Berita

Hutan “pedesaan” memelihara sehatnya aktivitas sosio-lingkungan: ilmuwan

Masyarakat hutan pedesaan memiliki cara sendiri menciptakan keselarasan antara ekosistem hutan dan pertanian.
Bagikan
0
Hadari sedang memanen kayu manis di hutan dekat desa Lubuk Beringin, Jambi. Hutan sudah menjadi bagian penting desa ini, masyarakat sudah lama menerapkan nilai tradisional praktik tata kelola hutan. Photo @CIFOR
Hadari sedang memanen kayu manis di hutan dekat desa Lubuk Beringin, Jambi. Hutan sudah menjadi bagian penting desa ini, masyarakat sudah lama menerapkan nilai tradisional praktik tata kelola hutan. Photo @CIFOR

Paling popular

BOGOR (19 Mei 2014) – Pembuat kebijakan dan konservasionis seringkali mengabaikan pentingnya hutan pedesaan dan pengetahuan lokal yang telah membuat mereka bertahan berabad-abad, demikian menurut sebuah laporan dalam jurnal “ Ecology and Society” yang merefleksikan bagaimana kebijakan pembangunan berkelanjutan mempengaruhi hutan pedesaan.

Hutan pedesaan – atau rumah tangga – ada di seluruh dunia, dari negara empat musim hingga wilayah kering dan tropis lembab. Mereka dikelola oleh masyarakat lokal sebagai bagian dari aktivitas pertanian dan penghidupan, dalam jurnal tersebut, ditampilkan delapan penelitian hutan pedesaan di Perancis, Maroko, Asia Tenggara dan Afrika yang didanai oleh proyek Kebijakan Publik dan Manajemen Tradisional Pohon dan Hutan (dalam akronim bahasa Perancis, POPULAR).

Hutan pedesaan dipengaruhi oleh kebijakan dan regulasi nasional. Walaupun, kebijakan negara seringkali tidak mempertimbangkan apa yang disebut peneliti “logika hutan pedesaan,”  demikian dilaporkan peneliti dalam kajian berjudul “Public policies and management of rural forests: Lasting alliance or fool’s dialogue?” (Kebijakan publik dan manajemen hutan pedesaan: keselarasan atau dialog bodoh?).

“Masyarakat hutan pedesaan memiliki cara sendiri memandang produksi dan sistem penghidupan, dan menciptakan keselarasan antara ekosistem hutan dan pertanian,” kata Genevieve Michon, ilmuwan dari l’Institut de recherche pour le développement (IRD), kepala penelitian tentang resiliensi beberapa hutan domestik dunia (berdasarkan pohon kastanye di Korsika, Perancis; pohon argan di Maroko; dan agroforestri di Indonesia).

Tidak seperti representasi modern domestifikasi alam untuk produksi, masyarakat pedesaan tidak memperkenalkan perbedaan nyata antara “hutan” dan “pertanian.”

LOGIKA HUTAN PEDESAAN

Manajemen hutan pedesaan bergantung pada praktik kompleks domestifikasi pohon, ekosistem dan lanskap untuk memenuhi kebutuhan manusia, kata peneliti, mengutip penelitian sebelumnya. Dalam proses domestifikasi ini, mereka mengambil manfaat dari dinamika vegetasi alami dibanding memerangi mereka seperti dalam pertanian konvensional.

Dalam apa yang disebut oleh Michon “pohon hutan paling dimanusiakan di seluruh Eropa,” contohnya, lebih dari 15 abad domestifikasi pohon kastanye, yang direproduksi dengan okulasi, ternyata tidak menghapus karakteristik liar pohon – kanopi tinggi, kuat dan kemampuan bertahan tanpa perawatan manusia – dan hutan kastanye yang terdiri dari beragam varietas okulasi seperti hutan liar.

Domestifikasi seringkali tidak terlihat, menyembunyikan liku-liku manajemen hutan pedesaan dan mengarah pada ketidakpahaman urgensinya, kata peneliti.

Sementara sebagian pohon domestifikasi – seperti Argan di Maroko – tampak “liar”, peneliti menujukkan bahwa mereka sebenarnya dipelihara dengan hati-hati. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa masyarakat lokal memanen beragam bentuk dari hutan mereka; di wilayah luas, misalnya, teknik seperti pemangkasan selektif bisa membantu atau menghindari pencarian makan kambing.

Petani agroforestri di Indonesia bergeser dari menanam pohon dalam wilayah gundul akibat peladangan berpindah, teknik bertani dengan pembakaran untuk membersihkan dan meregenerasi kesuburan tanah untuk ditanami. Walaupun sudah didomestifikasi, hutan buatan mencakup ekosistem alami dengan kanopi tinggi, pertumbuhan padat di tanah dan tingkat tinggi keragaman hayati – semua dengan interferensi minimal manusia, kata Michon.

PENDEKATAN LANSKAP

Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bagaimana petani hutan menginvestasikan lebih banyak energi untuk mendomestifikasi keseluruhan lanskap daripada fokus pada spesies tertentu. Hal ini mencakup upaya membangun teras-teras untuk mencegah limpasan tanah dan air, memperkenalkan hak berbeda untuk membagi hutan menjadi area-area terpisah (seperti kebun untuk produksi buah, tempat gembala dan produksi kayu) atau memvariasikan lanskap di ruang terbuka, petak hutan dan pohon individual.

“Jenis manajemen ini, ketika Anda melakukan sedikit dari semuanya, dan semuanya dioptimalkan, mungkin adalah contoh kehidupan nyata terbaik dari keberlanjutan, dan ini seringkali diabaikan oleh arus utama kehutanan,” kata Roberts Nasi, ilmuwan senior Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), yang bersama Michon memimpin proyek POPULAR.

“Ketika dibiarkan, masyarakat di hutan pedesaan mengelola sumber alam mereka dengan baik,” katanya. “Cara mereka tidak cocok dengan standar modern rasionalisasi produksi, tetapi jika Anda melihat hasilnya dalam jangka panjang mereka menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial yang signifikan bagi masyarakat pedesaan, dan mereka bisa beradaptasi terhadap perubahan. Hasilnya, hutan pedesaan sangat resilien.”

Selama berabad-abad, hutan pedesaan bertahan di tengah kebijakan nasional menekankan pertanian intensif dan modernisasi, menurut penelitian tersebut. Terkait krisis ekonomi global, pemerintahan nasional – dan bahkan lokal – memberi perhatian lebih pada hutan pedesaan sebagai bagian dari strategi proaktif sosio-lingkungan dan ekonomi. Hal ini tidak selalu meningkatkan nasib hutan pedesaan.

“Di Indonesia, sebagian LSM ingin melindungi hutan pedesaan untuk kepentingan konservasi, tetapi kebijakan mereka bisa menghambat kepentingan masyarakat lokal dalam hal membatasi akses terhadap lahan atau melarang teknik potong-dan-bakar,” kata Michon. Pendekatan LSM mungkin kurang ekstrim dibanding administratur kehutanan, tetapi tetap hanya memberi sedikit perhatian pada logika hutan pedesaan.”

Michon dan Nasi optimistis: bahkan jika pandangan global tidak berubah besar, globalisasi bisa membuka jalan baru dalam mengapresiasi hutan pedesaan. Saat ini, kata mereka, rimbawan dan ahli biologi mulai mempertimbangkan manusia sebagai bagian valid ekosistem hutan daripada perambah. Pakar etno-sains juga menolong membangun interaksi antara masyarakat lokal dan hutan dalam sorotan positif. Pola perdagangan dan konsumsi baru (sertifikasi lingkungan, perdagangan adil, sistem indikasi geografis) dapat pula menolong sistem ini berkembang dalam logika mereka sendiri seraya memberi manfaat bagi dunia luar.

Untuk informasi lebih mengenai masalah yang didiskusikan dalam artikel ini, silahkan hubungi Robert Nasi, r.nasi@cgiar.com

(Visited 202 times, 1 visits today)

Bacaan lebih lanjut

Public policies and traditional management of trees and forests (POPULAR) project (French only).

Hey, my Berber friend, draw me a rural forest!

Understanding the role of forest income in rural livelihoods: Insights from China

Topik :   Bentang alam