Analisis

Mencari solusi perdebatan budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar

Untuk beberapa penjual dan pembeli, tumbuhan liar dan hasil budidaya merupakan komoditi yang tidak dapat dipertukarkan.
Bagikan
0
Seorang warga menunjukkan budi daya anggrek (Liparis lacerata (Rindl)) di desa Pelaik. Spesies yang umumnya sulit tumbuh ini, berkembang subur di wilayah Taman Nasional Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Indonesia. Yves Laumonier/CIFOR
Seorang warga menunjukkan budi daya anggrek (Liparis lacerata (Rindl)) di desa Pelaik. Spesies yang umumnya sulit tumbuh ini, berkembang subur di wilayah Taman Nasional Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Indonesia. Yves Laumonier/CIFOR

Paling popular

Pertanian terkendali dan pembudidayaan memiliki potensi untuk memasok pasar secara berkelanjutan — baik dalam bentuk perkebunan jati untuk mebel kayu, budidaya sejenis tikus Nigeria (cane-rat) untuk konsumsi lokal, budidaya harimau untuk pengobatan tradisional, peternakan hewan potong untuk makanan dan olahraga berburu, atau budidaya tumbuhan untuk pasaran farmasi.

Selain mengurangi tekanan terhadap sumber daya liar, budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar memiliki potensi bagi peningkatkan penghidupan pedesaan dan akses pangan.

Bahkan, artikel-artikel terbaru telah meminta intervensi seperti misalnya pembudidayaan tumbuhan liar dan peternakan satwa liar untuk membantu mengurangi perdagangan liar yang merajalela dari spesies kayu yang dilindungi dan perburuan gajah dan badak pada tingkat yang mengejutkan.

Meskipun ada sejumlah besar janji, penelitian menyarankan bahwa kita perlu  mengevaluasi lebih jauh berbagai usaha budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar. Sedikitnya dua pertanyaan masih belum terjawab:

  1. Dalam kondisi apakah intervensi budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar memberikan hasil konservasi?
  2. Bukti apakah yang ada bahwa intervensi budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar menghasilkan berbagai manfaat mata pencarian yang positif dan berkelanjutan?

Para ilmuwan di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) sedang menjajaki kedua pertanyaan tersebut — mempertanyakan apakah “mata pencarian alternatif” seperti budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar, dan hasil-hasil konservasi terkait bersifat efektif.

Penelitian kami telah menyoroti bukti-bukti yang muncul bahwa budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar tidak selalu memberikan hasil-hasil konservasi yang dapat diandalkan, dan bahwa ada suatu kebutuhan untuk meninjau dengan lebih baik usaha-usaha yang ada

Sampai tahap ini, kami telah menyoroti 17 jenis kondisi biofisik, pasar dan pengaturan yang mungkin mendukung pembudidayaan tumbuhan/ satwa liar untuk memberi manfaat konservasi — diajukan sebagai daftar awal yang pasti akan berubah.

Sebagai uji awal, kami menerapkan berbagai kondisi tadi pada pembudidayaan komersial suatu tanaman hias, untuk memahami lebih baik bagaimana usaha pembudidayaan tumbuhan liar dapat dilakukan dalam praktiknya.

Daftar periksa kami, diuraikan dalam tinjauan kami baru-baru ini dalam SULiNews dari  International Union for Conservation of Nature, mempertimbangkan sejumlah kondisi untuk mengevaluasi usaha budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar, dan menyediakan pembenaran dan perangkat penganalisis yang mungkin untuk mengevaluasi masing-masing usaha.

KEINDAHAN YANG KURANG DIHARGAI

Sebagai contoh, salah satu kondisi dalam daftar periksa tersebut menyarankan bahwa kualitas spesimen yang dibudidayakan harus sebanding atau lebih baik dari spesimen liar yang dikumpulkan, untuk memastikan penggantian yang berhasil di pasaran. Perangkat penganalisis yang potensial mencakup pengukuran karakteristik individual untuk membandingkan produk-produk liar dan yang dibudidayakan dan wawancara konsumen untuk menilai berbagai perbedaan yang dimiliki dalam hal kualitas.

Kami menerapkan berbagai kondisi dalam daftar periksa untuk melakukan salah satu penilaian kuantitatif awal dalam membandingkan dinamika perdagangan tanaman dan peternakan satwa liar yang dikumpulkan dari alam asalnya terhadap tumbuhan dan satwa liar yang dibudidayakan.

Studi kami berfokus pada Rhynchostylis gigantea, sejenis anggrek hias yang dilindungi dari Asia Tenggara.

Spesies tersebut diperbanyak secara ekstensif untuk penjualan komersial, tetapi juga dipanen liar secara ekstensif. Kami mengukur ratusan tanaman yang dibudidayakan (legal) dan liar (ilegal) di Pasar Jatujak di Bangkok, Thailand.

Kami menemukan bahwa banyak dari kondisi dalam daftar periksa terpenuhi untuk R. gigantea, yang menyarankan bahwa hasil konservasi dapat menjadi hasil yang mungkin dari budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar.

Misalnya, tumbuhan yang dibudidayakan berkualitas super berdasarkan sebagian besar variabel fisik yang kami ukur (ukuran, kondisi, pembungaan), menunjukkan bahwa konsumen yang mencari tanaman terbesar dan tersehat yang sedang berbunga akan memilih tanaman yang dibudidayakan.

Terlebih lagi, untuk seperangkat karakteristik fisik mana pun, asal tanaman tersebut (liar vs. budidaya) tidak mempengaruhi harga, jadi membeli tanaman hasil budidaya secara umum tidak mewakili alternatif yang lebih mahal.

Namun, wawancara dengan konsumen dan pedagang menyoroti berbagai perbedaan yang disadari antara tanaman liar dan yang dibudidayakan, termasuk perbedaan dalam kekuatan tanaman, “keaslian” dan keharuman. 

Untuk paling sedikit beberapa orang penjual dan pembeli, tumbuhan liar dan hasil budidaya merupakan komoditi yang tidak dapat dipertukarkan, hal ini serupa dengan beberapa temuan terkait beberapa produk tumbuhan liar lainnya. (lihat “A stated preference investigation into the Chinese demand for farmed vs. wild bear bile” dan “Consumers’ taste for rarity drives sturgeons to extinction”).

DORONGAN LEGAL

Kami juga mengidentifikasi penghalang prospektif lainnya terhadap hasil-hasil konservasi pembudidayaan, termasuk insentif finansial rendah untuk budidaya R. gigantea, penghalang teknis dan finansial untuk membudidayakan di antara para pemanen liar, dan kurangnya penegakan terhadap penjualan tumbuhan liar.

Dengan cara ini, daftar kondisi kami menyediakan sebuah titik awal untuk mengidentifikasi secara proaktif potensi usaha pembudidayaan tumbuhan/satwa liar untuk konservasi, dan mungkin diterapkan juga pada spesies lain.

Sebagai contoh, perdagangan yang dilegalkan dari cula yang dipanen secara berkelanjutan dari badak yang dibudidayakan (lihat “Legal trade of Africa’s rhino horns”) mungkin mememenuhi banyak kondisi dalam daftar periksa tersebut.

Namun, tinjauan sekilas dari faktor-faktor yang disoroti dalam daftar tersebut juga mengidentifikasi kekurangan potensial, dan kebutuhan untuk penelitian lintas rantai nilai untuk mengantisipasi dampak konservasi yang mungkin dari pembudidayaan.

Perdagangan dapat rentan terhadap “pencucian” spesimen liar melalui saluran-saluran perdagangan legal, karena para pelanggan dan pejabat penegakan mungkin akan berjuang untuk membedakan antara spesimen legal dan ilegal.  Kapasitas produksi spesimen yang dibudidayakan mungkin juga terbatas relatif terhadap permintaan saat ini dan masa mendatang.

Evaluasi awal dari jenis-jenis ini penting untuk merancang berbagai usaha mitigasi. Dalam studi kami, tindakan mitigasi prospektif mencakup peningkatan penegakan terhadap tumbuhan yang dikumpulkan secara liar di pasar-pasar utama, dan pendidikan konsumen untuk menyoroti perbedaan antara tumbuhan liar dan yang dibudidayakan. Jelas terlihat, penggunaan daftar periksa kami menyoroti bahwa pembudidayaan tidak mungkin berhasil sebagai strategi konservasi yang berdiri sendiri.

PENELITIAN PERDAGANGAN ILEGAL

Ada banyak penghambat untuk meneliti dan mengatur perdagangan tumbuhan/satwa liar ilegal. Mungkin tidak praktis untuk, misalnya, mengukur perbedaan antara produk-produk tumbuhan/satwa liar dan yang dibudidayakan.

Serupa hal tersebut, ada keterbatasan untuk mewawancarai pedagang dan konsumen produk-produk budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar ilegal (meskipun lihat studi langsung dari penggunaan tumbuhan/satwa liar oleh “A stated preference investigation into the Chinese demand for farmed vs. wild bear bile”, dan “A framework for assessing supply side wildlife conservation).

Ada juga proksi (kuasa) – termasuk pengukuran kasar seperti opini para ahli –yang dapat dipergunakan untuk melengkapi daftar periksa tersebut, dan mengidentifikasi kekurangan yang potensial dari intervensi budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar sebelum implementasinya. Bahkan bila tidak digunakan sebagai perangkat formal atau kuantitatif, daftar tersebut dapat membantu pemikiran struktur mengenai intervensi yang diusulkan.

Jelas terlihat, pendekatan kami menyoroti pentingnya untuk mempertimbangkan faktor-faktor biofisik, pasar dan pengaturan yang memengaruhi hasil-hasil budidaya dan konservasi di seluruh rantai nilai perdagangan.

Hal tersebut menyoroti nilai dari pendekatan luas yang menimba sumber-sumber daya berwawasan luas dan metode yang beragam, dan menerima tingkatan kekakuan yang berbeda, untuk mengumpulkan gambar majemuk dari dinamika perdagangan. Daftar periksa yang telah diterapkan dan diuji dalam berbagai konteks tersebut, tampaknya akan meluas dan berubah untuk membantu kita memahami lebih baik berbagai kondisi di mana budi daya tumbuhan dan peternakan satwa liar dapat memberikan hasil-hasil konservasi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai berbagai topik yang dibicarakan dalam makalah ini, atau untuk salinan PDF dari artikel lengkapnya, silakan menghubungi Jacob Phelps di j.phelps@cgiar.org

(Visited 322 times, 1 visits today)