Berita

Peneliti harus berpikir jangka pendek untuk memberi dampak bagi kebijakan iklim: pakar

Skenario IPCC seringkali membahas perubahan iklim 70 hingga 100 tahun. Bagi pengambil kebijakann, hal ini kurang bermakna.
Bagikan
0
Pembuat kebijakan seringkali mengabaikan masyarakat yang sedang menghadapi kekeringan, banjir, kebakaran dan pergeseran pola musiman, kata Lou Verchot, ilmuwan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional. Mokhamad Edliadi/CIFOR
Pembuat kebijakan seringkali mengabaikan masyarakat yang sedang menghadapi kekeringan, banjir, kebakaran dan pergeseran pola musiman, kata Lou Verchot, ilmuwan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional. Mokhamad Edliadi/CIFOR

Paling popular

BOGOR, Indonesia (7 November 2013) — Ilmuwan bisa memberi pengaruh lebih besar dalam kebijakan perubahan iklim jika riset lebih banyak memperlihatkan bagaimana masyarakat beradaptasi terhadap perubahan, daripada hanya terfokus pada proyeksi jangka panjang, demikian dinyatakan oleh seorang peneliti dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

Bersamaan dengan kajian pembuat-kebijakan baru baru ini diluncurkan asesmen kelima oleh Panel Antar-pemerintah mengenai Perubahan Iklim (IPCC) dan mempertimbangkan cara untuk beradaptasi terhadap projeksi alam ekstrim yang akan terjadi pada akhir abad, mereka mengabaikan masyarakat yang telah berhadapan dengan kekeringan, banjir, kebakaran dan perubahan pola musim, kata Lou Verchot, direktur riset hutan dan lingkungan CIFOR.

“Skenario IPCC seringkali berhadapan dengan perubahan iklim dalam horison waktu 70 hingga 100 tahun. Mereka melihat tren jangka pandang,” katanya.

“Tetapi trend tersebut menjadi penting bagi pengambil kebijakan dan manajer lahan pada lima, 10 atau 20 horison tahun. Jadi tren jangka panjang ini kurang bermakna pada tingkat ini,” kata Verchot.

“Ketika kita berbicara pada pengambil kebijakan mengenai horison waktu 70 tahun, secara hipotetis mereka berkata, Baik, Saya harus terpilih besok, jadi Saya akan fokus pada masalah yang bisa diatasi dalam lima tahun dan biarkan penerus saya khawatir mengenai apa yang akan terjadi 70 tahun.”

Pada Forum Bentang Alam Global di Warsawa, berdampingan dengan negosiasi kebijakan iklim internasional pada November, Verchot akan memimpin bersama sebuah forum diskusi mengenai informasi iklim berbasis bukti bagi pengambil keputusan, membawa ilmuwan dari beragam wilayah kepakaran.

Kajian CIFOR yang dipublikasikan 2011, misalnya, menggambarkan bagaimana masyarakat peternak di Sahel – lahan semi-kering yang membentang dari Afrika Utara dari Samudera Atlantik ke Laut Merah – menghadapi pola iklim jangka menengah yang bertentangan dengan proyeksi jangka panjang.

Contoh lain: Setelah kekeringan di Mali pada 1970 dan 80-an mengeringkan danau tempat bergantung suplai air bagi ternak masyarakat, migrasi dengan kawanan ternak meningkat sebagai responnya. Dalam budaya ini, lelaki berpindah dengan ternak, sementara wanita tinggal di desa, dan peningkatan migrasi ini memberi beban berat bagi wanita, yang harus menemukan cara alternatif mendapatkan penghidupan. Kelangkaan sumber daya mengarah pada meningkatnya konflik sosial dan perubahan lain dalam masyarakat, serta pemberontakan di bagian utara menambah masalah yang ada.

Sejak 1990, hujan mulai turun di wilayah itu, tetapi dengan variabilitas tinggi dari tahun ke tahun. “Dalam kasus seperti ini, kita tidak ingin menasihati lembaga pendukung masyarakat ini bekerja membantu mereka beradaptasi dengan tren jangka-panjang kekeringan. Kita perlu menasihati mereka untuk melakukan hal yang akan membuat mereka lebih adaptif terhadap variabilitas tahun ke tahun,” kata Verchot.

Selama satu periode hujan lebih dari rata-rata, strategi pembangunan fokus pada peningkatan adaptasi terhadap kekeringan akan mengarah pada maladaptasi – adaptasi dengan efek negatif – dan dapat dihindari pengambil keputusan, jika mereka diberi informasi yang benar mengenai tren jangka medium, kata Verchot.

“Jika kita bisa mengungkap pemahaman perubahan iklim secara lebih sesuai skala waktu hingga bisa berinteraksi dengan masalah hari ini, saya pikir kita, sebagai masyarakat ilmiah, dapat mengartikulasikan mengapa perubahan iklim penting dan mengapa lebih penting dan mendalam daripada pemahaman orang saat ini,” kata Verchot.

Untuk informasi lebih mengenai topik yang didiskusikan dalam artikel ini silahkan hubungi Louis Verchot di l.verchot@cgiar.org.

Topik-topik ini akan dibahas pada Forum Bentang Alam Global di Konferensi Perubahan Iklim Warsawa November 2013.

Tulisan ini merupakan bagian dari Program Riset CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri.

(Visited 309 times, 1 visits today)