Liputan Khusus

Konferensi mangrove berfokus pada peningkatan penghidupan pesisir

Menggunduli hutan mangrove berarti melepaskan emisi karbon penyebab perubahan iklim. Bagaimana dengan proyek akuakultur 2,24 juta hektare?
Bagikan
0
Sebuah pohon mangrove muda di ekosistem mangrove di Doha, Qatar. Photo oleh Neil Palmer/CIAT untuk CIFOR.
Sebuah pohon mangrove muda di ekosistem mangrove di Doha, Qatar. Photo oleh Neil Palmer/CIAT untuk CIFOR.

Paling popular

Indonesia - Catatan Editor: Sebagian konferensi “Restorasi Penghidupan Pesisir” akan disiarkan langsung melalui internet. Kunjungi forestsasia.org untuk menyaksikan pidato pembukaan (18 Feb., 9 – 11); diskusi panel dengan moderator dari Metro TV (19 Feb., 9 – 11); dan sesi penutupan (20 Feb., 3:45 – 17). Semua dalam standar Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB) (UTC+07:00).

BOGOR, Indonesia (17 February 2014) — Dampak rencana terbaru mengkonversi 2,24 juga hektar (ha) hutan mangrove Indonesia menjadi akuakultur tambak udang belum diketahui, namun bisa mengakibatkan strategi manajemen lahan berkelanjutan dalam ancaman, demikian menurut tuan rumah konferensi yang akan digelar di kantor pusat Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

Walaupun Kementerian Kehutanan Indonesia telah menerapkan strategi berkelanjutan untuk perlindungan dan pemanfaatan mangrove, Kementerian Perikanan merencanakan ekspansi akuakultur dari 660.000 ha menjadi lebih dari 2,9 juta ha, demikian menurut Proyek Aksi Mangrove (MAP).

Lebih dari 100 delegasi pada konferensi tiga hari, “Restorasi Penghidupan Pesisir” dituanrumahi MAP dari 17 hingga 20 Februari, akan melakukan debat membahas topik mengenai dampak konversi mangrove, potensi restorasi mangrove dan alterantif penghidupan berkelanjutan di lahan terdegradasi. Mereka kemudian berencana mengembangkan model dan skenario adaptif serta memberi rekomendasi untuk Strategi Mangrove Nasional Indonesia.

Hutan mangrove tropis, yang tumbuh di muara dan area pasang surut antara darat dan laut, membantu melindungi pesisir dari erosi dan daratan dari ombak tinggi. Akar dan daun penyaring garam mangrove membantu mereka hidup di lahan basah payau.

Hutan mangrove juga menyimpan sejumlah besar karbon: “Karbon total tersimpan dalam ekosistem mangrove sangat tinggi dibandingkan dengan kebanyakan jenis hutan,” demikian ditulis dalam laporan CIFOR di tahun 2009 “Simpanan karbon dalam ekosistem mangrove dan lahan gambut.” Menggunduli hutan mangrove, berarti melepaskan sejumlah besar emisi karbon, salah satu pendorong utama perubahan iklim.

RISIKO LINGKUNGAN

Sejak 1980, Indonesia telah kehilangan lebih dari 26 persen mangrove, mengkerut dari wilayah seluas 4,2 juta ha menjadi 3,1 juta ha dalam taksiran kasar akibat meningkatnya tambak akuakultur yang dicetak sebagai bagian “revolusi biru” di akhir abad 20.

Revolusi biru ini dimaksudkan menyediakan lapangan kerja dan meningkatkan akses protein bagi masyarakat pesisir Indonesia, tetapi fokus pada produksi industri uang dilakukan untuk meningkatkan pertukaran mata uang asing, sementara konstruksi, perawatan dan manajemen kolam ikan di bawah standar menurunkan kesehatan ekologis sistem pesisir dan penghidupan masyarakat pesisir, kata MAP

Sekitar 60 persen mangrove yang hilang ditengarai akibat konversi mangrove menjadi akuakultur tambak air payau.

Dari 2000 hingga 2009 kecepatan tahunan deforestasi mangrove di Indonesia adalah 22.000 ha per tahun, demikian menurut MAP. Angka itu akan menyebabkan emisi karbon tahunan 23 juta ton.

Riset menunjukkan bahwa deforestasi tersebut menciptakan sekitar 10 persen emisi karbon dari deforestasi secara global, walaupun hanya terhitung sebesar 0,7 persen dibanding tutupan hutan tropis dunia. Deforestasi mangrove juga mengarah pada subsidensi sistem dekat-pesisir, yang memperburuk dampak naiknya permukaan laut.

Untuk informasi lebih mengenai topik ini, silahkan menghubungi Daniel Murdiyarso di d.murdiyarso@cgiar.org

(Visited 176 times, 3 visits today)
Topik :   Deforestasi Gambut dan Mangrove