Berita

Evaluasi Dampak: Menuju struktur pembuktian konservasi hutan yang efektif

Banyak studi mengenai dampak berkonsentrasi pada kesimpulan atau angka tunggal, dan itu yang harus kita hindari.
Bagikan
0

Paling popular

BARCELONA , Spanyol — Konservasi hutan dapat mengambil keuntungan evaluasi dampak yang lebih banyak dan lebih baik, untuk memahami apa yang berhasil dan apa yang tidak, tetapi upaya evaluasi harus memperhitungkan kompleksitas inheren sektor ini.

Ini adalah kesimpulan evaluasi dampak dan konservasi dari para pakar setelah tiga hari lokakarya internasional mengenai Mengevaluasi Inisiatif Hutan Konservasi di Barcelona Desember tahun lalu. Lokakarya ini dihadiri sekitar 40 peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan.

“Ini adalah proses yang sehat bagi kita untuk berpikir tentang dampak program ini — apa yang berhasil dan apa yang tidak,” kata Jan Börner, Ilmuwan Mitra Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan berafiliasi dengan Pusat Pengembangan Penelitian (Center for Development Research , ZEF) di Bonn (Jerman), serta anggota panitia penyelenggara lokakarya.

“Hal itu lebih banyak terjadi di sektor lain, meskipun evaluasi dampak tidak terlalu sulit di sektor tersebut dibandingkan dengan interaksi sosial ekonomi-biofisik yang kita hadapi di konservasi hutan,” tambahnya.

Kompleksitas ini membuat konservasi berada “di zaman kegelapan dibandingkan dengan sektor lain,” kata Paul Ferraro, profesor ekonomi Sekolah Kajian Kebijakan Andrew Young dari Universitas Negeri Georgia yang juga salah seorang pembicara utama dalam lokakarya, ditemui sela-sela acara.

“Ini bukan hanya karena kita tidak memiliki landasan bukti tetapi karena konservasi merupakan salah satu konteks evaluasi yang paling sulit,” kata Ferraro.

Beberapa contoh kompleksitas yang berkaitan dengan evaluasi inisiatif konservasi muncul pada presentasi dalam lokakarya, saat para peneliti dan praktisi menjelaskan program pembayaran jasa lingkungan (PES) di Kolombia dan Kosta Rika, kawasan lindung di Brasil dan Indonesia, konservasi keanekaragaman hayati di Meksiko, taman laut di Indonesia, dan perjanjian timbal balik DAS di Bolivia.

TANYA JAWAB

Kesulitan mengevaluasi dampak konservasi hutan juga dicatat oleh Alexander Pfaff, profesor dari Institut Kebijakan Publik Sanford di Universitas Duke, yang juga merupakan pembicara utama.

“Mudah untuk memahami jika pohonnya memang ada,” kata Pfaff di sela-sela lokakarya. “Yang sulit dipahami adalah apakah pohon akan tegak jika Anda tidak melakukan apa-apa – dan itu berarti bahwa kita sedang menebak-nebak.”

Pfaff menyebutkan Kosta Rika sebagai contoh, terkenal karena keberhasilannya dalam konservasi hutan dan penggunaan kebijakan PES. Kosta Rika, kata dia, telah mencoba beberapa kebijakan sebelum PES, sehingga data-data harus diteliti untuk menentukan apakah keberhasilan itu sebenarnya disebabkan oleh PES atau kebijakan lainnya.

Dalam hal ini, seperti yang lainnya, kata dia, langkah awal dalam memperbanyak atau meningkatkan evaluasi dampak adalah memberikan kesempatan kepada peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan untuk pertama-tama bertanya tentang dampak.

“Ajukan pertanyaan, ‘Bisakah kita mengecek apakah ini hal yang mengubah hutan?’ – Jika kita dapat menanyakannya dengan cara yang netral dan suportif, dan menggunakan jawabannya untuk menuntun lebih banyak kebijakan, saya pikir itu sangat penting,” katanya.

Namun, mengingat kompleksitas berkaitan dengan konservasi hutan, pertanyaan berikutnya harus diajukan secara hati-hati dan jawaban terlalu sederhana harus dihindari, demikian menurut pendapat pembantu penyelenggara Sven Wunder, ilmuwan utama di CIFOR.

“Banyak studi mengenai dampak berkonsentrasi pada kesimpulan atau angka tunggal, dan itu yang harus kita hindari,” kata Wunder.

Sering kali angka tunggal tidak menjelaskan keseluruhan cerita. Hal itu jelas terlihat dalam presentasi Jonah Busch dari Center for Global Development (Pusat Pembangunan Global), menyimulasikan efek moratorium Indonesia terhadap konsesi hutan. Busch menunjukkan bahwa proporsi hutan yang telah “diselamatkan” oleh kebijakan bervariasi dari 3,6% hingga 13% tergantung pada asumsi analitis.

“Kita juga perlu melihat interaksi dengan faktor-faktor penyebab – mengapa ini berhasil atau mengapa tidak berhasil,” tambah Wunder.

“Kesimpulan tunggal dapat lebih atau kurang akurat, tetapi tidak akan memberi Anda cukup informasi tentang apa yang telah terjadi, dan mengapa. Anda perlu riwayat gabungan tentang kausalitas yang didukung oleh bukti.”

Lebih jauh, yang membuat jawaban jadi rumit adalah bahwa kebijakan konservasi memengaruhi kelompok yang berbeda – kelompok sosial-ekonomi, etnis, gender – dengan cara yang berbeda, dan tidak ada angka tunggal yang dapat menangkap heterogenitas efek di seluruh kelompok sosial.

Seperti catatan Pfaff, “Angka memang luar biasa, tetapi Anda dapat membuat banyak hal dengan angka.”

STRUKTUR BUKTI

Saran dari Philip Davies, Deputi Direktur Kajian Sistematik pada Inisiatif Internasional untuk Evaluasi Dampak, yang harus dikejar sektor konservasi hutan adalah pendekatan strategis untuk membangun bukti.

“Kita perlu membedakan antara membangun bukti strategis dan bukti operasional. Anda harus berpikir tentang tiga, lima, sepuluh tahun – seperti itulah berpikir strategis,” kata Davies dalam presentasinya.

Davies memberi contoh sektor kesehatan masyarakat, yang selama dua dekade terakhir telah mengumpulkan landasan bukti yang banyak, termasuk studi evaluasi dampak dan tinjauan sistematis – pemikiran yang sama yang menuntun CIFOR dan mitranya meluncurkan inisiatif Kehutanan Berbasis Bukti pada 2013.

Dengan memulai saat ini, sektor konservasi hutan akan memiliki landasan bukti yang kuat pada 2020, kata Davies, dan itu akan membantu menginformasikan dan menggiring kebijakan.

“Sangat sulit memengaruhi kebijakan dalam waktu riil kecuali Anda punya landasan bukti yang dapat diaplikasikan,” katanya.

Mengaplikasikan bukti, tentu saja, merupakan  tujuan akhir – dan itu harus terjadi dalam proses seawal mungkin, saran Ferraro.

“Kita bicara tentang pemantauan dan evaluasi, tapi yang kita lakukan sebenarnya hanya memantau,” katanya. “Kita bicara tentang tren dan status hutan, tapi itu tidak sama dengan evaluasi. Sulit untuk melakukannya tanpa mendesain program di awal untuk dievaluasi.”

Semua yang ada dalam lokakarya sepakat bahwa sektor ini membutuhkan evaluasi dampak yang lebih. Pertanyaan berikutnya adalah : Berapa banyak yang dibutuhkan? Meskipun terjadi perdebatan ringan atas pertanyaan tersebut antara Wunder dan Ferraro, tidak ada angka tunggal atau jawaban pasti yang muncul.

“Yang saya tahu adalah bahwa nol bukanlah angka yang benar, dan itulah situasi yang kita miliki saat ini,” kata Ferraro. “Dan saya akan mengatakan itu tidak 100 persen [pula].”

Sebab, menurut dia, solusi yang diperoleh tidak untuk dicobakan dan mengevaluasi dampak setiap program – “Itu tidak mungkin” – tetapi untuk memfokuskan sumber daya pada program yang lebih besar, seperti PES tingkat nasional dan jaringan kawasan lindung, untuk menguji manfaat sosial mereka.

Atau, seperti kata Pfaff: “Kita perlu evaluasi dampak yang benar-benar akan memperbaiki kebijakan.”

Untuk informasi lebih lanjut tentang topik yang dibahas dalam artikel ini, silakan hubungi Sven Wunder di s.wunder@cgiar.org.

Lokakarya internasional “Mengevaluasi Inisiatif Konservasi Hutan: Alat Baru dan Kebutuhan Kebijakan” diselenggarakan oleh ZEF (Pusat Pengembangan Penelitian, Universitas Bonn) dan Institut Sains dan Teknologi Lingkungan, dengan dukungan dari Robert Bosch Foundation melalui proyek ZEF “Membentuk kebijakan lingkungan bioekonomi hutan lestari”, Asosiasi Eropa untuk Lingkungan dan Sumber Daya Ekonomi (EAERE), dan IDDRI.

Rekaman presentasi yang dibuat dalam lokakarya tersedia di sini.

(Visited 583 times, 1 visits today)