Berita

Kepunahan tak kasat mata sumber daya genetik hutan: Dapatkah pepohonan bertahan?

Sumber daya genetika pepohonan sedang mengalami kemusnahan yang tak tampak. Baca penelitian Laura Snook di sini.
Bagikan
0
Para ilmuwan dapat membuat pepohonan dengan lebih banyak karakteristik yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan masa depan seperti ketangguhan terhadap perubahan cuaca, kayu berkualitas tinggi atau buah yang lebih bergizi. Ollivier Girard/CIFOR
Para ilmuwan dapat membuat pepohonan dengan lebih banyak karakteristik yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan masa depan seperti ketangguhan terhadap perubahan cuaca, kayu berkualitas tinggi atau buah yang lebih bergizi. Ollivier Girard/CIFOR

Paling popular

Africa - YAOUNDE, Kamerun (10 Juni 2013)_Pepohonan adalah makhluk yang paling tua dan paling besar di dunia, yang hidup ratusan, bahkan ribuan tahun. Tetapi rahasia umur panjangnya-keanekaragaman genetiknya- sedang terancam, ujar para pakar.

“Pepohonan sangat beragam secara genetis,” ujar Laura Snook dari Bioversity International dalam presentasi utamanya di konferensi CIFOR berjudul Sustainable forest management in Central Africa (Pengelolaan Hutan Lestari di Afrika Tengah)di Yaoundé. “Pepohonan bukan saja mengandung sifat-sifat untuk bertahan dalam ujian waktu, tetapi juga benih untuk menghasilkan generasi pohon berikutnya.”

“Tetapi sumber daya genetika pepohonan sedang mengalami kemusnahan yang tak tampak,” ia mengingatkan.

Perhitungan Snook menyatakan jumlah total pohon yang ditebang di Cekungan Kongo setiap tahun, melalui sektor formal maupun informal, berjumlah 4 juta. Pemanenan besar-besaran telah mengakibatkan beberapa spesies sangat rentan atau bahkan terancam punah, menurut International Union for Conservation of Nature’s Red List (Daftar Merah Persatuan Internasional untuk Pelestarian Alam)

Tetapi melihat pada status spesies hanya merupakan sebagian dari kisahnya, tambah Snook.

“Spesies terdiri atas banyak populasi yang muncul di berbagai zona berbeda, dengan karakteristik berbeda,” ujarnya.

“Jadi bahkan bila spesies tidak terancam punah, status berbagai populasi tersebut dan karakteristik genetiknya lebih mengerikan.

Keanekaragaman genetika memberi ketahanan karakteristik yang memampukan pepohonan dan organisme lainnya untuk beradaptasi dalam perjalanan waktu terhadap berbagai perubahan ancaman dan kondisi. Hal tersebut juga digunakan untuk menyeleksi satu demi satu pohon untuk sifat-sifat yang diinginkan, seperti misalnya kayu berkualitas tinggi atau buah yang lebih manis.

“Keanekaragaman memungkinkan untuk seleksi dan pemuliaan,” ujar Snook.

“Kita dapat membuat pohon-pohon masa depan dengan lebih banyak karakteristik yang kita cari. Tetapi sebagian besar pepohonan belum diseleksi, menyebabkan banyak potensi yang belum tergali.”

Proyeksi perubahan iklim untuk Afrika menunjukkan peningkatan yang sangat besar dalam hal banjir dan kekeringan pada tahun  2099 – tahun yang masih dalam rentang masa hidup banyak pohon dan benihnya, meskipun sebagian besar pembuat kebijakan dan peneliti mungkin sudah lama tiada pada saat tersebut.

“Kita perlu memahami tingkat toleransi untuk pohon – spesies mana yang akan memiliki sifat untuk bertahan terhadap perubahan iklim,” ujarnya.

“Kita harus mengumpulkan benihnya dan saling bertukar benih melintasi perbatasan supaya benih-benih ini dapat diperoleh oleh negara-negara yang dapat menduga akan menjadi semakin kering di masa depan.”

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB akan segera menerbitkan laporan pertama mengenai Status Sumber daya Genetika Hutan Dunia. Memelihara sumber benih dengan beranekaragam karakteristik adalah satu dari 27 tindakan yang direkomendasikan.

“Hutan merupakan sumber daya terbarukan, dan hutan akan terus memproduksi barang dan jasa selama terus diperbarui,” Snook menyimpulkan.

“Hal itu berarti menggantikan pepohonan melalui pengelolaan yang baik sekarang untuk memastikan kita memiliki sumber daya genetika untuk menggantikannya di masa depan.”

Untuk informasi lebih jauh mengenai isu yang dibicarakan dalam artikel ini, silakan menghubungi Manuel Guariguata.

Penelitian ini merupakan bagian dari Studi Komparatif Global CIFOR tentang REDD+ dan dilaksanakan sebagai bagian dari  CGIAR Research Program on Forests, Trees and Agroforestry. Penelitian ini didukung oleh AusAid, Department for International Development (DFID/Departemen untuk Pembangunan Internasional Inggris) dan Norwegian Agency for Development Cooperation (NORAD/Lembaga Kerjasama Pembangunan Norwegia).

(Visited 252 times, 1 visits today)