Berita

Riset temukan kaitan antara tutupan pohon dan nutrisi pada anak-anak

Keragaman makanan meningkat seiring tutupan pohon. Anak-anak di tempat dengan banyak pepohonan memiliki makanan yang lebih sehat.
Bagikan
0
Penelitian kami di Afrika menemukan, anak-anak yang tinggal di dalam masyarakat yang dikelilingi tutupan hutan memiliki keragaman makanan lebih tinggi dan mengonsumsi lebih banyak buah serta sayur,” kata Amy Ickowitz, ilmuwan CIFOR. Photo: Aulia Erlangga/CIFOR
Penelitian kami di Afrika menemukan, anak-anak yang tinggal di dalam masyarakat yang dikelilingi tutupan hutan memiliki keragaman makanan lebih tinggi dan mengonsumsi lebih banyak buah serta sayur,” kata Amy Ickowitz, ilmuwan CIFOR. Photo: Aulia Erlangga/CIFOR

Paling popular

Africa - BOGOR, Indonesia (3 Februari 2014) – Kecenderungan pada anak-anak yang tinggal di wilayah Afrika dengan tutupan pohon rapat makanan bergizi yang lebih banyak, menambah kepercayaan akan penelitian yang menunjukkan bahwa hutan memiliki peranan kunci dalam ketahanan pangan, merujuk jurnal baru yang dipublikasikan Perubahan Iklim Global.

Meningkatkan produksi tanaman pangan kaya energi seperti beras, jagung, dan gandum dipandang penting untuk mencapai ketahanan pangan global, tetapi jika mengorbankan hutan justru bisa merusak ketahanan pangan.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa anak-anak di Afrika yang tinggal di dalam masyarakat yang dikelilingi tutupan hutan memiliki keragaman makanan lebih tinggi dan mengonsumsi lebih banyak buah serta sayur,” kata Amy Ickowitz, ahli ekonomi Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). “Di daerah ini, keragaman makanan meningkat seiring tutupan pohon, anak-anak di tempat dengan banyak pepohonan memiliki makanan yang lebih sehat.”

TANTANGAN YANG RUMIT

Secara global, sekitar 870 juta orang tidak memiliki cukup makanan, dan lebih dari dua miliar menderita defisiensi mikronutrisi, atau “kelaparan tersembunyi”, menurut lembaga pangan PBB, sementara ada 1,4 miliar orang obesitas atau kelebihan berat badan. Data PBB memproyeksikan bahwa populasi global akan meningkat dari 7 miliar ke lebih dari 9 miliar pada 2050, memerlukan peningkatan produksi makanan sepadan, dan tentu akan memberikan tekanan lebih terhadap hutan-hutan tropis yang sudah dilanda ekspansi pertanian tak berkelanjutan.

“Ketika pentingnya konsumsi mikronutrien dan keragaman makanan diakui, kebutuhan untuk bergerak meningkatkan area produksi atau hasil tanaman pokok guna mencapai ketahanan pangan menjadi jelas,” kata Ickowitz . Bukti terbaru menunjukkan antara 1980 dan 2000,  95 persen lahan baru untuk pertanian awalnya merupakan lahan yang tertutup oleh hutan, tambahnya.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menggunakan analisis regresi untuk menentukan hubungan statistik antara tutupan pohon dan kualitas gizi makanan anak-anak. Mereka memantau data makanan dari survei kesehatan demografis 93.000 anak-anak antara usia 1 dan 5 tahun dari 21 negara Afrika dan mengombinasikannya dengan data tutupan pohon dari Global Land Cover Facility. Regresi ini menemukan korelasi positif yang signifikan secara statistik antara tutupan pohon dan keragaman makanan.

KESETIMBANGAN RENTAN

Para peneliti berusaha menguji hubungan tutupan pohon dengan tiga indikator kunci kualitas makanan yang terhubung ke asupan mikronutrien — keragaman makanan, konsumsi buah dan sayuran, serta konsumsi makanan hewani.

Sepanjang penelitian, ditemukan pengamatan menarik : Konsumsi buah dan sayuran meningkat sampai 45 persen tutupan pohon, kemudian menurun seiring dengan peningkatan tutupan pohon yang lebih tinggi dari itu. Tidak ditemukan hubungan serupa antara tutupan pohon dan konsumsi sumber makanan hewani.

Ada tiga skenario yang dengan itu Ickowitz menduga ada dampak positif tutupan pohon pada gizi.

Pertama, anak-anak yang tinggal di daerah dekat hutan mungkin memiliki akses lebih besar terhadap buah liar, sayuran hijau, lundi, siput dan daging hewan liar — makanan yang bisa memberikan mikronutrisi penting seperti vitamin A, zat besi, dan seng.

Kedua, `rumah tangga yang menanam atau memanen tanaman hutan di lahan mereka memperoleh keuntungan dari peningkatan akses terhadap buah-buahan dan kacang-kacangan dari pohon.

Ketiga, teknik pertanian yang digunakan di banyak area hutan menghasilkan bahan makanan yang lebih bergizi karena melibatkan percampuran mosaik kompleks beragam tanaman, kata Ickowitz.

“Kunci yang mendasari tiga skenario tersebut,” katanya, “adalah kondisi yang mencegah orang di semua tempat memiliki akses sama yang diatur pasar terhadap makanan bergizi. Misalnya, mereka tidak dapat membeli barang di toko lokal karena tidak memiliki uang tunai, atau  mereka tinggal di daerah terpencil dan bergantung pada hasil dari kawasan hutan lokal mereka.”

Meskipun para ilmuwan menemukan bukti yang menghubungkan tutupan pohon dan indikator kualitas makanan, data yang mereka miliki tidak membedakan hutan alam, hutan tanaman, lahan gambut tua, dan agroforestri.

“Kami tidak dapat mencari tahu dari data kami apakah orang yang tinggal di dekat hutan mengumpulkan makanan yang lebih bergizi dari hutan, apakah mereka membudidayakannya di lahan pertanian dan hutan agro, atau kombinasi,” kata Ickowitz.

“Hasil penelitian menunjukkan deforestasi dapat memiliki efek negatif jangka panjang pada gizi, sehingga penting bahwa kita melakukan penelitian lebih lanjut untuk lebih memahami hubungan yang telah kita temukan antara tutupan pohon dan gizi.”

Untuk informasi lebih lanjut tentang topik yang dibahas dalam artikel ini, silakan hubungi Amy Ickowitz di a.ickowitz@cgiar.org

Penelitian CIFOR tentang hutan dan nutrisi merupakan bagian dari Program CGIAR mengenai Hutan, Pohon, dan Agroforestri serta  didukung oleh Departemen Pembangunan Internasional Inggris (DFID) dan Badan Pembangunan Austria.

(Visited 118 times, 3 visits today)
Topik :   Bentang alam