Liputan Khusus

Gagap Bahasa, Kendala Kampanye Perubahan Iklim

Perlu dibuat pesan unik untuk memberikan efek emosi dan mendorong masyarakat melek akan keadaan yang sesungguhnya.
Bagikan
0

Paling popular

Dayak woman reading CIFOR publication

Indonesia - Merancang suatu strategi komunikasi memerlukan bahasa sebagai alat utama proses berbagi pesan dengan publik. Penuturan bahasa yang baik dan mudah diserap tentu akan memberikan pertukaran makna yang sesuai dengan harapan penutur. Hal ini berlaku di semua hal, tak terkecuali dalam penyuluhan dan kampanye mengenai perubahan iklim di masyarakat.

Praktek – praktek yang terjadi di lapangan, ketidakseragaman bahasa mengenai makna dan istilah teknik masalah iklim menjadi tantangan tersendiri dalam merancang strategi komunikasi. Fungsi bahasa sebagai alat tutur untuk memberikan pengertian, pemahaman dan membuka wawasan para pemangku kepentingan serta masyarakat yang tinggal di berbagai komunitas tidak berjalan dengan baik.

“Memberikan pengertian ‘mengikat karbon’ bukan hal yang gampang. Karena petani tidak mengerti bahasa yang tinggi-tinggi, kami mencoba mencari bahasa yang mudah dipraktekkan di lapangan,” tutur Shintia Dian Arwida, editor majalah Petani.

Pengalaman serupa juga dirasakan Koen Setyawan dari Jaringan Pendidikan Lingkungan, misalnya dalam sulitnya memberikan pemahaman efek gas rumah kaca yang menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi dan perubahan iklim. Ia perlu membuat alat peraga sederhana berupa bola bumi kecil yang ditempatkan dalam kotak kaca untuk mendemonstrasikan proses meningkatnya pantulan gelombang panas dari permukaan bumi di atmosfer akibat naiknya konsentrasi gas CO2.

Riza Damanik dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menyatakan bahwa strategi komunikasi yang baik akan membantu menyamakan pemahaman masyarakat mengenai bahaya perubahan iklim. “Perlu dilakukan riset lokal untuk menyederhanakan mekanisme pengertian perubahan iklim [untuk setiap daerah], karena ancaman perubahan iklim bagi kehidupan masyarakat berbeda satu sama lain,” ujarnya pada seminar mengenai peran komunikasi dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Bogor, 8 Maret 2011. Seminar ini diselenggarakan oleh Yayasan Kehati, bekerja sama dengan Nuffic Neso dan Universitas Utrecht, Belanda.

Bahasa lokal, contoh lokal

Hambatan bahasa tak selamanya disikapi apatis. Inisiatif dan kreativitas lokal bertumbuh seiring dengan meningkatnya kesadaran lingkungan. Penggunaan bahasa dalam kampanye yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, misalnya, terbilang unik. Fahmi Hidayat dari Dieng Recovery Team Work menggunakan pesan “Mari, Kita Biarkan Dieng Menjadi Gurun” sebagai tagline kampanye pemulihan kawasan Dieng. Hal ini ia lakukan karena ia merasa perlu mengugah kesadaran masyarakat Dieng secara drastis. Selama ini, masyarakat terlibat pasif – mereka hanya mendengarkan himbauan dari pemerintah daerah. Hasilnya cukup menggembirakan. Satu demi satu petani mulai tertarik untuk mengetahui lebih lanjut kondisi Dieng dan bertanya langsung kepada Fahmi setelah membaca pesan kampanye.

“Saya perlu membuat pesan unik untuk membedakan kampanye Dieng Recovery Center dengan kampanye pemerintah, terutama untuk memberikan efek emosi dan mendorong masyarakat melek akan keadaan Dieng yang sesungguhnya,” ujar Fahmi.

Kawasan Dieng saat ini mengalami kerusakan ekologi akibat pencemaran di batang sungai, erosi tinggi, degradasi lahan dan sumber daya air serta masalah kepemilikan lahan yang 85% dimiliki pribadi oleh petani.

Prinsip Sapu Lidi

Inisiatif kampanye lokal yang tumbuh dari masyarakat hendaknya disikapi bijaksana oleh pemerintah. Pemerintah sebagai pusat tampuk kebijaksanaan tertinggi hendaknya bertindak sebagai koordinator yang mengikat semua pelaku kampanye perubahan iklim, menurut Fahmi, sebagai salah satu pelaku inisiatif lokal.

“Seperti sapu lidi, berbagai inisiatif kampanye perubahan iklim dari berbagai pihak adalah sebagai batang-batang lidi,” kata Fahmi. “Pemerintah adalah simpul yang menyatukan inisiatif-inisiatif tersebut, termasuk membantu melalui sinergi, koordinasi dan integrasi antar instansi pemerintah untuk mengatasi birokrasi.”

Seminar ini memberikan catatan bahwa pemerintah dapat memberikan arahan penggunaan bahasa yang baik dan benar supaya pengertian mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dapat dimengerti pada konteks lokal. Pemerintah hendaknya mulai berbuat untuk memasukkan penyederhanaan bahasa ke dalam strategi komunikasi nasional untuk meningkatkan kesadaran akan ancaman perubahan iklim.

(Visited 115 times, 1 visits today)