Berita

Peta situs web interaktif membuat fakta di balik kebakaran Sumatera transparan

CIFOR mengembangkan alat bantu pemetaan online untuk mengungkap dampak kebakaran hutan di seluruh Provinsi Riau.
Bagikan
0
Tidak seperti kebakaran besar Sumatera 1982-1983, 1997-1998, dan 2006, kebakaran terkini tampak tidak terkait dengan hutan. CIFOR/Augusta
Tidak seperti kebakaran besar Sumatera 1982-1983, 1997-1998, dan 2006, kebakaran terkini tampak tidak terkait dengan hutan. CIFOR/Augusta

Paling popular

Indonesia - BOGOR, Indonesia (8 Juli 2013) – Sebuah alat bantu pemetaan online telah dirancang untuk mengungkap dampak kebakaran hutan di seluruh Provinsi Riau, Sumatera, Indonesia memungkinkan para pengguna untuk menggali dan memvalidasi data awal.

Alat bantu risiko kebakaran interaktif ini dikembangkan oleh Center for International Forestry Research (CIFOR) menunjukkan lokasi peringatan kebakaran NASA pada Juni, wilayah kebakaran (titik api coklat) yang dipetakan oleh CIFOR dengan  menggunakan citra resolusi-tinggi dari satelit Landsat 8, dan citra satelit sebelum-dan-sesudah kebakaran yang menarik di wilayah Riau, wilayah terdampak paling buruk akibat kebakaran.

“Begitu banyak klaim mengenai kebakaran sumatera berputar-putar di media popular—alat ini memberi masyarakat kemampuan untuk memeriksa sendiri,” kata Agus Salim, pengembang aplikasi berbasis situs web ini.

Tidak seperti kebakaran besar hutan Sumatera pada 1982-1983, 1997-1998 dan 2006, tampaknya kebakaran terkini tidak terjadi di hutan alam, kata David Gaveau, ilmuwan program hutan dan lingkungan CIFOR.

Dengan kata lain, kebakaran menghanguskan hutan perkebunan ketika mereka bisa dibakar secara sengaja dalam rotasi sebagai metode untuk meningkatkan produksi perkebunan minyak sawit dan kayu—praktik yang dikenal sebagai perladangan—atau pertanian potong-dan-bakar.

“Kita perlu berupaya hati-hati—kita tidak bisa bilang penyebab kebakaran dari citra semata—investigasi lapangan akan dibutuhkan,” kata Gaveau. “Aplikasi berbasis situs-web seperti ini berguna bagi pejabat pemerintah dan masyarakat sipil untuk memeriksa lokasi, bentuk dan luasan titik api, apakah kebakaran terjadi di wilayah moratorium, konsesi atau tutupan vegetasi sebelum-dan-sesudah-kebakaran—menjadi informasi krusial bagi investigasi lapangan.”

Kebakaran telah mempengaruhi wilayah di bawah perlindungan moratorium pemerintah dan menghanguskan sebagian besar lahan gambut, meningkatkan risiko tingkat tinggi emisi gas rumah kaca, kata Gaveau.

Citra dari satelit Landsat 8 NASA menunjukkan bahwa Riau tampak terdampak paling buruk mengingat kebakaran di Sumatera menyebabkan masalah asap di Singapura dan Malaysia dua pekan lalu.

Untuk informasi lebih dalam isu yang didiskusikan dalam artikel ini, silahkan hubungi David Gaveau di  d.gaveau@cgiar.org.

(Visited 280 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi Kebakaran hutan & lahan Kelapa sawit Gambut dan Mangrove