Berita

Tantangan sertifikasi jasa ekosistem hutan

Ada kekecewaan di luar sana dengan semua standar sertifikasi dan lebih atau kurangnya sama, tetapi tidak benar-benar sama.
Bagikan
0
Sementara sertifikasi bagi produk perdagangan nyata seperti kopi dan kayu telah terbukti dan teruji, pergeseran ke arah sertifikasi jasa ekosistem masih dirasa sebagai hal baru. Dita Alangkara untuk CIFOR.
Sementara sertifikasi bagi produk perdagangan nyata seperti kopi dan kayu telah terbukti dan teruji, pergeseran ke arah sertifikasi jasa ekosistem masih dirasa sebagai hal baru. Dita Alangkara untuk CIFOR.

Paling popular

WARSAWA, Polandia (25 November 2013) –  Timbulnya tantangan di sertifikasi jasa ekosistem hutan, delegasi di pertemuan puncak iklim PBB di Warsawa berusaha mengantisipasi pengetahuan baru dari pertemuan organisasi sertifikasi awal November yang lalu.

Terbangun dari aliansi berusia setahun, The Gold Standard Foundation dan Forest Stewardship Council (FSC) menggabungkan kekuatan dengan Fairtrade International untuk menggali tantangan sertifikasi jasa ekosistem hutan di Forum Bentang Alam Global (GLF), 16 dan 17 November yang lalu.

Organisasi tersebut telah berpartisipasi dalam “Sertifikasi jasa ekosistem di hutan dan pertanian: Menjamin keaslian MRV serta integritas sosial dan lingkungan pada tingkat bentang alam,” satu dari 17 sesi teknis dan jejaring di dalam Forum GLF.

FSC dan Gold Standard didirikan oleh World Wide Fund for Nature (WWF). Sejak 1993, FSC berpromosi bahwa manajemen hutan yang didanainya telah layak secara lingkungan, menguntungkan secara sosial dan dapat berlangsung secara ekonomi. Gold Standard, dibangun tahun 2003, memiliki spesialisasi yaitu projek sertifikasi energi terbarukan dan efisiensi energi, memberi jaminan pengurangan reduksi emisi gas rumah kaca (GHG), juga mendorong manfaat pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal yang dapat diukur, dilaporkan dan diverifikasi (MRV).

Di tahun 2012, FSC dan Gold Standard menjalin kemitraan dan bersama-sama mengakui pendekatan terhadap pengamanan sosio-lingkungan dan pendekatan Gold Standard untuk sertifikasi karbon. Model kolaborasi masa depan ini memperkirakan, Gold Standard akan menggunakan Prinsip dan Kriteria FSC global dan untuk manajemen hutan bertanggungjawab. Kebalikannya, FSC akan bergantung pada pendekatan Gold Standard untuk menghitung karbon dan pembagian manfaat ketika operasi hutan tersertifikasi FSC.

“Saat kami dengar Gold Standard masuk dalam sertifikasi penggunaan lahan, kami pikir bahwa dua organisasi bersaudara dengan kepentingan lingkungan dan sosial yang sama bisa menawarkan paket ke pasar,” kata Gregory Jean, manajer kebijakan di FSC yang bersama-sama memfasilitiasi sesi di Warsawa.

ENERGI VERSUS PENGGUNAAN LAHAN

Sertifikasi melibatkan MRV penjaminan hasil sesuai yang dijanjikan – misalnya reduksi satu ton emisi – benar-benar tercapai. Sementara sertifikasi untuk produk –– tangible — seperti perdagangan kopi secara adil dan kayu terbukti dan teruji, pergeseran ke arah sertifikasi jasa ekosistem yang kurang — tangible — relatif baru.

Awalnya, Gold Standard dan FSC akan fokus pada projek afforestasi dan reforestasi. Dalam kerjasama dengan para pemangku kepentingan, kedua mitra akan lebih jauh menjalin sistem mereka untuk mencakup projek manajemen hutan lebih maju, demikian pula jasa ekosistem hutan tambahan seperti air atau keragaman hayati melalui projek REDD+.

“Ada perbedaan besar antara sertifikasi projek energi dan projek penggunaan lahan,” ujar fasilitator pendamping, Pieter van Midwoud, direktur pengembangan bisnis, penggunaan lahan dan hutan dari Gold Standard.  Sebuah projek energi terbarukan, seperti tungku masak lebih efisien yang mengurangi penggunaan kayu bakar, memberi dampak tidak langsung pada bentang alam, katanya. Sebaliknya, inisiatif penggunaan lahan diterapkan secara langsung pada tanah, lebih membutuhkan perhatian pada dampak – baik positif maupun negatif – terhadap keragaman hayati dan ekosistem.

“Melalui citra satelit, kita bisa mendapat gambar rinci apa yang terjadi,” katanya. “Ini kompleks dan menantang, tetapi orang bekerja setiap hari untuk mendapatkan teknik baru dan lebih baik.”

KERJA TENGAH BERLANGSUNG

FSC tengah mengembangkan indikator untuk menyediakan kebutuhan spesifik terkait jasa ekositem. Sementara, FSC dan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) bekerja sama untuk mengukur dampak sertifikasi setelah beberapa waktu, meninjau khususnya pada keragaman hayati, karbon dan dampak sosial. Mereka berencana untuk mengukur dampak manajemen pada jasa ekosistem spesifik di 10 tempat percontohan di empat negara.

CIFOR dan FSC juga mengerjakan analisis pasar dunia, kata Alison von Ketteler, manajer program Sertifikasi Hutan untuk Jasa Ekosistem (ForCES) FSC. Sebagai bagian proses ini, mereka menentukan apakah pemegang sertifikat saat ini bersedia untuk meningkatkan sertifikasi mereka termasuk jasa ekosistem hutan. Mereka telah meminta badan sertifikasi dan “pendukung” – LSM dan badan pembangunan mengerjakan sertifikasi – untuk menyalurkan kapasitas untuk menawarkan pelatihan dan sertifikasi terkait jasa ekosistem hutan.

“Kami tahu terdapat beberapa pasar potensial, baik itu publik atau swasta,” katanya. “Kami bekerja untuk menentukan pasar mana yang terbaik.”

“Kami tidak harus takut akan tantangan yang rumit,” kata Van Midwoud. “Ada kekecewaan di luar sana dengan semua standar sertifikasi dan lebih atau kurangnya sama, tetapi tidak benar-benar sama. Dalam acara kami di Warsawa, kami ingin tunjukkan bagaimana menyatukan pendekatan Gold Standard dan FSC di skala lebih luas, tingkat bentang alam,”

Untuk mempelajari lebih mengenai Forum Bentang Alam Global, klik di sini http://www.landscapes.org

(Visited 152 times, 1 visits today)
Topik :   Bentang alam Sertifikasi Kayu