Analisis

Hutan dan ketahanan pangan: kembali ke agenda global

Peningkatan produksi pangan diserukan untuk mengatasi kelaparan. Ada model lain selain intensifikasi pertanian.
Bagikan
0
Sagu merupakan hasil hutan non kayu yang sejak dari dulu sudah dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Di Maluku, Sagu tumbuh dengan sendirinya hutan-hutan rawa, pada daerah dataran rendah tumbuh di belakang hutan mangrove. Nining Liswanti/CIFOR
Sagu merupakan hasil hutan non kayu yang sejak dari dulu sudah dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Di Maluku, Sagu tumbuh dengan sendirinya hutan-hutan rawa, pada daerah dataran rendah tumbuh di belakang hutan mangrove. Nining Liswanti/CIFOR

Paling popular

Berita-berita terbaru, sejumlah publikasi ilmiah dan pembentukan wadah pemikir akademik yang baru, semuanya mencerminkan keprihatinan tentang pencapaian ketahanan pangan global – sebuah inti komitmen para donor dan fokus dari banyak penelitian serta organisasi pembangunan.

Penekanan tentang keamanan pangan global yang diperbarui ini didorong oleh proyeksi yang menunjukkan bahwa populasi manusia akan meningkat dari 7 miliar menjadi sekitar 9 miliar orang pada tahun 2050.

Bagian paling utama dari wacana saat ini terkait keamanan pangan adalah anggapan kebutuhan untuk meningkatkan produksi pangan untuk memberi makan sebanyak 870 juta orang – satu dari delapan orang di seluruh dunia, menurut Badan Pangan PBB, yang tidak memiliki cukup makanan.

Kekhawatiran keamanan pangan juga muncul dalam pemberitaan karena dunia semakin mendekati tahun 2015, tahun Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) yang ditetapkan PBB tahun 2000 yang menargetkan penurunan setengah dari proporsi orang yang kelaparan di seluruh dunia harus terpenuhi.

Demikian juga halnya dengan berbagai literatur ilmiah maupun populer yang menyerukan peningkatan produksi pangan untuk mengatasi masalah kelaparan, yang menurut sejumlah perkiraan, akan meningkat sebanyak 100 sampai dengan 110 persen.

Sebagai contoh, dalam bukunya pada tahun 2012 “One Billion Hungry: Can We Feed the World?”, penulis Gordon Conway, seorang profesor untuk pembangunan internasional dan direktur kelompok advokasi Pertanian yang Berdampak (Agriculture for Impact) pada Imperial College London, menekankan pentingnya menurunkan kelaparan dan kemiskinan sebagian dengan secara signifikan meningkatkan produksi pangan.

Ini adalah konsep yang sangat menarik dan sederhana: lebih banyak mulut yang harus diberi  makan setara dengan kebutuhan untuk menghasilkan lebih banyak makanan.

Namun demikian, model yang umum dari produksi pertanian adalah intensifikasi, telah menyebabkan meningkatnya kebutuhan pupuk, air, dan mungkin konversi ekosistem alami yang tersisa menjadi lahan pertanian yang dapat dibudidayakan.

Intensifikasi pertanian dialami melalui revolusi hijau tahun 1940-an hingga 1970, yang menyebabkan pengembangan varietas unggul dari biji-bijian sereal, perluasan irigasi dan penggunaan yang lebih meluas atas benih hasil hibridisasi, pupuk sintetis dan pestisida, yang tentunya memberikan peningkatan hasil, tapi juga bersamaan dengan pengorbanan lingkungan yang lebih besar.

Selain itu, sebuah paradoks dari model produksi pangan yang ada saat ini adalah ketidaksetaraan yang mencirikannya.

Terdapat hampir satu miliar penduduk bumi yang kelaparan dan kekurangan nutrisi, sementara lebih dari satu miliar penduduk mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, sebuah angka yang meningkat setiap harinya – sejalan dengan meningkatnya lingkar pinggang.

Secara sederhana, setiap pagi jutaan orang mengalami “pesta atau kelaparan” harian.

Sebagian berpendapat kita telah menumbuhkan cukup makanan untuk menyediakan makanan yang sehat dan bernutrisi bagi populasi manusia saat ini dan yang diperkirakan, namun distribusi yang tidak merata, kurangnya daya beli dan kebijakan yang mendukung industri pertanian menyebabkan makanan tersebut sering tidak menjangkau mereka yang paling membutuhkannya.

Produksi pangan tidak perlu semata-mata didasarkan pada pertanian intensif yang difokuskan pada sejumlah kecil tanaman yang berdaya  hasil tinggi.

Estimasi menunjukkan bahwa 40 persen makanan di negara berkembang diproduksi oleh petani kecil, sering kali dalam lanskap multi-fungsional yang kompleks, yang tergantung pada pengelolaan tanaman terpadu.

Selain itu, estimasi terkini dari Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menunjukkan bahwa sekitar 1,6 miliar penduduk bergantung pada hutan dan sistem alami lainnya untuk makanan, kesehatan dan penghidupan secara umum.

Hutan, dan lanskap yang lebih luas tempat mereka berada, berpotensi memiliki peran yang penting dalam strategi yang berkembang untuk mencapai keamanan pangan global.

Hutan tidak hanya berkontribusi bagi keragaman dan nutrisi makanan, khususnya bagi anggota termiskin masyarakat, namun juga untuk menopang pertanian melalui penyediaan jasa-jasa ekosistem yang penting seperti halnya penyerbukan, stabilisasi tanah dan perlindungan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Namun demikian, pengakuan peran hutan dalam kemanan pangan bukan merupakan hal baru:  tahun 1985 ditetapkan sebagai tahun Hutan dan Keamanan Pangan dan sebuah edisi khusus jurnal FAO, Unasylva kemudian dipublikasikan.

Agenda hutan dan keamanan pangan perlahan-lahan digantikan oleh berbagai keprihatinan pembangunan yang terus menekan. Sampai saat ini, semua hal tersebut sudah hilang semuanya.

Namun, dengan “pengarusutamaan” masalah keamanan pangan yang akan muncul di masa mendatang, peran hutan dalam mengamankan nutrisi dan keamanan pangan akan  kembali ke dalam kerangka kerja.

Bulan lalu, Konferensi Internasional Hutan untuk Keamanan Pangan dan Gizi di Roma telah memunculkan pembahasan tentang bagaimana kita dapat memastikan terwujudnya produksi pangan yang berkelanjutan tanpa mengorbankan lingkungan yang lebih luas.

Nampaknya kita telah kembali ke posisi semula. Dengan melihat bukti yang ada, tidak mengherankan bahwa masalah hutan dan ketahanan pangan sekali lagi berada di garis depan dalam agenda pembangunan internasional: tantangannya adalah untuk mempertahankan hal tersebut.

(Visited 174 times, 1 visits today)
Topik :   Bentang alam