Berita

Serangga layak makan meningkatkan diet dan penghidupan 2 miliar manusia – ilmuwan

Serangga kaya kandungan zinc, besi dan lemak untuk meningkatkan diet dan pemanfaatan lahan. Apa masalahnya?
Bagikan
0
Lebih dari 1.900 spesies serangga menjadi bagian dari diet tradisional bagi sedikitnya 2 miliar orang, sumber makanan bergizi tinggi dengan kandungan protein, vitamin, serat dan mineral, kata ilmuwan. CIAT/ Neil Palmer
Lebih dari 1.900 spesies serangga menjadi bagian dari diet tradisional bagi sedikitnya 2 miliar orang, sumber makanan bergizi tinggi dengan kandungan protein, vitamin, serat dan mineral, kata ilmuwan. CIAT/ Neil Palmer

Paling popular

ROMA, Italia (28 Mei 2013) – Lebih dari 1.900 spesies serangga menjadi bagian dari diet tradisional bagi sedikitnya 2 miliar manusia,  sumber makanan bernutrisi tinggi dalam kandungan protein, vitamin, serat dan mineral, demikian dikatakan para ilmuwan dalam sebuah laporan baru.

Di negara berkembang, sebagian warga masyarakat termiskin—seringkali wanita dan masyarakat tak memiliki lahan—dapat dengan mudah, memanen dan menjual serangga, meningkatkan diet mereka dan memberi pemasukan, demikian laporan berjudul “Serangga Layak Makan: Prospek Masa Depan untuk Makanan dan Keamanan Pangan”, dirilis pada konferensi Hutan untuk Keamanan Pangan dan Nutrisi yang digelar Organisasi Makanan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Roma, beberapa waktu lalu.

Serangga kaya kandungan zinc, besi dan lemak, dapat dipanen secara berkelanjutan untuk meningkatkan diet dan pemanfaatan lahan, kata salah seorang penulis, Arnold van Huis, profesor entomology di Universitas Wageningen di Wageningen, Belanda.

“Saat ini, 70 persen lahan pertanian di dunia digunakan untuk ternak, termasuk memproduksi pakan, dan kita perlu lebih sedikit lahan jika kita menernakkan serangga, mereka juga menghasilkan lebih sedikit gas rumah kaca,” katanya.

Data PBB mengindikasikan bahwa populasi dunia akan meningkat dari 7 miliar menjadi lebih dari 9 miliar pada 2050, memperbesar tekanan pada hutan—yang saat ini menghadapi tingginya kecepatan deforestasi di wilayah tropis—dan meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pangan.

“Penggenjotan besar-besaran produksi pertanian bisa menggerogoti sumber nutrisi yang ditemukan di hutan,” kata Terry Sunderland, ilmuwan di Center for International Forestry Research (CIFOR) dan salah seorang penulis laporan baru mengenai keamanan pangan, nutrisi dan peran hutan tersebut.

Saat ini juga, sedikitnya 870 juta orang kelaparan dan lebih dari 2 miliar menderita defisiensi mikronutrien, atau “kelaparan tersembunyi”, menurut badan PBB yang menangani makanan, sementara 1,4 miliar orang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, banyak yang menderita akibat penyakit tak menular terkait seperti diabetes dan masalah jantung.

Serangga sudah tersedia, sangat bergizi dan sangat belum termanfaatkan, kata Monica Ayieko, profesor ilmu makanan di departemen ketahanan pangan di Universitas Sains dan Teknologi Jaramogi Oginga Odinga di Kota Bondo, Kenya.

Kuncinya adalah mencoba dan mengubah serangga menjadi produk berterima yang membuat orang lebih mudah mengidentifikasi dengan makanan ringan, biskuit, muffins, daging lembaran dan sosis, kata Ayieko.

“Orang harus memproduksi sendiri, jadi mereka tidak menghancurkan hutan,” katanya seraya menambahkan bahwa sebagian serangga sulit diawetkan tanpa pendinginan.

“Ketika terjadi darurat serangga akan muncul jadi ini adalah alternatif bagus untuk keamanan pangan.”

Di Kopenhagen, restoran Noma menyediakan dua jenis semut dan koki tengah mengolah resep jangkrik fermentasi, kata Van Huis, “Di dunia barat Anda harus mengolahnya jadi enak,” tambahnya.

“Tradisi makan serangga telah lama hilang,” kata Ayieko.

“Kita berpikir tidak lagi asyik makan serangga, tetapi sekarang orang Eropa telah mengkonsumsinya, ini membuat lebih mudah untuk mendorong masyarakat menambahi diet mereka dengan cara ini.”

(Visited 126 times, 1 visits today)