Wawancara

T & J: Peta titik api emisi menyediakan landasan bagi strategi perubahan iklim

Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah membantu petani mendapat informasi agar dapat segera mengambil keputusan.
Bagikan
0
Kita memerlukan ternak, beras dan beberapa hutan akan hilang, tapi apa yang kita butuhkan adalah untuk menyeimbangkan keuntungan dan kerugian relatif bila melakukan satu atau yang lain, kata Mariana Rufino, ilmuwan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional. CIFOR / Yayan Indriatmoko
Kita memerlukan ternak, beras dan beberapa hutan akan hilang, tapi apa yang kita butuhkan adalah untuk menyeimbangkan keuntungan dan kerugian relatif bila melakukan satu atau yang lain, kata Mariana Rufino, ilmuwan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional. CIFOR / Yayan Indriatmoko

Paling popular

Warsawa, Polandia (22 November 2013) – Peta yang menunjukkan titik api emisi gas rumah kaca dapat membantu pengelolaan lahan di negara-negara yang tengah mempersiapkan strategi mitigasi perubahan iklim, seorang ilmuwan menyatakan.

“Kami ingin meningkatkan akurasi estimasi dan menetapkan standar global titik api emisi GRK,” kata Mariana Rufino, seorang ilmuwan senior di Climate Change Agriculture and Food Security (CCAFS) dan Center for International Forestry Research (CIFOR).

“Mitigasi melibatkan pembuatan keputusan tentang bagaimana memperlambat atau mencegah perubahan iklim,” lanjut Rufino, menambahkan bahwa peta titik api membantu para pembuat keputusan berkontribusi di negosiasi iklim internasional.

Refino mendiskusikan hasil kerjanya menjelang konferensi iklim PBB di Warsawa, dimana pemantauan, verifikasi dan pelaporan emisi menjadi poin perdebatan utama negosiasi.

T: Jadi apa tujuan penelitian ini?

J: Secara umum, setiap orang tahu, membabat hutan adalah suatu masalah,  juga peternakan menyebabkan masalah emisi, serta persawahan menghasilkan metana, namun semuanya sedang terjadi. Kita membutuhkan peternakan serta padi dan hutan-hutan mulai berkurang, namun yang kita butuhkan yaitu keseimbangan antara keuntungan dan kerugian yang relatif ketika mengerjakan satu hal dan lainnya.

T: Teknik seperti apa yang Anda gunakan dalam mengukur emisi?

J: Ilmuwan mengambil contoh gas dari tanah, menganalisanya menggunakan peralatan lab yang sesuai, menkonversi pengukuran tsb menjadi emisi untuk menentukan berapa kilogram ekuivalen CO2 yang dikeluarkan per meter persegi atau per hektar. Banyak negara-negara berkembang tidak memiliki angka-angka ini untuk aktivitas berbasis lahan. Apa yang terjadi kemudian adalah, banyak negara di dunia menggunakan estimasi emisi dari aktivitas kehutanan pertanian berdasarkan estimasi eksternal – kebanyakan dari Amerika atau Eropa. Apa yang kemudian dilaporkan adalah estimasi emisi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab itu, para ilmuwan harus mengisi kekurangan ini.  Suatu pelatihan penetapan prioritas bisa membantu untuk memutuskan awal mula pengumpulan data berdasarkan tingkat kepentingan dari GRK dan potensi mitigasi.

T: Apa strategi ini secara keseluruhan?

J: Strategi kami yaitu menyertakan emisi rumah kaca gas GHG dari lahan saja. Jadi analisisnya akan mengecualikan pemanfaatan bahan bakar fosil dan layer peta tanah, iklim, vegetasi, aktivitas perkebunan, kerugian dikarenakan degradasi tanah dan mengkombinasikannya dengan faktor emisi, untuk menghitung emisi. Kami berfokus pada emisi yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Program ini juga tertarik dengan ketahanan pangan dan pengurangan kemiskinan, identifikasi intervensi mitigasi masa depan akan melibatkan jangkauan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Kami harus melakukan sesuatu dengan cepat untuk masyarakat miskin. Kami harus mengkombinasikan Kehutanan, peternakan dan peta lahan basah, serta harus menemukan cara bagaimana menggabungkan semuanya dengan cara mitigasi yang memungkinkan.

P: Bagaimana kemajuan yang didapatkan sejauh ini?

J: Kami menetapkan tantangan penelitian ini dua tahun lalu. Awalnya, kami memakai beberapa lokasi, satu di Kenya dan satunya di Filipina. Lalu kami menambahkan lagi tiga lokasi lain. Kami mulai mengukur emisi dari bentang alam – langsung dari bentang alam. Kami memilah karaktek masing-masing diawali dengan memperhatikan para pengguna lahan. Kami tahu para petani menggunakan lahan, namun kami juga harus tahu jenis petani apa, aktivitas seperti apa yang dilakukan, jenis tanaman yang ditanam dan hewan apa yang berproduksi, serta tingkat pendapatan yang didapat dengan aktivitas berbasis lahan ini.

Setelah kami memahami bagaimana lahan digunakan, kami mengembangkan desain statistik dan memilih beberapa titik di bentang alam kemudian mulai mengukur emisi – semua gas: metana, nitro oksida, karbon dioksida, dan cadangan karbon. Kami juga mengukur produksi dan memperkirakan sisi ekonomis dari semua aktivitas produksi ini. Kami telah melakukannya hampir setahun dan berencana untuk melanjutkannya, namun ini tergolong mahal, intensif dan butuh Kelompok kerja besar. Selanjutnya ada kebutuhan untuk menargetkan penelitian masa depan di lokasi-lokasi yang ditengarai memiliki emisi tinggi dan memungkinkan untuk mitigasi.

T: Bagaimana memastikan bahwa upaya-upaya mitigasi ini dapat diandalkan?

J: Pilihan mitigasi mungkin terlihat tangguh jika tidak diletakkan dalam konteks variabilitas iklim. Sebagai contoh, satu tahun mungkin akan terlihat sepertinya berjalan dengan sangat bagus dan tahun berikutnya akan terlihat sebagai sebuah kegagalan yang besar – ini hanyalah bagian dari variabilitas keseluruhan yang tumbuh baik dalam sistem alamiah dan biologis serta diasosiasikan dengan perubahan iklim.

P: Bagaimana peta-peta ini akan membantu para petani skala kecil?

J: Dalam konteks variabilitas iklim, hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk membantu petani adalah memberikan mereka informasi sehingga dapat segera memutuskan sesuatu dengan cepat. Ini mungkin mencakup, contohnya, apakah memungkinkan untuk menanam jagung atau apakah lebih baik sorgum – atau tidak menanam sama sekali jika risikonya adalah pertanian atau dana investasinya akan hilang. Saat mereka bisa mengelola informasi mereka sendiri, mereka akan mampu menciptakan keputusan adaptasi.

Peta yang jelas menggambarkan emisi GRK dapat membantu negara-negara untuk memprioritaskan intervensi mitigasi yang dapat menguntungkan petani bila mekanisme pendanaan tersedia bagi mereka. Pendanaan mekanisme untuk mitigasi tentu saja dapat disinergikan dengan adaptasi. Oleh karenanya, analisis titik api akan memasukkan variabilitas iklim untuk mengakses ketangguhan intervensi mitigasi.

T: Bagaimana para petani bisa menyeimbangkan antara adaptasi dan mitigasi?

Untuk keputusan yang terkait mitigasi, petani dapat membuat pilihan untuk memperhitungkan perubahan iklim. Sebagai contoh, petani memutuskan bagaimana pupuk digunakan untuk mendapatkan panen yang maksimum. Jika mereka telah menyadari bahwa hanya dengan merubah tekniknya mereka telah mampu mengurangi setengah emisi, jadi, mengapa tidak mengadaptasi teknik tersebut? Ini adalah keputusan mitigasi dalam jangka pendek yang dapat menjadi keputusan adaptasi untuk jangka panjang. Ada bukti,  pengelolaan kesuburan tanah bisa digunakan untuk mengadaptasi perubahan iklim. Jadi ini adalah sebuah contoh bagaimana mitigasi dan adaptasi dapat bekerja bersama untuk meningkatkan penghidupan.

T: Apakah yang ditunggu di masa depan untuk pemetaan emisi GRK?

Estimasi-estimasi ini dibutuhkan di seluruh penjuru dunia – dan saya yakin akan hal itu. Cepat atau lambat, hal ini harus terjadi di mana-mana. Mekanisme kompensasi akan dibutuhkan untuk mengimplementasikan pilihan mitigasi. Jika di sebuah negara terdapat areal lahan basah atau gambut yang luas – saya berbicara tentang berton-ton karbon yang dikeluarkan – maka mekanisme mitigasi harus dikompensasikan untuk memengaruhi pembangunan ekonomi di areal tersebut serta melindungi ekosistem kaya karbon.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai tema yang didiskusikan dalam artikel ini, silakan menghubungi Mariana Rufino di m.rufino@cgiar.org.

Tulisan ini adalah bagian dari Program Penelitian CGIAR tentang Perubahan Iklim, Pertanian dan Ketahanan Pangan (CCAFS).

(Visited 125 times, 1 visits today)
Topik :   Bentang alam Gambut dan Mangrove