Berita

Permainan papan memberi arah baru pada dinamika persaingan tata guna lahan

Monopoli sudah ketinggalan jaman karena tidak ada dampak pembelian properti terhadap lingkungan. Peneliti CIFOR membuat permainan baru.
Bagikan
0
Permainan Bentang Alam mengajarkan pemain untuk memaksimalkan penghasilan seraya memperkenalkan pada mereka konservasi bentang alam, pembangunan berkelanjutan, jasa lingkungan, alternatif investasi, perdagangan, kompetisi dan kolaborasi. CIFOR/Michelle Kovacevic
Permainan Bentang Alam mengajarkan pemain untuk memaksimalkan penghasilan seraya memperkenalkan pada mereka konservasi bentang alam, pembangunan berkelanjutan, jasa lingkungan, alternatif investasi, perdagangan, kompetisi dan kolaborasi. CIFOR/Michelle Kovacevic

Paling popular

Indonesia - BOGOR, Indonesia (22 Oktober 2013) — Hidup. Risiko. Monopoli. Permainan macam itu bisa mencerminkan dan memancarkan kerangka pikir mengenai hidup, perang, hingga penggunaan lahan.

Tetapi kerangka tersebut berubah seiring waktu, dan sebuah permainan dikembangkan oleh ilmuwan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) mencoba menyediakan kerangka alternatif dengan membantu orang memahami dan mengelola masalah kontemporer terkait penggunaan lahan dan ekonomi.

Permainan Bentang Alam, diciptakan oleh ilmuwan Herry Purnomo, berbeda secara kontras dibanding permainan lebih terkenal yang mencakup tema serupa.

Monopoli adalah salah satu permainan papan terkenal di dunia, kurang lebih 275 juta salinan terjual dalam 43 bahasa, demikian menurut pembuatnya. Tetapi tujuan permainan ini – mendapatkan sebanyak mungkin lahan, mengembangkan, dan mendorong lawan bangkrut melalui sewa – secara alami tidak berkelanjutan.

Monopoli dibangun dengan tujuan sempit, benar-benar memiliki pandangan kapitalis dalam manajemen lahan, kata Purnomo, sementara Permainan Bentang Alam bertujuan antara lain membantu pemain memahami bahwa perlu waktu beberapa tahun untuk mendapatkan keuntungan finansial dalam investasi properti.

“Hampir satu miliar orang di dunia pernah bermain Monopoli, namun ini ketinggalan jaman karena alasan tidak ada komponen yang mempertimbangkan dampak pembelian properti terhadap ekosistem, pemanasan global atau pada keberlanjutan,” kata Purnomo.

“Saya berpikir apa yang akan terjadi jika satu miliar orang yang belajar dari permainan itu mempertimbangkan pandangan alternatif mengenai investasi dan manajemen bentang alam.”

Dalam Permainan Bentang Alam, enam pemain mewakili interaksi pemangku kepentingan dalam sebuah bentang alam yang mencakup penggunaan lahan berbeda, dari hutan lebat hingga penggunaan lahan campuran, termasuk tambang dan peternakan.

Pemain dapat menempatkan dana dalam pilihan investasi berkelanjutan terkait skema dukungan PBB, program REDD+ (Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi hutan), pembayaran jasa lingkungan (PJL), penebangan kayu dan penanaman hutan.

Permainan – yang telah dimainkan di seluruh lima benua oleh akademisi, aktivitas LSM, pemangku kepentingan dari sektor komersial, dan masyarakat desa – ini mengajarkan pemain-pemain untuk memaksimalkan pemasukan seraya memperkenalkan mereka pada konservasi bentang alam, pembangunan berkelanjutan, jasa lingkungan, alternatif investasi, perdagangan, kompetisi dan kolaborasi. Permainan ini menantang pemain untuk memaksimalkan pemasukan, dan pada saat yang sama memelihara kondisi ekologis dan sosial. Pemain yang bermain untuk memberi manfaat pada indikator-indikator ini diberi hadiah pada akhir pertandingan.

“Bagi pengambil keputusan, ini bisa mengembangkan  gagasan mengenai kebijakan apa yang bisa mereka terapkan pada bentang alam yang ada,” kata Purnomo. “Permainan ini memungkinkan pengambil keputusan bermain melawan beragam aktor dan pemilik lahan kecil, jadi mereka bisa melihat bagaimana menerapkan gagasan penggunaan lahan paling efektif.

“Tidak ada rumus ajaib, tetapi menerapkan dan memantau rencana manajemen bentang alam yang kukuh adalah kuncinya – ini adalah proses belajar terus menerus,” tambahnya.

Purnomo mencontohkan Pulau Laut, sebuah pulau di Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia, sebagai contoh bagus dinamika bentang alam yang berhasil. Dikelilingi laut, Pulau Laut memiliki batas yang jelas. Semua komponen bentang alam, seperti lahan hutan inti, hutan pinggir dan mosaik pertanian – seperti juga fenomena eksternal seperti tambang batu bara dan pertumbuhan populasi – dikelola dengan baik, kata Purnomo.

Permainan bentang alam mengeksplorasi sinergi dan timbal balik antara produktivitas bentang alam dan keberlanjutannya pada Pulau Laut dan tempat lainnya.

Email Herry Purnomo di h.purnomo@cgiar.org untuk menerima salinan permainan untuk Anda sendiri. CIFOR kini merencanakan aplikasi Permainan Bentang Alam untuk telefon pintar iOS dan Android.

Untuk informasi lebih mengenai topik diskusi dalam blog ini, silahkan hubungi Herry Purnomo di h.purnomo@cgiar.org

Karya ini merupakan bagian dari Program Riset CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri dan didukung oleh Uni Eropa.

(Visited 163 times, 1 visits today)
Topik :   Bentang alam