaman kesehatan.

Pada 2012, badan PBB yang menangani pangan memperkirakan bahwa sedikitnya 870 juta orang kelaparan—angka yang diturunkan dari tahun sebelumnya—dan lebih dari 2 miliar menderita defisiensi mikronutrisi, atau “kelaparan tersembunyi.”

Sedikitnya 1,4 miliar orang mengalami kegemukan, kelebihan berat badan, banyak yang menderita penyakit tak menular terkait seperti diabetes dan masalah jantung.

Makanan di Hutan

Makanan dari hutan, termasuk burung liar, binatang pengerat, dan binatang lebih besar, seperti juga daun, batang, buah, jamur dan kacang-kacangan adalah sumber mikronutrisi bagi banyak masyarakat pedesaan.

Bukti yang muncul di Afrika mengindikasikan masyarakat yang tinggal di wilayah dengan tutupan pohon lebat makan lebih banyak buah dan sayuran, menurut hasil penelitian CIFOR. Masyarakat juga kembali ke hutan untuk mencari makanan ketika produksi sistem pertanian rendah, kata Sunderland.

Konsumsi makanan hutan kaya zat besi seperti sayuran dan daging hewan liar dapat membantu memerangi defisiensi zat besi, yang mempengaruhi 2 miliar orang, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan kognitif, secara negatif mempengaruhi prestasi sekolah dan produktivitas kerja.

Banyak buah dan sayuran didapat dari hutan dan area liar sangat kaya kandungan vitamin A dan kalsium, membantu melawan defisiensi vitamin A, yang menurut WHO menyebabkan sekitar 250 ribu hingga 500 ribu anak menjadi buta setiap tahun, separuh dari mereka menderita selama 12 bulan sebelum kehilangan penglihatan.

“Memanfaatkan sistem alami, bahkan masyarakat miskin bisa mendapatkan diet yang baik,” kata Sunderland, mengutip studi terbaru ilmuwan CIFOR yang mengatakan bahwa makanan dari peternakan hutan di Tanzania menyumbangkan 31 persen vitamin A, 26 persen zat besi dan 23 persen kalsium terhadap diet setempat.

“Kita selalu menganggap masyarakat miskin memiliki diet buruk, tetapi kenyataannya Anda tidak harus kaya untuk mendapatkan diet bagus dan gaya hidup sehat.”

Penggerogotan Pertanian

Sekitar 100 hingga 110 persen peningkatan permintaan hasil pertanian dunia dari 2005 hingga 2050 akan menghasilkan konversi sekitar 1 miliar hektare (2,5 miliar akre) lahan untuk pertanian, menurut laporan 2011.

Sebagian besar perluasan pertanian yang diduga mengorbankan hutan dan wilayah berpohon lainnya, terjadi akibat pandangan bahwa meningkatkan produksi makanan harus dilakukan tanpa mempedulikan pertimbangan kerugian lingkungan alami. Pendekatan ini mengabaikan kegagalan dalam sistim suplai makanan yang ada, termasuk konsumsi berlebihan, limbah, kehilangan pasca-panen dan distribusi tak merata.

“Tidak ada solusi hitam-putih,” kata Sunderland.

“Kita memiliki sejumlah cara yang dapat berkontribusi pada keamanan pangan—mengintegrasikan hutan dan pohon ke dalam pertanian adalah salah satunya. Pohon dan hutan memainkan peran penting dalam mendukung pertanian.”

Riset lanjutan akan membantu ilmuwan mendapat pemahaman lebih baik tentang bagaimana hutan dapat berkontribusi bagi keamanan pangan dan masa depan yang sensitif-nutrisi, sebuah projek vital untuk meminimalkan pertukaran antara konservasi keragaman dan pertanian berkelanjutan, tambahnya.

Hasil kerja ini merupakan bagian dari Program Riset CGIAR tentang Hutan, Tanaman dan Agroforestri

Kontak ilmuwan: Terry Sunderland, Bronwen Powell.

(Visited 125 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi Pertanian ramah hutan Daging satwa liar