Berita

Laporan: Kendala kultur – membatasi tersedianya data peran hutan bagi ketahanan pangan

Pemahaman pangan hutan dapat mengurangi penebangan untuk pertanian dan membantu mengatasi malnutrisi masyarakat miskin.
Bagikan
0
Rendahnya promosi akan perubahan perilaku untuk mendorong konsumsi makanan masih merupakan tantangan, kata Barbara Vinceti, ilmuwan dari Bioversity International. CIFOR / Yayan Indriatmoko
Rendahnya promosi akan perubahan perilaku untuk mendorong konsumsi makanan masih merupakan tantangan, kata Barbara Vinceti, ilmuwan dari Bioversity International. CIFOR / Yayan Indriatmoko

Paling popular

Africa - BOGOR, Indonesia (13 Februari 2014) _ Hutan dapat memainkan peran lebih besar untuk secara berkelanjutan memberi makan pertumbuhan populasi global, tetapi kontribusi ini terhambat, karena menurut kajian baru, disebabkan faktor kultural dan keterbatasan data mengenai komposisi nutrisi sumber pangan hutan.

Penulis kajian merekomendasikan pendekatan holistik untuk mengkaji dan meningkatkan pangan berbasis hutan dan perannya dalam “diet berkelanjutan,” sebuah usulan kerangka untuk mengatasi keamanan pangan, bagi pertumbuhan pendudukan yang diproyeksikan PBB lebih dari 9 miliar pada 2050, dan sejalan dengan perubahan iklim yang membuat pola panen dalam risiko.

Pemahaman lebih baik mengenai pangan hutan juga dapat mengurangi tekanan penebangan hutan untuk ekspansi pertanian dan bisa membantu mengatasi malnutrisi masyarakat miskin.

Pangan hutan sangat bernilai nutrisi. “Makanan dari hutan menawarkan sumber nutrisi esensial seperti zat besi, vitamin A dan seng – yang sering kurang dalam diet negara berkembang,” kata Amy Ickowitz, ilmuwan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), salah seorang penulis kajian dan riset terbaru lainnya yang menemukan korelasi kuat antara tutupan hutan dan nutrisi anak di wilayah Afrika.

Walaupun konsumsi masyarakat terhadap pangan hutan – dari buah-buahan, kacang dan jamur hingga daging buruan – sangat bergantung pada kecenderungan dan praktik lokal, demikian menurut kajian tersebut.

“Meningkatkan perubahan perilaku yang diperlukan untuk menggunakan dan mengkonsumsi apa yang sering dipandang sebagai makanan inferior masih merupakan tantangan terbesar,” kata Barbara Vinceti, ilmuwan Bioversity International dan penulis kepala kajian.

Di Afrika Selatan, misalnya, kebanyakan pangan hutan diperdagangkan di pasar lokal dihargai, dan sumber alam liar lebih disukai bahkan ketika produk alternatif dapat ditemukan, demikian menurut kajian.

Tetapi di sub-Sahara Afrika secara umum, beragam buah-buahan tersedia bagi kebutuhan besi harian anak-anak sangat jarang dikonsumsi – walaupun fakta menyebutkan sekitar 48 persen dari 68 persen penduduk menderita malnutrisi, dengan kekurangan zat besi sebagai ukuran rendah nutrisi umumnya, menurut Harvest Plus.

Kendala yang ada tidak hanya kultural, kata Vinceti. Kurangnya data dan ilmu mengenai jenis-jenis buah asli berarti tidak ada ukuran akurat komposisi nutrisi atau keberlanjutan terhadap jenis makanan tertentu.

Dengan data yang lebih baik mengenai komposisi nutrisi pangan berbasis-hutan, menggabungkan “portofolio” beragam spesies pohon buah asli untuk penanaman dalam sistem agroforestri berdasar kalender musiman waktu panen buah “bisa menghasilkan suplai terus menerus nutrisi kunci,” kata Vinceti.

Di antara rekomendasi dalam laporan tersebut adalah bahwa ilmuwan perlu melakukan kajian komparatif mengenai diet bergantung pangan hutan dalam sistem pangan asli dengan tipe lain diet dalam cakupan ketahanan, kesehatan, efektivitas biaya dan keberlanjutan.

“Penekanannya harus mendorong langkah ke depan mengelola keragaman pangan tersedia dalam lanskap heterogen,” kata Vinceti.

Untuk informasi lebih mengenai topik diskusi dalam artikel ini, silahkan hubungi Amy Ichowitz di a.ichowitz@cgiar.org

Penelitian CIFOR tentang hutan dan gizi merupakan bagian dari Program CGIAR Hutan, Pohon dan Agroforestri dan didukung oleh Departemen Pembangunan Internasional Inggris (DFID) dan Badan Pembangunan Austria.

(Visited 133 times, 1 visits today)