Berita

Meninjau kembali investasi bentang alam untuk membantu pembangunan lestari

Daripada berdebat soal definisi, kita seharusnya menjamin bahwa investasi besar yang sudah ada diterapkan dengan berkelanjutan.
Bagikan
0
“Jika kita menempatkan bentang alam sebagai bagian utama aktivitas, maka kita bisa mengintegrasikan manfaat yang membentuk bentang alam dan menjaga dukungan terhadap jasa lingkungannya,” kata Deborah Bossio, direktur wilayah riset tanah Pusat Penelitian Internasional Pertanian Tropis (CIAT). CIFOR/Kate Evans
“Jika kita menempatkan bentang alam sebagai bagian utama aktivitas, maka kita bisa mengintegrasikan manfaat yang membentuk bentang alam dan menjaga dukungan terhadap jasa lingkungannya,” kata Deborah Bossio, direktur wilayah riset tanah Pusat Penelitian Internasional Pertanian Tropis (CIAT). CIFOR/Kate Evans

Paling popular

Malawi - WARSAWA, Polandia (16 Januari 2014) — Ketika ilmuwan bersiasat mengenai cara terbaik untuk memperkenalkan pendekatan menyeluruh ”bentang alam” dalam menyeimbangkan timbal balik antara konservasi dan pembangunan, pengambil kebijakan dan praktisi mempertimbangkan bagaimana mereka dapat “berinvestasi” di bentang alam, dan apakah bentang alam bisa menjadi peluang investasi.

Pertanyaan itu didiskusikan dalam acara yang diselenggarakan oleh Program Riset CGIAR mengenai Air, Tanah dan Ekosistem, pada Forum Bentang Alam Global (GLF).

Di dunia ini, investasi dilakukan dalam pembangunan pertanian, hidropower, pertambangan dan proyek konstruksi jalan, yang akan mempengaruhi wilayah luas. Agenda kebijakan pertumbuhan hijau dan ketahanan iklim juga menangkap perhatian program investasi skala besar, terutama infrastruktur.

“Akankah investasi ini mengarah pada pembangunan berkelanjutan, ekosistem sehat dan masyarakat setara?” tanya Deborah Bossio, direktur wilayah riset tanah Pusat Penelitian Internasional Pertanian Tropis (CIAT) pada acara, yang digelar bersama dengan perbincangan iklim PBB di Warsawa, Polandia.

“Mungkin tujuan kita, daripada berdebat soal definisi, seharusnya menjamin bahwa investasi besar yang sudah ada diterapkan dengan cara yang lebih berkelanjutan,” kata Bossio.

FOKUS MASA DEPAN

Sejak Revolusi Hijau 1960 dan 1970-an, fokus beralih pada peningkatan produksi seraya memitigasi dampak negatif pertanian. Perubahan iklim telah mempertajam fokus ini.

Pembicara pada sesi GLF berpendapat bahwa pengambil kebijakan saat ini harus lebih jauh dari sekadar tetapan target mengurangi dampak negatif dalam mencapai sistem pangan berkelanjutan. Kebijakan harus mengatasi masalah rumit terkait dengan cara masyarakat, lembaga dan kerangka aturan berinteraksi, sambil mempertimbangkan baik itu dampak negatif perubahan iklim pada produksi pertanian dan dampak negatif pertanian pada perubahan iklim.

“Melihat gambaran besar juga berarti fokus lebih luas daripada perubahan iklim; ini perlu bergerak menuju keberlanjutan seraya mempertimbangkan instabilitas sistem pangan terkait gangguan ekonomi dan degradasi sumber daya alam,” kata Bossio.

“Kami percaya bahwa jika kami menempatkan bentang alam sebagai bagian utama aktivitas, maka kita bisa mengintegrasikan manfaat yang membentuk bentang alam dan menjaga dukungan jasa lingkungannya.”

Memikirkan ulang investasi bisa dilaksanakan dalam beragam bentuk.

INVESTASI PEMERINTAH UNTUK BARANG PUBLIK

Projek pengelolaan daerah aliran sungai besar di Nepal bertujuan untuk meningkatkan penghidupan dengan mengelola air, membalik degradasi lahan dan meningkatkan pengelolaan hutan, kata panelis Luna Bharati, peneliti senior hidrologi dan sumber daya air Institut Manajemen Air Internasional (IWMI).

Bantuan Teknis Strategis untuk Mendukung Pembangunan Ketahanan Iklim Daerah Aliran Sungai dalam Projek Eko-Wilayah Gunung, Nepal, dikoordinasikan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Departemen Konservasi Tanah dan Manajemen Daerah Aliran Sungai Nepal, akan mengambil pendekatan agro-ekologis menuju stabilisasi bentang alam tinggi perbukitan seraya memperkuat ketahanan sistem pertanian wilayah dengan mengintegrasikan sumber alam, termasuk tanah, pohon dan air, kata Bharati.

Pendekatan ini baru – di masa lalu, upaya pembangunan daerah aliran sungai tinggi terfokus hanya pada konservasi tanah dan manajemen hutan. IWMI dan ADB mampu membujuk pemerintah Nepal mencoba pendekatan terintegrasi dengan menyediakan bukti kuat manfaat yang bisa didapat dengan mengelola air untuk kegunaan produktif lereng, tidak hanya di wilayah rendah. Jika berhasil, ini akan segera diluncurkan di seluruh ADB dan program daerah aliran sungai yang dikelola Pemerintah Nepal.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan ketersediaan air bagi petani tadah hujan di wilayah, baik tinggi maupun rendah yang tidak memiliki keamanan ketersediaan air akibat perubahan musim hujan ekstrem. Sekitar 85 persen hujan di wilayah selama empat bulan musim hujan langsung masuk ke anak sungai, meninggalkan dataran tinggi kekurangan air di musim kering, kata Bharati.

Perencanaan termasuk menciptakan jeram kolam kecil pertanian untuk irigasi, kolam serapan untuk mengisi mata air dan sungai, membangun bendungan di sungai kecil pegunungan dan menciptakan teras di lahan. Mengintegrasikan manajemen air, tanah dan hutan adalah komponen kunci strategi ini.

Pendekatan beragam ini terfokus pada peningkatan penghidupan masyarakat menjadi contoh pendekatan bentang alam: Disiapkan untuk manajemen terintegrasi lahan, vegetasi dan sumber air untuk hasil menyeluruh lebih baik bagi masyarakat yang hidup dalam bentang alam.

INVESTASI PEMERINTAH DAN SWASTA UNTUK PETANI KECIL

Populasi lebih dari tiga kali lipat di Malawi dalam 50 tahun terakir, menjadikan hutan sebagai korban ketika petani mencari tanah baru, kata Sosten Chiotha, direktor program regional Kepemimpinan untuk Lingkungan dan Pembangunan (LEAD) di Selatan Afrika.

Sekitar 84 persen masyarakat pekerja di Malawi bergantung pada sektor sumber alam, kata Chiotha.

Program subsidi pupuk pemerintah membuktikan bahwa Malawi memiliki kemauan politis untuk membangun projek ketahanan pangan skala besar.

Program baru penciptaan bantuan untuk membangun sistem pangan berkelanjutan termasuk insentif konservasi pertanian, termasuk mengintegrasikan manajemen kesuburan tanah, rotasi tanaman, penanaman pohon, tumpang sari dan integrasi tanaman dengan produksi ternak.

Investasi swasta di Malawi saat ini dialirkan untuk perkayuan skala besar dan perkebunan teh.

Mengorganisasikan petani kecil ke dalam asosiasi formal bisa mendorong investor swasta yang seringkali mengabaikan kepemilikan lahan kecil karena ketidakpastian kepemilikan, kata Chiotha, menambahkan bahwa kemitraan pemerintah-swasta dalam kayu dan suplai air dapat menciptakan skema kompensasi yang mendorong rumah tangga meningkatkan lingkungan, yang memberi barang dan jasa vital.

Menggabungkan inovasi dalam investasi pemerintah dan swasta dalam usaha rumahan adalah kunci untuk memperbaiki dan menjaga sehatnya bentang alam di Malawi, kata Chiotha.

Walaupun skenario ini maupun yang di Nepal tidak mampu menghubungkan antara modal investasi dan menjaga bentang alam.

“Dialog berkelanjutan diperlukan untuk membangun bahasa yang sama mengenai investasi dan untuk mengeksplorasi inovasi,” kata Bosso, hingga entitas pemerintah dan swasta membangun mekanisme pasar serta struktur insentif untuk memproduksi masa depan berkelanjutan yang diinginkan untuk bentang alam pertanian.

Informasi lebih jauh mengenai topik diskusi dalam artikel ini, silahkan hubungi Deborah Bossio d.bossio@cgiar.org atau Louis Verchot di l.verchot@cgiar.org

Karya ini didukung oleh program riset CGIAR mengenai Air, Tanah dan Ekosistem.

(Visited 263 times, 1 visits today)
Topik :   Bentang alam