Berita

Studi hutan global dan mata pencaharian menantang anggapan umum

Bahkan 10.000 tahun setelah dimulainya Revolusi Pertanian, masyarakat desa masih mencari makan dari alam untuk keberlangsungan hidup.
Bagikan
0
Penduduk desa Lubuk Beringin, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi,  memotong biji palem. Foto: Tri Saputro/ CIFOR
Penduduk desa Lubuk Beringin, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, memotong biji palem. Foto: Tri Saputro/ CIFOR

Paling popular

Catatan Editor:  Artikel ini merupakan seri pertama dari rangkaian artikel yang menjelajahi penelitian baru tentang Poverty and Environment Network (PEN).  Kami persilakan Anda untuk membaca artikel berikutnya dalam minggu-minggu mendatang di situs ini.

BOGOR, Indonesia (21 Maret 2014) __ Dari studi paling komprehensif tentang hubungan antara kehutanan dan penghidupan terkini, para peneliti telah menantang kebijaksanaan konvensional tentang isu-isu kunci, termasuk pentingnya pendapatan dari lingkungan, peran laki-laki dan perempuan dalam pemanfaatan produk hutan, dan fungsi hutan sebagai jarring pengaman.

Sangat mudah untuk membuat stereotip-stereotip mengenai seperti apa dunia ini,” ujar Arild Angelsen, profesor ekonomi dari Norwegia University of Life Sciences dan koordinator studi global ini. “Di dalam pembentukan narasi tertentu, banyak sekali nuansa-nuansa dan variasi-variasi.”

Studi global ini merupakan produk Poverty and Environment Network (PEN) , suatu usaha kolaboratif yang dipimpin oleh Center for International Forestry Research (CIFOR). Lima makalah penelitian pelengkap menangani tema-tema penghasilan pendapatan dan penghidupan pedesaan; jaring keamanan dalam masa kekurangan; jender dan pemanfaatan hutan; pembabatan hutan dan penghidupan; dan tenurial dan pendapatan hutan. Makalah-makalah ini akan terbit di edisi khusus World Development bersamaan dengan satu studi kasus PEN dan enam non-studi kasus PEN beragam dari kasus tingkat mikro sampai analisa tingkat nasional.

Ikhtisar beberapa temuan dari studi global dengan luasan wilayah sampel kurang lebih 8.000 rumah tangga di 24 negara adalah sebagai berikut:

Pendapatan dari hutan alam dan daerah alam lainnya menyumbang 28 persen dari total pendapatan rumah tangga, hampir sama dengan tanaman pertanian.

  • Hutan negara menghasilkan lebih banyak pendapatan dari hutan swasta atau hutan kemasyarakatan.
  • Kaum laki-laki menghasilkan setidaknya pendapatan dari hutan sama banyaknya dengan kaum perempuan, bertentangan dengan asumsi yang lama dipercayai.
  • Hutan tidak terlalu penting dari yang sebelumnya dipercayai sebagai “jaring pengaman” sebagai tanggapan terhadap kejutan-kejutan dan sebagai pengisi celah di antara musim panen.
  • Sementara yang paling berkekurangan dari para petani miskin sering kali disalahkan karena (melakukan) deforestasi, mereka hanya melakukan peran sederhana dalam pembabatan hutan.

“Saya memang sedikit terkejut mengetahui tingginya pendapatan dari lingkungan,” ujar Sven Wunder, yang mengarahkan studi CIFOR di Brasil dan merupakan editor tamu utama Edisi Khusus ini. “Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa, bahkan beberapa 10.000 tahun setelah dimulainya Revolusi Pertanian, masyarakat pedesaan di negara-negara berkembang masih sangat tergantung mencari makan dari alam untuk keberlangsungan hidup mereka.”

AKAR-AKAR DALAM PENELITIAN

Pada tahun 2000, suatu studi kasus tengara di negara Zimbabwe oleh William Cavendish telah menegaskan bahwa analisia rumah tangga dan sumber daya lingkungan menderita akibat tidak memadainya ketersediaan  data. “Hal itu merupakan dorongan utama,” kata Angelsen. “Kami ingin mendapatkan gambaran yang lebih representatif akan peran hutan dan lingkungan alam di daerah pedesaan, bukan hanya di Zimbabwe, tetapi juga di negara-negara lain.”

Namun bagaimana melakukannya?

Suatu proyek sepenuhnya didanai dengan lingkup yang luas seperti itu mahal. Peneliti PEN mengakui bahwa mahasiswa PhD yang sangat termotivasi sering melakukan kegiatan lapangan terbaik, namun beroperasi secara terpisah, dengan minimnya dukungan dana, kelembagaan atau emosional. Jadi PEN berusaha untuk menciptakan jaringan kolaboratif mahasiswa doktoral, menawarkan beberapa dukungan dana, akses ke lokakarya dan pengawasan, sementara menghasilkan data komparatif untuk studi global.

“Saya selalu menjelaskan bahwa bisnis model PEN adalah untuk mengeksploitasi kesepian mahasiswa PhD dengan memberikan perhatian dan kasih sayang ,” kata Angelsen bercanda. “Dan itu berhasil. Mereka mendapatkan jawaban email dan pertanyaan keesokan harinya. Mereka menghargai bahwa mereka tidak sendirian di lapangan. ”

Membangun tiga metode lokakarya antara tahun 2004 dan tahun 2006, 33 mitra PEN dan para tim mengumpulkan data lapangan antara tahun 2005 dan 2008. Lebih dari 12 bulan, mereka mensurvei lebih dari 8.300 rumah tangga di 333 desa di 58 lokasi di 24 negara berkembang. Dengan demikian, mereka melakukan sejumlah kunjungan kepada 36.000 rumah tangga, menghasilkan sekitar 250.000 halaman kuesioner. Dengan lebih dari 2.300 bidang data, database global PEN sekarang berisi 15 juta sel data.

“Ini bukan sampel acak,” kata Wunder. “Kami harus menemukan mitra yang bersedia untuk berpartisipasi dan menerima lokasi-lokasi yang telah mereka pilih, dan kemudian sumber informasi gratis untuk mengisi beberapa lubang, terutama di Afrika Barat. Tapi kami masih memiliki keseimbangan dalam hal jenis hutan dan daerah pedesaan di negara-negara berkembang dari tiga benua. Ini merupakan alam semesta yang layak diektrapolasi hasilnya. ”

Di dalam negara-negara tersebut, sedikit bias bagi daerah-daerah yang dipertimbangkan sebagai hutan, tambahnya. “Ini bukan di tengah-tengah hutan dengan tutupan mendekati 100 persen,” kata Wunder. “Ini merupakan kisaran dimana beberapa perkembangan yang telah terjadi — tidak sepenuhnya terisolasi dari pasar, tapi masih dengan tutupan hutan yang cukup tersisa.”

Pada awal proses, para peneliti bertujuan untuk mempublikasikan temuan di edisi khusus jurnal World Development. Di tahun 2005, jurnal telah menampilkan isu bertema tentang “mata pencaharian, hutan dan konservasi” yang diakui lebih jauh diperlukan pekerjaan empiris untuk menghasilkan data yang sebanding. Baik Angelsen dan Wunder telah berkontribusi sebagai co-editor dalam edisi ini, termasuk melakukan telaah makalah.

“Pada saat itu, kita jelas mengakui kekosongan data komparatif berkualitas tinggi untuk isu hutan, kemiskinan dan kebijakan,” kata Wunder. “Dengan demikian tampak logis untuk menindaklanjuti kebutuhan tersebut dinyatakan dalam jurnal yang sama satu dekade kemudian.”

Artikel-artikel di edisi khusus tahun 2014 diinformasikan oleh lokakarya di tahun 2011 yang diselenggarakan di University of East Anglia di Norwich, Inggris. “Para peneliti PEN berbaur dengan para peserta melakukan hal yang sama di organisasi lain dan jaringan,” kata Wunder.

“Beberapa makalah mereka termasuk di dalam Edisi Khusus ini. Mereka tertarik karena mereka turut melengkapi studi global dengan melihat intervensi spesifik yang mempengaruhi dinamika mata pencaharian. “Bauch, Sills dan Pattanayak, misalnya, menggunakan data panel untuk menguji dampak kerjasama dan pembangunan terpadu proyek (ICDP) di Amazon Brasil, sementara Clements, Suon, Wilkie dan Gulland meneliti dampak kawasan lindung terhadap penghidupan lokal di Kamboja.

ARAH MENDATANG

Angelsen dan Wunder melihat tugas PEN sebagai katalis untuk penelitian yang lebih mendalam. “Merupakan logis untuk menggunakan apa yang kami lakukan sebagai suatu dasar,” kata Wunder. ” Jadi kita bisa kembali ke beberapa rumah tangga dan keluarga dalam lima atau 10 tahun untuk melihat bagaimana hal-hal telah berubah.”  Ia mencatat pendekatan ini sesuai dengan program CGIAR Hutan, Pohon dan Agroforestri – di mana CIFOR merupakan mitra – bagi studi penelitian “sentinel sites” dalam waktu lama untuk mendapatkan perspektif.

“Tanaman pangan, peternakan, pertanian, usaha bisnis – ada berbagai macam analisis mungkin menggunakan dataset PEN,” kata Angelsen. Sebagai contoh, survei mencatat apakah subyek tersenyum saat menjawab pertanyaan. Menggunakan tersenyum sebagai indikator, salah satu peneliti akan menguji hubungan antara kesetaraan pendapatan dan kebahagiaan. Para peneliti juga ingin menghubungkan dataset PEN sistem informasi geografis (GIS) untuk mengeksplorasi seberapa dekat pendapatan lingkungan tergantung dengan kondisi alam dan akses pasar. Angelsen mengatakan bahwa ia ingin menguji hipotesis bahwa petani berpenghasilan menengah, bukan kaya atau miskin, turut ambil bagian dalam kelompok pengelolaan hutan. Namun makalah lain bisa melihat peran modal sosial, misalnya apakah keluarga memiliki keyakinan bahwa tetangga terdekat dapat menyediakan uang tunai darurat.

Selain itu, karena dataset saat ini sedang dibuat untuk umum, para peneliti dari luar PEN akan dapat mengeksplorasi kekhawatiran mereka. Angelsen berharap untuk melihat banyaknya makalah menggunakan dataset: sekitar 50 makalah dalam lima tahun ke depan akan membuatnya bahagia.

“Saya berharap seseorang akan melihat dinamika kemiskinan,” katanya. “Ini merupakan kesalahpahaman bahwa daerah pedesaan yang statis, dan bahwa orang-orang miskin selalu miskin. Bekerja dengan data time-series, orang dapat melihat siapa yang miskin dari satu tahun ke tahun berikutnya. Variasi dari waktu ke waktu adalah sumber wawasan tambahan. Anda tidak mendapatkannya dari data snapshot yang kita miliki. Masih banyak pekerjaan yang menarik untuk dilakukan berdasarkan tindak lanjut survei di beberapa lokasi penelitian PEN. ”

Untuk informasi lebih lanjut tentang isu-isu di dalam artikel ini, silahkan hubungi Sven Wunder, s.wunder@cgiar.org.

Dukungan dana bagi studi global ini disediakan oleh ESRC-DFID, DANIDA, USAID (DASAR-CRSP), IFS dan CIFOR

(Visited 140 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi