Berita

“Bantuanisasi” REDD+: Bagaimana hal ini berubah dan mengapa menjadi masalah?

Hal ini lah yang menjadi bagian pelemahan atau pelumpuhan tujuan asli REDD+ dan gagasan REDD+, yaitu untuk mengurangi emisi karbon.
Bagikan
0
Konsep REDD+ berevolusi, melihatnya sebagai “bantuanisasi ”— ketika pendanaan datang utamanya dari anggaran bantuan internasional daripada pasar karbon. Yayan Indriatmoko/CIFOR
Konsep REDD+ berevolusi, melihatnya sebagai “bantuanisasi ”— ketika pendanaan datang utamanya dari anggaran bantuan internasional daripada pasar karbon. Yayan Indriatmoko/CIFOR

Paling popular

Skema untuk mengurangi emisi karbon dengan memperlambat deforestasi di negara berkembang telah berubah drastis dan menjadi “bantuanisasi” sejak ia dimunculkan pada 2005, demikian menurut publikasi baru soal ini.

Semenjak awal, Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) telah mendapatkan ketertarikan luas, dipandang sebagai pendekatan baru dan segar untuk memitigasi perubahan iklim, dengan memberi pendanaan skala besar berbasis pasar untuk pelaku yang bisa membuktikan penurunan emisi dengan menghindari deforestasi.

Sejak itu, bagaimanapun, konsepnya berevolusi dan kita melihat “bantuanisasi REDD+”—ketika pendanaan datang utamanya dari anggaran bantuan internasional daripada pasar karbon—demikian menurut penulis Analysing REDD+: Challenges and Choices, sebuah buku yang diterbitkan oleh Centre for International Forestry Research (CIFOR).

“Pertama ini berarti Anda membawa lebih banyak tujuan,” kata Arild Angelsen, ilmuwan ekonomi lingkungan CIFOR dan profesor di Norwegian University of Life Sciences, editor utama buku ini.

“Tujuan utama bantuan adalah pembangunan ekonomi dan penurunan kemiskinan. Semua ini, tentu saja, merupakan tujuan sangat baik, tetapi ini menjadi bagian pelemahan atau pelumpuhan tujuan asli REDD+ dan gagasan REDD+, yaitu untuk mengurangi emisi karbon.”

“Banyak bantuan pembangunan bersifat bilateral, jadi berkurang kepentingan donor untuk memiliki semacam standar universal untuk menselaraskannya—karakter bantuan pembangunan adalah masing-masing dan setiap donor memiliki prosedur sendiri, binatang peliharaan sendiri yang ingin mereka tumbuhkan.”

“Pada dasarnya ini keraguan mengapa tidak menjadi efektif dalam mengurangi emisi.”

Buku ini berargumen bahwa sebagian perubahan dihasilkan dari proses belajar dan pematangan alami, sementara yang lain diturunkan dari permainan politik dan kecenderungan internasional atas perjalanan hidup REDD+.

Menjelang pertemuan Copenhagen 2009, secara luas—dan optimis—diharapkan sebuah ikatan kesepakatan iklim internasional pasca-Protokol Kyoto bisa diperkuat, termasuk REDD+, dan langsung mendorong sumber utama pendanaan melalui pasar karbon.

Tiga tahun berlalu, harapan itu tidak terwujud, kesepakatan tidak dicapai, dan pandangan kemudian berbuah.

Apalagi, kenaikan harga komoditas sejak pertengahan 2000-an mendorong peningkatan kompetisi lahan hutan, membuat REDD+ makin mahal—dan krisis finansial dunia pada 2008 mengalihkan perhatian dari perubahan iklim serta menekan anggaran nasional.

Secara bersama, faktor-faktor itu membuat pendanaan REDD+ tidak mencapai tingkat yang awalnya dibayangkan—dan dua pertiga pendanaan yang diwujudkan tidak datang dari pasar karbon tetapi dari anggaran bantuan negara maju, dengan tujuan dan strategi masing-masing.

Kekhawatirannya adalah perubahan ini merusak kebaruan REDD+, dan membawanya mendekat pada format biasa bantuan pembangunan digabung dengan pengelolaan hutan di masa lalu yang terbukti terbatas keberhasilannya.

REDD+ juga berubah fokusnya. Alasan kunci REDD+ saat diluncurkan adalah fokus pada kekuatan nasional, gagasan di dalamnya adalah membantu mendorong pergeseran signifikan dalam perlindungan hutan, ketika pemerintah nasional menjadi pelaku utama dalam konservasi hutan.

Bagaimanapun sejauh ini, sebagian besar pendanaan REDD+ diberikan kepada projek berbasis inisiatif tingkat lokal dan subnasional.
“Banyak projek itu bisa berhasil, tetapi jika mereka menjadi pulau konservasi di tengah rimba deforestasi—hal ini tidak akan membuat banyak perubahan,” kata Angelsen.

Ia mengatakan reformasi besar di tingkat nasional—termasuk memapankan wilayah terlindung, reformasi kebijakan konsesi hutan, mengintegrasikan perhatian lingkungan dalam perencanaan jalan dan infrastruktur, serta menghilangkan insentif jahat—penting bagi REDD+, tetapi sulit dicapai karena perlawanan kuat dari aktor berkuasa yang bertahan habis-habisan.

“REDD+ diawali sebagai gagasan untuk mengubah cara kita mengelola hutan tropis, mengubahnya secara fundamental. Serta dengan cara yang sedikit idealistik dan berani bagi REDD+ untuk benar-benar menjadi jawaban, membawa perubahan transformasional dalam cara hutan dikelola,” kata Angelsen.

“Sekarang sudah termodifikasi, dan ditambah realisme politik, apa yang layak dilakukan. Ini juga bergulat dengan bagaimana menciptakan pembayaran berbasis hasil—dan sulit sekali untuk membangun sistem yang baik untuk pembayaran berbasis hasil, jadi ini menghadapi baik realitas politik maupun realitas praktik.”

“Dengan caranya politik adalah soal menemukan kompromi yang diterima koalisi luas. Dan hal itu diperlukan untuk mendapatkan dukungan, tetapi Anda juga bisa menemukan di banyak bidang bahwa kompromi bisa menjadi begitu cair hingga mereka memberi dampak terbatas.”

Akhirnya, katanya, dilema REDD+ adalah keharusan berubah dalam rangka membangun prasyarat dukungan politis—tanpa kehilangan elemen yang membuatnya atraktif dan berbeda sejak awal.

CATATAN: Artikel di blog ini pertama kali terbit tanggal 20 Juni 2012, bertepatan dengan publikasi Menganalisis REDD+: Sejumlah tantangan dan pilihan

(Visited 165 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi