Liputan Khusus

Ekonomi Hijau akan mengangkat nilai sejati hutan

Hutan selalu dinilai rendah karena total jasa yang mereka berikan tidak masuk hitungan.
Bagikan
0
Ekonomi hijau adalah menjadi lebih efisien dalam bagaimana Anda menggunakan sumber daya Anda, kata Grace Wong, ilmuwan di Center for International Forestry Research. Kredit foto: remusse
Ekonomi hijau adalah menjadi lebih efisien dalam bagaimana Anda menggunakan sumber daya Anda, kata Grace Wong, ilmuwan di Center for International Forestry Research. Kredit foto: remusse

Paling popular

JAKARTA, Indonesia (16 Juli 2013) – Dengan makin banyak negera berkembang berencana membuat transisi ke ekonomi hijau—didefinisikan sebagai rendah karbon, efisien sumber daya dan  inklusif sosial—lampu sorot mengarah pada nilai “sejati” hutan.

Dan jelas bahwa mereka bernilai lebih dari sekadar harga kayu.

“Ekonomi hijau adalah menjadi lebih efisien dalam bagaimana Anda menggunakan sumber daya Anda,” said Grace Wong, ilmuwan di Center for International Forestry Research (CIFOR) yang juga anggota Program Lingkungan PBB (U.N. Environment Programme/UNEP) kelompok kerja REDD+ mengenai ekonomi hijau.

“Ini soal memahami nilai sebenarnya sumber daya alam Anda jadi cara Anda memanfaatkannya dan keputusan kebijakan yang Anda buat merefleksikan semua nilai itu,” kata Wong di sela Simposium Global UN-REDD di Jakarta, Juni.

“Mengakui nilai sejati hutan direfleksikan dalam ekonomi hijau berarti bahwa pengambil kebijakan membandingkan banyak piihan dan berpikir secara holistik mengenai hutan, jadi hutan tidak hanya dipertimbangkan semata pada kayu.”

UNTUK JASA YANG DIBERIKAN

Hutan diperkirakan berkontribusi lebih dari 400 miliar dolar AS bagi ekonomi dunia, demikian menurut statistik PBB. Padahal angka ini hanya memasukkan produksi dan pengolahan kayu dan produk kayu.

“Hutan selalu dinilai rendah karena total jasa yang mereka berikan tidak masuk hitungan,” kata Wong.

Daftar jasa ekosistem hutan sebenarnya terentang panjang dan lebar, seperti didokumentasikan dalam banyak kajian. Hutan menyediakan habitat dan air bersih, mengatur iklim lokal dan global, menyangga kejadian cuaca, melindungi limpasan air, aliran air dan tanah, menyimpan karbon, memproduksi oksigen dan mendukung penyerbukan serta siklus nutrisi. Mereka juga menyediakan sumber daya genetik untuk pertanian dan memiliki nilai spiritual, budaya, rekreasi dan pariwisata.

Di balik kebutuhan krusial jasa hutan bagi keberlangsungan manusia, bagaimanapun, sifat alami yang bisa ditembus dan tak tampak membuat mereka cenderung dianggap ada begitu saja dan dipersepsikan sebagai “gratisan”, sementara beragam sistem penghitungan memberi asesmen yang berbeda.

Misalnya, ketika Anda menambahkan kerugian ekonomi emisi gas rumah kaca, kehilangan sumber daya alam, kehilangan jasa dasar alam seperti simpanan karbon, perubahan iklim dan kesehatan terkait polusi, peringkat 100 teratas biaya ekternalitas lingkungan global sekitar 4,7 triliun dolar per tahun, demikian menurut laporan terbaru dari The Economics of Ecosystems and Biodiversity (TEEB).

Sebuah contoh yang sangat relevan dengan hutan adalah pertanian ternak di Amerika Selatan, pendorong utama deforestasi di wilayah itu, Pavan Sukhdev, direktur eksekutif GIST Advisory dan kepala riset TEEB, mengatakan pada para delegasi ketika menjadi pembicara utama dalam Simposium Global UN-REDD: industri ini memberi masukan tahunan sekitar 16,6 miliar dolar AS, tetapi mengorbankan modal alam yang diperkirakan 353,8 miliar dolar AS.

BERGANTUNG PADA HUTAN

Tidak adanya pasar formal, aset alami cenderung belum menjadi bagian dalam pengambilan keputusan. Satu kekecualian adalah UN REDD+, mekanisme global dimaksudkan untuk memberikan manfaat finansial bagi negara yang menurunkan emisi karbon akibat deforestasi dan degradasi hutan. Dengan memberi harga pasar terhadap karbon, REDD menciptakan nilai bagi pentingnya jasa hutan bagi mitigasi perubahan iklim melalui sekuestrasi karbon.

“REDD+ adalah satu jalan untuk  mengkompensasi sebagian nilai hutan dan memperbaiki kegagalan pasar yang menggiring pada deforestasi,” kata Wong.

“Oleh karena itu, REDD+ bisa menjadi katalis menuju kebijakan keberlanjutan dengan menghargai hutan, dan ini cocok sekali dengan tujuan ekonomi hijau.”

Kenya menjadi satu negara yang menempatkan nilai ekonomi hutan lebih dari kayu semata, seperti ditampilkan dalam “Kenya Forest Resource Account” oleh Samuel Muriithi, kepala ekonomi Kenya Forest Service, dilaporkan pada simposium UN-REDD.

Muriithi menawarkan contoh dari sebuah asesmen jasa wilayah tangkapan yang terbangun dari kanopi hutan tertutup. Ketika jasa pemurnian air dan regulasi iklim lokal, suplai air, erosi, bencana alam dan penyakit masuk dalam hitungan,  kerugian berkaitan dengan penebangan jauh melebihi keuntungan 2,8 kali lipat.

Kenya menjadi satu dari sejumlah negara berkembang yang terlibat baik dalam REDD+ maupun merencanakan ekonomi hijau, seperti tampak dalam strategi nasional, “Visi 2030”. Di Vietnam—juga mengikuti aktivitas REDD+, penghitungan modal alam juga diarusutamakan dalam perencanaan, dan mulai 2014, GDP hijau digunakan sebagai indikator kunci pembangunan.

HARGA HIDUP NYAMAN

Manfaat sosial dan kenyamanan jasa hutan juga bisa ditempatkan sebagai nilai ekonomi, demikian ditunjukkan Chris Webb dari perusahaan profesional Pricewaterhouse Coopers dalam simposium UN-REDD.

Webb mengutip pertanian berkelanjutan—yang menghindari meluasnya deforestasi—dan menyarankan bahwa manfaat sosial dan meningkatnya panen atau lebih efisiennya air bisa dikuantifikasi.

“Meningkatnya panen bisa meningkatkan nutrisi masyarakat lokal dan pekerja, meningkatkan kesehatan orang, berkurangnya hari sakit, memanjangkan usia hidup, meningkatkan produktivitas: itu adalah manfaat bagi ekonomi,” katanya.

“Saya pikir terdapat lebih banyak manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan di sini yang perlu (kita) pahami bersama sehingga kita bisa benar-benar memahami nilai melakukan aktivitas (berkelanjutan),” tambahnya.

Tidak semuanya bisa dinilai, tambah Wong, walaupun pendekatan lebih menyeluruh akan mengungkap apa yang bisa. “Saya tidak akan mencoba menempatkan satu dolar pada nilai budaya, misalnya, tetapi ada upaya untuk menggabungkan dengan nilai sosial lain seperti kesetaraan dan inklusivitas,” katanya.

“Contohnya, jika Anda inklusif dalam bagaimana merencanakan pemanfaatan hutan atau bagaimana Anda mengekstraksi sumber daya, nilainya ada dalam potensi pengurangan konflik di masa depan, dan karena itu berpotensi menghindari biaya operasi tinggi dan risiko selama implementasi. Ini soal cara berpikir lebih luas mengenai dampak utuh sebuah keputusan.”

Untuk informasi lebih pada isu yang didiskusikan dalam artikel ini, silahkan hubungi Grace Wong di g.wong@cgiar.org

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Riset CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri.

(Visited 246 times, 3 visits today)
Topik :   Deforestasi