Berita

Paradigma keragaman hayati dipertanyakan setelah ditemukan kekurangan di riset dampak penebangan

Dari analisa 77 kajian, hanya lima yang secara jelas bebas replikasi semu. Jebakan metodologis lebih merata dari yang diduga.
Bagikan
0
Menentang replikasi-semu menjadi penting untuk secara akurat menaksir keragaman hayati dalam hutan tebangan serta secara efektif menyeimbangkan konservasi dengan produksi kayu di bentang alam hutan tropis, kata Douglas Sheil, mitra senior CIFOR. Foto: Tomas Munita/ CIFOR
Menentang replikasi-semu menjadi penting untuk secara akurat menaksir keragaman hayati dalam hutan tebangan serta secara efektif menyeimbangkan konservasi dengan produksi kayu di bentang alam hutan tropis, kata Douglas Sheil, mitra senior CIFOR. Foto: Tomas Munita/ CIFOR

Paling popular

BOGOR, Indonesia (29 Juli 2013) — Kajian mengenai dampak penebangan terhadap keragaman hayati di wilayah tropis seharusnya  dicermati, kesimpulannya diturunkan atau bahkan tidak dihitung, demikian menurut publikasi terbaru jurnal “Conservation Biology”  yang mengungkap cacat metodologis meluas.

Douglas Sheil, mitra senior Program Hutan dan Lingkungan Center for International Forestry Research (CIFOR) dan peneliti Forests and Environment Programme serta kolaborator “Pseudoreplication in tropical forests and the resulting effects on biodiversity conservation“, menyatakan bahwa timnya dibentuk untuk menentukan mengapa riset mengenai dampak penebangan terhadap ekosistem hutan tropis sering memberi hasil kontradiktif.

Dalam kajian spesifik hutan hujan, mereka menemukan, ilmuwan seringkali memperlakukan area yang telah ditebang dan area belum ditebang seakan-akan identik dengan sebelum pohon dipotong, serta melakukan perbandingan statistikal yang tidak bisa mendukung kesimpulan yang ditarik dari kondisi itu, sebagai contoh cacat metodologis yang dikenal sebagai “replikasi-semu”.

Dalam banyak kasus, pentingnya variasi lokal dalam area kajian diabaikan ketika mengintepretasi riset—jadi semua perbedaan, termasuk yang alami, tidak disebut menjadi hanya pemotongan dan pemindahan kayu.

Sebagai hasil interpretasi cacat, perubahan akibat penebangan seringkali dibesar-besarkan, kata Sheil.

“Menentang replikasi semu menjadi penting untuk secara akurat menilai keragaman hayati dalam hutan tebangan, mengindentifikasi ciri hubungan praktik pengelolaan spesifik dan konfigurasi bentang alam, dan secara efektif menyeimbangkan konservasi dengan produksi kayu di bentang alam tropis,” tambahnya.

Keragaman hayati hutan terancam oleh deforestasi dan degradasi hutan, perburuan dan masuknya spesies invasif dari habitat lain. Sedikitnya 13 juta hektar (50.000 mil persegi) hutan—hampir seluas Nikaragua—menghilang setiap tahun, menurut organisasi pangan dan pertanian Food and Agriculture Organization (FAO-PBB).

Dari analisa 77 kajian, hanya lima yang secara jelas bebas replikasi semu, kata ketua penulis, Benjamin Ramage, periset post-doktoral di University California Berkeley.

“Masalah dan jebakan metodologis lebih merata daripada yang kami duga,” katanya.

“Kita perlu membuang beberapa hasil penelitian lalu, sementara di beberapa kasus lain, kita bisa memperkirakan perbaikan.”

Potensi ketidakakuratan statistikal dalam penaksiran hutan menimbulkan pertanyaan terhadap hasil sejumlah kajian, begitu pula “kebenaran” mapan yang diturunkan dari literatur yang sekarang tampak menjadi “penuh dengan kesimpulan tidak beralasan,” tulis artikel tersebut.

Sheil menyatakan ilmuwan seringkali menggunakan jalan pintas untuk mengkompilasi data spesies terpengaruh penebangan karena kurangnya dana atau ingin membuat hasil lebih impresif.

“Kajian hutan hujan sulit dilakukan dengan baik, dan seringkali terdapat tekanan untuk membuat klaim kuat berdasarkan kajian ketika anggaran menjadi pertimbangan,” katanya.

“Kami sering menyatakan beberapa informasi lebih baik daripada tidak ada. Tetapi, tentu saja, hal ini hanya benar jika kita tidak ingin kita sendiri tersesat.”

Dampak berantai temuan tim ini bisa besar.

Dengan opini terlanjur terbelah apakah wilayah terkelola baik adalah langkah positif untuk konservasi keragaman hayati, hasil baru ini tampaknya menghidupkan beragam debat mengenai kapan dan dimana produksi kayu harus dipandang sebagai kawan atau lawan konservasi.

Hal ini juga memiliki potensi untuk mengubah cara kita berpikir mengenai hutan produksi yang—tidak seperti banyak penggunaan lahan, antara lain minyak sawit dan gula tebu—menyokong level lebih tinggi spesies hutan.

Untuk saat ini, kata Sheil, peneliti memiliki sedikit pilihan kecuali untuk kembali ke titik awal.

“Jika kita tidak mengakui dan mengatasi masalah replikasi-semu, kita tidak bisa secara akurat menilai keragaman hayati di hutan tebangan,” katanya.

“Tidak ada jalan lain untuk mengetahui bagaimana secara efektif menyeimbangkan konservasi dengan produksi kayu di hutan tropis.”

“Dan bagaimana kita bisa bilang mana praktik pengelolaan efektif dan mana yang tidak.”

Kedua penulis menekankan bahwa analisis mereka tidak harus dibaca sebagai penolakan bahwa penebangan memberi dampak negatif pada keragaman hayati. “Kami menggarisbawahi bahwa beberapa dampak ini nyata dan membenarkan kekhawatiran,” kata Sheil.

“Walaupun tampaknya banyak hasil terdahulu tidak kuat dan bisa jadi dibesar-besarkan. Kita semua lebih baik memfokuskan pada perhatian dan upaya jika kita memiliki pengetahuan lebih terpercaya mengenai dampak penebangan.”

Meratanya replikasi-semu dalam riset hutan tropis, dalam pada itu, memancing pertanyaan mengenai bagaimana banyak ilmuwan gagal untuk menemukan itu di awalnya. Menurut Sheil, ini soal kesadaran.

“Ini soal memahami masalah dan mengetahui mengapa ini penting. Jika peneliti memahami kapan dan dimana pendekatan ini mengarah pada masalah kita dapat menghindarinya,” katanya.

Ramage berharap laporan ini akan mendorong peneliti untuk mulai berpikir lebih kritis mengenai kesimpulan yang mereka tarik dari data mereka dan mencoba mencari cara untuk secara benar mereplikasi perlakuan penebangan.

Untuk informasi lebih mengenai subjek yang didiskusikan dalam artikel ini, silahkan hubungi Douglas Sheil di d.sheil@cgiar.org

Kajian ini didukung oleh Global Environment Facility melalui U.N. Development Programme Malaysia dan the International Tropical Timber Organization. Bentuk bantuan finansial dan dukungan diberikan oleh pemerintah Malaysia melalui Kementerian Sumber Alam dan Lingkungan serta Forest Research Institute Malaysia. Dukungan juga diberikan oleh Program Riset CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri.

(Visited 292 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi