Wawancara

T+J: Ketua World Food Security mendesak pemakaian bahan pangan asal hutan untuk diet

Benarkah kebanyakan pangan impor adalah sampah? Sementara makanan alami yang dibudidayakan sendiri belum dimanfaatkan sepenuhnya.
Bagikan
0
"Pertemuan ini menjadi istimewa bagi kami sebab meliputi aspek kehutanan yang akan memberi kami bahan-bahan untuk bekerja," kata Yaya Olaniran, ketua Komite Keamanan Pangan Dunia. CIFOR / Julie Mollins
“Pertemuan ini menjadi istimewa bagi kami sebab meliputi aspek kehutanan yang akan memberi kami bahan-bahan untuk bekerja,” kata Yaya Olaniran, ketua Komite Keamanan Pangan Dunia. CIFOR / Julie Mollins

Paling popular

ROMA, Italia (31 Mei, 2013) – Pemerintah harus memastikan bahwa ketahanan pangan berada pada agenda pembangunan tingkat tinggi mengingat peningkatan tajam populasi global dari 7 miliar menjadi diperkirakan 9 miliar orang sampai tahun 2050, demikian diungkapkan Ketua Komisi Keamanan Pangan Dunia (Committee on World Food Security/CFS) pada Forest News saat berlangsungnya konferensi di Roma, beberapa waktu lalu.

“Kita harus kembali ke dasar, biarkan pemerintah mengambil tanggung jawab atas apa yang seharusnya dilakukan dan juga memiliki suatu tata waktu dan metodologi yang disepakati untuk penilaian,” ujar Yaya Olaniran.

“Pertemuan ini istimewa bagi saya karena ini mencakup aspek kehutanan yang akan menyediakan bahan-bahan pekerjaan untuk kita,” demikian ujarnya, menambahkan “Hutan merupakan sebuah aspek keamanan pangan yang telah kurang mendapat perhatian untuk beberapa waktu.”

CFS merupakan Badan Antar Pemerintah PBB telah didirikan pada tahun 1974 untuk bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan keamanan pangan dan nutrisi bagi semua pihak. Perkiraan baru-baru ini dari Badan Pangan dan Pertanian untuk PBB (FAO) menunjukkan bahwa sekitar 1,6 miliar orang menggantungkan hidupnya pada hutan dan sistem alami yang lain dengan suatu jalan untuk memenuhi pola makan mereka, kesehatan dan penghidupan secara lebih luas.

Pada tahun 2012, Badan Pangan PBB telah memperkirakan bahwa setidaknya sebanyak 870 juta orang mengalami kelaparan dan lebih dari 2 miliar mengalami kekurangan mikronutrisi, atau “kelaparan yang tersembunyi”.

Setidaknya 1,4 miliar orang mengalami obesitas, kelebihan berat badan, dan banyak yang menderita penyakit tidak menular terkait seperti diabetes dan masalah jantung. Olaniran menyampaikan pendapatnya tentang peran yang dapat dimainkan makanan dari hutan dalam meningkatkan keamanan pangan dan nutrisi.

T: Apa kepentingan khusus Komisi Keamanan Pangan Dunia dalam Konferensi Internasional Hutan untuk Keamanan Pangan dan Nutrisi?

J: “Menurut saya, ini adalah aspek tambahan dari keamanan pangan yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kami telah mengamati keamanan pangan dari perspektif yang berbeda – dan dampak yang dimunculkannya terhadap kekurangan nutrisi maupun kelebihan nutrisi. Ternyata, kita menghadapi proporsi yang hampir sama – satu miliar orang pada masing-masing arah. Harus terdapat upaya yang lebih terpadu untuk mengurangi angka – 875 juta orang – yang mengalami kelaparan.

“Aspek yang benar-benar menarik bagi saya dan saya rasa sangat penting untuk Komite Keamanan Pangan Dunia, adalah keragaman yang dihasilkan hutan. Khususnya untuk hasil hutan non-kayu, yang merupakan sumber makanan bagi banyak orang yang hidup di dalam hutan: masyarakat adat, bahkan orang yang kebetulan hanya memiliki ketertarikan pada hutan, masyarakat hutan . . . Terdapat sejumlah buah-buahan yang asli bagi masyarakat yang memenuhi kebanyakan kebutuhan nutrisi mereka. Khususnya yang terkait dengan mikronutrisi.

“Moringa tumbuh di bagian dunia tempat saya tinggal – ini berupa semak-semak. Apa yang telah diketahui dan terdokumentasi dengan baik adalah bahwa wilayah yang terdeteksi mengalami kekurangan nutrisi berada pada sabuk yang sama dengan sabuk tempat tumbuhnya moringa. Moringa memiliki kandungan vitamin A 14 kali lebih tinggi daripada wortel, 10 kali kalsium lebih banyak daripada susu. Terdapat juga tanaman lain semacam itu di hutan yang memiliki nilai nutrisi tinggi.”

T: Mengapa terdapat begitu banyak orang yang kekurangan gizi di dunia?

J: “Perkiraan saya adalah . . . orang-orang ini (tidak selalu) menggunakan material lokal yang tersedia bagi mereka. Mereka mungkin tahu (tentang hal ini) namun sayangnya di dunia berkembang apa yang anda miliki, tidak selalu ternilai dengan baik. Sama halnya, anda juga tidak berbicara tentang makanan yang diimpor. Kebanyakan makanan dan minuman yang diimpor adalah sampah. Makanan alami yang dibudidayakan oleh mereka sendiri belum dimanfaatkan sepenuhnya. Ini adalah salah satu aspek mengapa saya berada di sini. Aspek yang lain adalah untuk mendapatkan keseimbangan antara pertanian dan kehutanan – apakah kita akan mempertahankan hutan kita dan memperoleh lebih sedikit makanan, atau merusak hutan dan menghancurkan keanekaragaman hayati? Dialog saat ini telah dimulai.

T: Nampaknya tidak seorangpun yang mengkonsumsi pola makan sehat. Bagaimana anda menyeimbangkan hal ini?

A: “Anda mulai dengan gandum, jagung, nasi – bahan makanan pokok – namun terdapat sekitar 7,000 bahan pangan yang juga memiliki dasar karbohidrat, mulai dari umbi-umbian, ubi, singkong, ubi jalar, pisang. Dan tentunya terdapat banyak dan lebih banyak lagi pohon yang menghasilkan karbohidrat. Apabila orang-orang dimungkinkan untuk mengkonsumsi makanan ini, maka mereka akan memiliki pola makan yang lebih sehat. Tanaman-tanaman tersebut selalu dipanen secara lestari, dengan sedikit atau tanpa penggunaan pestisida. Terdapat banyak sumber protein yang tersedia di hutan – kepompong, larva dari berbagai serangga.

Q: Apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan hal ini?

A: “Pertama, bagaimana kita menghentikan orang dari menebang hutan, dan bagaimana kita membuat orang berpikir di luar gandum, beras dan jagung sebagai makanan pokok? Ini merupakan tanggung jawab pemerintah, peneliti dan wanatani. Kita perlu meningkatkan tata kelola, dan para politisi sendiri perlu diyakinkan dan memiliki komitmen. Aspek yang lain adalah bahwa seharusnya terdapat mekanisme untuk tinjauan kolega (peer review). G8 dan G 20 memahami dengan baik kolega-kolega mereka di negara-negara berkembang… Kita perlu meningkatkan efisiensi pencapaian – sehingga lebih banyak orang yang akan mendapatkan manfaat dari setiap dolar yang mereka belanjakan.”

T: Kekhawatiran terkait keamanan pangan juga muncul dalam pemberitaan sejalan dengan dunia menghitung mundur ke tahun 2015, tahun target Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) yang ditetapkan tahun 2000 untuk menurunkan setengah proporsi orang yang kelaparan di dunia harus tercapai. Bagaimana dengan agenda setelah tahun 2015? Apakah ada peran untuk hutan? Apakah seharusnya terdapat Tujuan Pembangunan Lestari (Sustainable Development Goal/SDG) hanya untuk makanan dari hutan?

A: “Ini akan menjadi hal yang teramat sangat sulit untuk diwujudkan karena adanya berbagai kepentingan lain. Tindakan yang berbeda (untuk MDG) tidak ditetapkan secara spesifik dan akuntabilitasnya tidak diberikan kepada seseorang – siapa yang bertanggung jawab untuk keluarannya? Saya rasa pembelajaran dari MDG seharusnya dapat membantu SDG. Dengan kata lain, kembali ke dasar, biarkan pemerintah mengambil tanggung jawab atas apa yang seharusnya dilakukan (dalam hal kerangka kerja pembangunan) dan juga memiliki suatu tata waktu dan metode yang disepakati untuk penilaian. (Kita perlu untuk) menuju ke akar rumput dan berbicara dengan orang-orang serta menentukan apa yang ingin mereka lakukan dan bagaimana mereka ingin melakukannya – saya berbicara tentang masyarakat lokal, penduduk desa dan masyarakat. Kita perlu membawa serta mereka untuk merancang apa yang mereka anggap terbaik untuk mereka. Pendanaan seharusnya tidak menjadi masalah apabila korupsi dapat ditangani ke depannya – setiap negara di dunia telah cukup memilikinya

(Visited 82 times, 1 visits today)