Pidato

Menteri Peru: ‘Kita tidak akan mengulang Kyoto’

Setiap orang perlu melakukan tindakan. Setiap orang perlu mengambil aksi domestik. Jadi tidak akan seperti Kyoto.
Bagikan
0
Menteri Lingkungan Hidup Peru Manuel Pulgar-Vidal menyampaikan pidatonya dalam acara Forests Asia Summit 2014 di Shangri-La Hotel, Jakarta, Indonesia, Selasa, 6 Mei 2014. (CIFOR)
Menteri Lingkungan Hidup Peru Manuel Pulgar-Vidal menyampaikan pidatonya dalam acara Forests Asia Summit 2014 di Shangri-La Hotel, Jakarta, Indonesia, Selasa, 6 Mei 2014. (CIFOR)

Paling popular

Indonesia - Catatan Editor: Pidato Menteri Pulgar-Vidal’s dapat dilihat secara utuh; pidatonya mulai pada pukul 6:30 di video. Lihat forestasia.org untuk mengetahui berita terkini dari Pertemuan Puncak Forests Asia. Video semua presentasi dan pidato akan dimuat di sini.

JAKARTA, Indonesia — Hutan harusnya menjadi pusat kerangka perubahan iklim global nanti, demikian dikatakan pejabat tinggi lingkungan hidup Peru, awal bulan lalu. Berbicara saat Pertemuan Puncak Forests Asia di Jakarta, Menteri Lingkungan Hidup Peru, Manuel Pulgar-Vidal menyoroti posisi negara-negara Amerika Latin dan Asia Tenggara sebagai pelengkap dalam arah kesepakatan iklim mendatang – serta mendesak pimpinan wilayah menggunakan kekuatannya untuk perjanjian lebih inklusif terhadap rentang luas pemangku kepentingan dan perspektif.

“Seharusnya jelas bahwa kita tidak akan mengulang Kyoto,” katanya. “Perjanjian ini akan merangkul dari bawah ke atas.”

Pakta iklim mengikat lanjutan Protokol Kyoto difinalisasi di Paris pada 2015. Pulgar-Vidal akan memimpin pembicaraan iklim PBB di Lima pada Desember – pembicaraan terakhir sebelum Paris.

Pada hari Selasa di pertemuan tsb, ia tegas menengarai perlunya bertindak saat ini. “Kita berada di waktu istimewa,” katanya. “Kita akan membangun momentum karena waktu kita pendek… Kita perlu mendapat hasil dari Lima (COP20-red).”

Transkrip pidato Menteri Pulgar-Vidal sebagai berikut. Catatan: Ini merupakan transkripsi cepat dan mohon maaf bila ditemukan kesalahan.

Selamat pagi, terima kasih banyak, saya merasa gembira dan terhormat berada di sini bersama Anda, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Hutan Asia ini. Setelah mendengar ada 2000 orang di sini, lebih dari 3000 di siaran langsung, dan saya tidak ingat berapa banyak lewat tweet, saya benar-benar takut.

Tetapi saya akan mencoba membuat refleksi saya seputar topik hutan, perubahan iklim, debat iklim, debat pembangunan, dan COP20. Jadi saya akan bergerak di antara empat topik tersebut.

Dan saya yakin kita berada dalam waktu khusus. Kita berada dalam waktu ketika kita seharusnya mengambil keputusan. Kita berada dalam waktu melalui sesi seperti ini kita membangun momentum. Kita membangun momentum karena waktu kita pendek untuk mengambil keputusan. Dan kita punya tujuan. Kita perlu memiliki dalam akhir tahun depan sebuah perjanjian. Sebuah perjanjian baru yang mengatasi konsekuensi perubahan iklim. Yang bisa memberi harapan pada generasi baru, yang bisa membawa pendekatan baru menghadapi dan mengatasi konsekuensi perubahan iklim.

Jadi saya akan berpidato, pidato pleno seputar tujuh pertanyaan atau tujuh topik, tujuh item.

Pertama, debat iklim sebagai sebuah pengembangan dialog, dan pertanyaan mengenai seberapa besar hutan telah menjadi bagian dari debat pembangunan. Kita berada dalam waktu ketika banyak negara, bahkan negara maju berada dalam krisis ekonomi, keuangan dan ideologi.

Kita berada dalam waktu ketika kita mendiskusikan jalan baru untuk mengarahkan pembangunan kita. Pembangunan dunia. Jadi inilah waktu ketika kita dapat mengangkat topik atau masalah, pembangunan berkelanjutan. Topik pembangunan berkelanjutan tersebut telah terbangun sekitar 25 tahun, waktu itu pada 1987 melalui kesamaan masa depan yang dilaporkan, muncul topik pembangunan berkelanjutan.

20 tahun setelah itu, saat inilah momentum topik tersebut. Inilah waktu kita dapat, melalui fokus terhadap topik tersebut kita dapat mengembangkan gagasan baru, visi baru, jalan baru untuk mengarahkan pembangunan di banyak negara kita.

Jadi seberapa besar hutan menjadi bagian itu? Saya pikir tidak terlalu besar atau tidak cukup. Jadi bagaimana kita mendekati itu?

Dalam sistem PBB terdapat debat audiens atau audiens baru pasca-2015, dan sebagai bagian dari audiens kita mendiskusikan SDGs, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Jadi yang penting adalah mencoba mengidentifikasi seberapa besar hutan menjadi bagian diskusi itu? Apa jenisnya, apa indikator yang kita perlukan untuk masuk dalam debat SDG sebagai bagian yang ingin diukur di masa depan. Seberapa besar kita dapat membawa hutan dalam diskusi ini dan seberapa besar kita membangun dalam debat itu, hal-hal itu perlu dipertimbangkan.

Juga, dalam debat pembangunan, kita berbicara soal ekonomi hijau. Dan apa artinya ekonomi hijau? Artinya kita akan berpikir ulang cara kita mengukur pertumbuhan. Kita perlu memasukkan dalam GDP pertimbangan pengukuran. Kita perlu memasukkan dalam GDP masalah infrastruktur alam. Dan kita perlu membangun ekonomi kita dengan emisi rendah karbon.

Jadi hutan memainkan peran sangat penting dalam diskusi ekonomi hijau. Di banyak negara terjadi diskusi ekonomi hijau atau pertumbuhan hijau, karena menjadi mandat dokumen Rio+20.

Masa depan yang diinginkan, setiap negara berbasis pada kebutuhan realitas sendiri untuk menciptakan basis bagi kebijakan ekonomi hijau.

Banyak negara di Amerika Latin, Chili, Kolumbia, Meksiko sudah mengembangkan kebijakan ekonomi hijau. Peru sedang melakukan itu. Tetapi kita perlu memasukkan pertimbangan kehutanan lebih besar dalam pertimbangan ekonomi hijau. Umumnya, berbasis pada realitas. Realitas di banyak negara di Amerika Latih, makin besar, sumber terbesar emisi gas hijau, adalah deforestasi dan perubahan penggunaan lahan.

Jadi jika kita ingin kebijakan yang jelas menghadapi masalah itu, kita perlu memasukkan dalam diskusi ekonomi hijau kita, pertimbangan mengenai hutan. Dan juga kita mendiskusikan TEEB. Ekonomi mengenai Ekosistem dan Keragaman Hayati. Di sini kita harus mengakui bahwa untuk pengembangannya kita tidak perlu infrastruktur artifisial dan manusia. Apa yang kita perlukan adalah mempertimbangkan infrastruktur alami. Bagaimana kita mempertimbangkannya sebagai bagian dari kebijakan menciptakan pertumbuhan di negara kita, itulah infrastruktur alam.

Jadi saya berpikir bahwa kita perlu mendekatkan diskusi kehutanan dalam semua debat besar ini. Debat pasca-2015, SDG, TEEB, ekonomi hijau dll.

Sebuah tantangan besar dan seharusnya menjadi tujuan bersama membawa hutan dalam diskusi ini.

Pokok pikiran saya kedua adalah situasi perdebatan iklim saat ini.

Dan dapat saya katakana, kita telah mengembangkan diagnosanya. Mungkin Dr. Pachauri akan bilang ya. Apa yang telah diidentifikasi IPCC. Kita tahu tren saat ini bergerak lebih dari batas dua derajat. Dan kita tahu konsekuensinya, atau apa yang akan menjadi konsekuensinya.

Kita telah mengidentifikasi tujuan, kita memerlukan perjanjian baru. Kita perlu perjanjian yang bisa mengatasi atau menghadapi masalah itu. Kita perlu memasukkan dalam pertimbangan bahwa setiap orang bertanggungjawab atas masalah ini.

Kita juga menerima mandat, kita dibatasi menjadi 20 lebih dari 20 tahun berdiskusi topik perubahan iklim. Sejak tahun 1992 kita sudah dekat untuk merayakan COP 20.

Dan kita menempatkan sebagai tujuan untuk dicapai pada 21 COP, sebuah perjanjian. Dan kita mengakui bahwa ada batu lompatan untuk dipenuhi dalam mandat itu serta mempertaruhkan tujuan untuk mencapai perjanjian itu. Pertemuan dewan berikut pada Juni, kemudian September, sidang majelis umum pada September, COP 20 di Lima pada Desember, pertemuan COP 21 di Paris.

Jadi, jika semua ini sejelas penjelasan saya, mengapa kita tidak mengambil keputusan. Apa yang gagal, mengapa kita masih berpikir cara yang sama dengan yang kita miliki di Kopenhagen. Bagaimana kita mengubah itu.

Dan bagi saya terdapat beberapa topik penting, atau masalah, yang dapat ditangani dalam situasi itu. Saat ini kita mendiskusikan pembiayaan, dengan cara terisolasi, REDD, mitigasi, adaptasi, tetapi kita tidak mengintegrasikan diskusi untuk mencapai solusi.

Kedua, seharusnya sudah sangat jelas bahwa kita tidak ingin mengulang Kyoto. Kyoto punya masanya sendiri, dan kini kita membangun perjanjian dari bawah-ke-atas, ketika semua orang dapat memahami tangungjawabnya masing-masing.

Setiap orang perlu melakukan tindakan. Setiap orang perlu mengambil aksi domestik. Jadi tidak akan seperti Kyoto. Kita akan memiliki perjanjian yang berbeda.

Ketiga, apa yang kita perlu akui adalah terdapat banyak aktor, beragam sektor, dan beragam negara yang melakukan ini. Dalam negara-negara tersebut, dalam aktor-aktor itu, mereka mencari pengakuan. Kita perlu mengakui peran sektor bisnis, kita perlu mengakui hak masyarakat adat. Kita perlu mengakui apa yang sedang dilakukan masyarakat sipil. Dan sangat sulit membawa apa yang telah terjadi, ke dalam perjanjian. Tetapi ini adalah tantangan. Apa yang kita perlukan dalam perjanjian adalah kisah sukses, sebuah kisah sukses yang coba diungkapkan sektor bisnis, akuilah bahwa semua bergerak.

Kita tidak berada dalam tahun nol. Kita berada dalam waktu ketika sektor bisnis dan beragam aktor membawa solusi. Begitu pula sektor kehutanan.

Kita juga dapat mengakui bahwa satu-satunya jalan menawarkan solusi adalah melalui pengakuan terhadap realitas. Beragam realitas.

Jadi kita perlu melakukan interpretasi ulang bahwa CBDR, Sama Tetapi Berbeda Tanggungjawab. Kita perlu mengakui bahwa kita seharusnya memasukkan prinsip-prinsip itu. Tetap dengan cara baru. Dalam sebuah cara baru ketika setiap orang memiliki tanggungjawab.

Jadi inilah hal penting dalam debat perubahan iklim.

Mari kita bergerak ke bagian ketiga, refleksi ketiga saya. Masalah kehutanan. Bagi saya topik kehutanan masih lebih muda dari debat iklim. Karena pertimbangan kehutanan dalam debat iklim seringkali lebih banyak terbangun semata sebagai mekanisme. Bukan sebagai tujuan.

Jadi bagaimana kita menempatkan kehutanan sebagai tujuan. Jadi dalam poin ketiga, bergerak dari realitas domestik ke debat internasional.

Pertama kita perlu memperkuat kebijakan. Kebijakan kehutanan. Dalam sudut pandang ini, apa yang perlu kita ciptakan adalah kebersaingan seputar hutan. Kita perlu menciptakan kondisi kebersaingan di seputar sektor kehutanan.

Kedua, kita perlu memiliki informasi cukup. Kita perlu memantau hutan kita, realitasnya, kualitasnya, kesehatan hutan kita.

Juga kita perlu mengatasi masalah penggunaan lahan. Masalah penggunaan lahan terkait dengan insentif. Ini terkait dengan diskusi besar hak kepemilikan, konsesi, tenurial, dan banyak topik lain.

Dan keempat apa yang kita perlukan adalah menangani proses desentralisasi di banyak negara. Di negara seperti Peru, kontradiksi antara kebijakan nasional dan kebijakan regional menciptakan banyak konflik. Jadi kita perlu mengakui bahwa mungkin sektor lokal mengambil keputusan lebih baik tetapi terkerangkai oleh kebijakan nasional. Dan kita perlu menciptakan kondisi yang cocok buat keduanya.

Desentralisasi menjadi bagian, bagian penting diskusi mengenai kebijakan.

Poin kedua saya adalah hak alokasi dan kepemilikan, latar belakang gagasan ini adalah untuk memperkuat sektor kehutanan.

Dan selain itu kita perlu mengakui hak penghuni, dan sebagian besar masyarakat adat. Hal tersebut perlu dipertimbangkan, menyusul pasar karbon kehutanan, masyarakat kehilangan kepercayaan dan keyakinan terhadap mekanisme itu.

Masyarakat merasa bahwa hal itu menciptakan keadaan mereka kehilangan lahan. Ini akibat tidak mengakui hak atas lahan dan hak atas hutan.

Jadi sebagai bagian perlindungan yang perlu kita bangun, kita perlu mengakui hak orang yang tingal di sana.

Juga, kita perlu menciptakan cara menyelesaikan konflik. Karena terdapat banyak konflik seputar hutan. Tidak hanya soal hak tetapi juga karena aktivitas ekonomi.

Ketika kita tinggal di negara seperti Peru atau di daerah aliran sungai Amazon, saat ini ancaman besar adalah pertambangan legal, yang mencipakan distraksi hutan. Apa yang perlu dilakukan adalah menciptakan kondisi untuk mengatasi tumpang tindih konflik akibat tumbang tindih beragam hak. Hak untuk minyak, pertambangan, hutan, pariwisata. Dan dalam hal ini fokus pada lanskap banyak membantu.

Juga, kita perlu merevisi sistem legal. Mengingat ketika kita mencoba membangun hutan berdasar sistem legal, kita tersandung banyak masalah. Kita perlu menciptakan cara baru untuk manajemen hutanyang baik. Tetapi kita perlu masuk lebih dalam pada diskusi sistem legal sebagai bagian apa yang kita perlu lakukan untuk menciptakan manajemen yang baik.

Dan akhirnya, apa yang perlu kita ciptakan adalah peraturan dan peraturan yang bisa ditegakkan. Kita perlu memiliki cara menegakkan peraturan. Karena bagian masalah, terkait hak, alokasi dan kepemilikian, memiliki kekurangan dalam penegakkan aturan.

Poin ketiga saya dalam refleksi ketiga, adalah seputar insentif. Bagamana kita membawa sektor swasta, sektor bisnis untuk mengelola hutan. Insentif seperti apa yang perlu kita ciptakan untuk membawa sektor bisnis ke dalam hutan. Seberapa besar inisiatif Unilever menjadi contoh yang baik bagaimana sektor swasta dapat memainkan peran lebih aktif terkait hutan.

Seberapa besar inisiatif perusahaan minyak sawit di Indonesia, Malaysia, maaf saya tidak ingat, dapat membantu mencari cara baru untuk membawa sektor bisnis masuk ke dalam hutan.

Tetapi di pihak lain, terkait insentif, apa yang perlu kita lakukan adalah mengatasi masalah nilai, ikatan karbon seputar hutan. Harga saat ini menurunkan minat. Harga saat ini untuk karbon menciptakan disinsentif bagi sektor bisnis dan investor untuk mencoba lebih dekat dengan sektor kehutanan.

Dan kita perlu mengetahui, dan memanfaatkan konsumen agar ada perusahaan menggunakan rantai suplai sebagai bagian solusi untuk melindungi lanskap hutan.

Jadi, dan terakhir terkait insentif, apa yang kita perlukan adalah mencoba menyatukan semua itu. Negara seperti Peru memiliki banyak proyek, banyak inisiatif, tetapi kami mencari apa projek atau program besar sebagai satu kesatuan. Kita melihat hutan dengan terserak. Kita melihat hutan hanya dari kacamata proyek, program, kerjasama.

Tetapi apa yang kita perlukan adalah menciptakan kondisi bagus dan dalam hal ini, memenuhi mandat Warsawa, untuk menyiapkan kontribusi nasional bisa sangat membantu.

Refleksi keempat saya adalah seberapa besar kita bsia membangun dari mandat menuju perjanjian. Seperti yang Anda ketahui Warsawa memberi banyak manfaat dalam menyelesaikan banyak diskusi seputar REDD. Tidak sepenuhnya, tetapi sebagian diskusi yang muncul, telah diselesaikan. Jadi kita punya beberapa mandat, tetapi kita perlu masuk lebih dalam di beberapa poin.

Pertama, bagaimana kita membawa diskusi kehutanan dalam diskusi keuangan. Jadi dapatkah kita membangun melalui mandat ini keuangan berbasis hasil dengan cara realistis.

Tindakan apa yang akan kita ambil untuk mengisinya dengan keuangan berbasis hasil, agar cocok antara tujuan dan uang.

Mengingat masih banyak ketidakpercayaan antara siapa yang berinvestasi, dan siapa yang bekerja. Jadi yang kita perlukan adalah menciptakan  sejenis indikator, sesuatu yang benar-benar pembiayaan berbasis hasil.

Dapatkah kita menempatkan keuangan dengan tujuan kita secara sesuai. Dan untuk itu, juga sangat penting  adalah kapitalisasi dana iklim hijau. Tetapi kapitalisasi UFC akan membutuhkan sinyal politis, walaupun belum sepenuhnya cukup.

Akan membawa banyak dorongan dalam diskusi ini. Tetapi belum akan cukup. Dan dalam diskusi keuangan, debat besar adalah apa yang akan kita hitung, hanya dana publik, dan dana baru publik, atau hanya dana biasa bantuan pembangunan. Atau kita akan menghitung sumber daya swasta. Atau seberapa besar dana publik dapat meningkatkan dana swasta.  Berapa besar skema pasar baru dapat membawa lebih banyak uang untuk mengatasi apa yang perlu dilakukan.

Jadi satu poin penting, membawa hutan lebih dekat ke dalam diskusi keuangan.

Poin kedua, adalah soal mandat, kita perlu mengidentifikasi titik tumpu, entitas tumpuan. Siapa yang memainkan peran itu. Dan mungkin kita memiliki banyak negara, diskusi antara menteri keuangan, menteri pertanian, menteri lingkungan hidup, dan lain lain.

Jadi bagaimana kita membangun entitas baru. Dapatkan kita membangun cara baru berkoordinasi di antara entitas berbeda. Kita perlu titik tumpu yang sangat kuat. Tetapi untuk itu kita perlu berpikir dengan cara baru untuk menciptakan kondisi bagus, mendapatkan titik tumpu sangat kuat.

Salah satu mandat juga adalah menciptakan sistem pemantauan hutan nasional, tetapi untuk itu kita perlu metodologi tersendiri. Di dunia ini banyak sekali metodologi berbeda.

Terdapat kompetensi di antara beragam sektor, perusahaan, universitas, yang digunakan untuk menawarkan metodologi tertentu, untuk memantau hutan. Tetapi tantangan negara-negara adalah mencoba menerima itu, tetapi berdasar hal itu untuk membangun metodologi sendiri dalam memantau hutan.

Karena ketika kita lihat banyak negara, perbedaan jenis metodologi, yang mengkritisi satu dengan yang lain, kita mengetahui bahwa kita perlu menciptakan sendiri, berdasar pengalaman tersebut tetapi penting untuk memiliki sistem terpercaya untuk memantau hutan.

Dan terakhir adalah mandat untuk mengatasi pendorong deforestasi. Dan pendorong deforstasi berarti memahami lanskap hutan. Ini yang teengah dilakukan CIFOR. Memandang hutan sebagai sebuah ekosistem. Melihat realitas bahwa hutan tidak hanya soal pohon, tetapi juga soal manusia, soal lanskap, soal realitas, soal pertanian, untuk membawa semuanya dalam diskusi untuk mencoba mengidentifikasi pendorong deforestasi.

Refleksi kelima saya, adalah soal keamanan. Dan perlu saya katakan, pentingnya dokumen kelompok kanopi gloal dalam diskusi ini. Ini soal keamanan Amazon akibat perubahan iklim. Ketika kita berbicara keamanan dalam kasus ini, dan penting sekali dokumen, yang tengah kita bicarakan mengenai keamanan air, keamanan energi, keamanan pangan, dan keamanan kesehatan.

Dan ketika kita berdiskusi mengenai keamanan seputar hutan tropis, kita bisa membawa aktor baru. Kementerian pertahanan, kementerian kesehatan, kementerian pertanian, beragam aktor yang tidak secara langsung bekerja dalam topik tersebut.

Jadi ini tidak hanya mengakui apa yang akan menjadi konsekuensi perubahan iklim atas hutan tropis. Tetapi cara untuk menciptakan keterkaitan antara beragam sektor dan beragam aktor.

Jadi topik keamanan tentu bisa menjadi cara yang bagus menggerakkan diskusi dan untuk meningkatkan pertimbangan lokal dan ekonomi. Saya pikir bahwa keamanan adalah cara penting untuk menciptakan kesadaran lebih mengenai peran hutan.

Poin keenam saya, adalah, lebih berupa saran, saya tidak punya jawaban. Tetapi jika kita memasukkan pertimbangan bahwa kita berbicara SDGs, mengapa dan saya memberikan pada CIFOR tantangan itu, kita tidak berbicara FDGs, tujuan pembangunan kehutanan.

Apa yang ingin kita ukur. Indikator apa yang ingin kita masukkan dalam diskusi.  Indikator apa yang ingin bisa menunjukkan pada kita bahwa kita mengalami peningkatan dalam tata kelola hutan kita. Saya pikir kita pada saatnya bisa melakukan itu. Kita bisa membangun FDGs.

Saya akan menceritakan apa yang terjadi pada saya beberapa pekan lalu. Kami tengah berdiskusi dengan sektor bisnis di Peru, seputar kampanye bahwa kita membangun sebagai bagian dari COP 20, dan salah seorang peserta mengatakan, ketika kita berdiskusi mengenai perkembangan atau kinerja ekonomi negara, sangat jelas indikatornya. GDP, maaf saya tidak tahu bagaimana mengucapkannya dalam bahasa Inggris, balanza de pagos, dalam dua atau tiga indikator.

Ketika kita berbicara sektor sosial, kita biasa membicarakan kehidupan masyarakat miskin, nutrisi dll. Tetapi ketika kita berbicara mengenai lingkungan atau ketika kita berbicara mengenai hutan, kita tidak benar-benar tahu apa yang perlu ditampilkan. Kita perlu mengukur, apa yang ingin kita buktikan.

Jadi penting untuk memiliki indikator, dan mungkin mencoba memiliki FDGs, akan menjadi cara bergerak maju dalam diskusi ini.

Jadi karena saya telah menyita banyak waktu, saya akan maju ke refleksi terakhir.

Benar, saya ingin mengatakan, apa yang kita lakukan sebagai bagian dari organisasi COP 20.

Apa yang kita lakukan sebagai negara tuan rumah COP 20 berikut. Pertama saya katakan bahwa kami  sangat percaya diri, bahwa kami bisa melakukan sesuatu. Kami tahu bahwa kita bisa menggerakkan diskusi ini menuju kesepakatan. Kita tahu bahwa ini tantangan besar, sulit, kompleks, tetapi berdasar posisi Amerika Latin, juga berdasar kemitraan dengan negara lain, seperti negara-negara Asia Tenggara, kita bisa melakukan sesuatu. Dan untuk itu, jelas sekali kita perlu hasil.

Dan hasil dari Lima, seharusnya memiliki rancangan perjanjian kuat untuk ditandatangani di Paris.

Dan untuk itu kita perlu bergerak dalam proses pengakuan formal peran ADP tetapi juga proses non-formal. Jadi kita bisa mengambil manfaat pertemuan September yang ingin mengusung keinginan politik dalam proses negosiasi.

Mencoba membawa pemimpin dunia menawarkan dan menempatkan di atas meja apa yang bisa mereka tawarkan pada dunia. Jadi kita bisa membawa ADP pada konferensi September, kita punya pertemuan seperti ini untuk kita mendiskusikan sektor hutan, jadi berdasar itu, kita dapat mencapai tujuan kita, menghasilkan rancangan kesepakatan di akhir Desember.

Tetapi ini hanya bukan satu-satunya tujuan yang kita cari.

Tujuan kedua adalah mencoba membawa beberapa konsep menjadi adaptasi. Kita biasa berbicara mengenai adaptasi, tetapi tidak sepenuhnya jelas apa yang dibahas.

Apa artinya resiliensi dalam adaptasi? Apa peran hutan dalam adaptasi? Apa agenda kita sebagai negara berkembang untuk mengakui langkah adaptasi? Dan seberapa besar kita bisa menempatkan diskusi adaptasi ke dalam kontribusi nasional dan mencapai perjanjian akhir.

Jadi ini adalah tujuan kedua. Dan untuk itu, kita punya mandat, kita perlu merevisi panduan yang terbaik bagi rencana adaptasi nasional, NABs. Jadi inilah salah satu misi kita.

Tujuan ketiga adalah mencoba menggerakkan diskusi keuangan lebih meningkat, lebih memberi hasil. Dan seperti saya katakan, kapitalisasi dana iklim hijau adalah penting.

Dan untuk itu, juga mandat keempat adalah membawa informasi menjadi bagian kontribusi keputusan nasional. Dan kita berpikir bahwa keseimbangan antara keuangan dan nasional, NDCs, adalah cara bagus untuk menciptakan kepercayaan. Agar negara maju meletakkan uang di atas meja dan bag negara berkembang mengidentifikasi aksi mereka sendiri, bukan sekadar mitigasi tetapi juga adaptasi.

Kami siap mengorganisasi COP. Kami bergerak cepat, kami melakukan upaya terbesar agar negara-negara berada satu meja, mengambil keputusan di akhir tahun ini.

Saya ingin katakan untuk terakhir kali, betapa saya berbahagia berada di sini, betapa bergembira walaupun diskusi ini mengenai hutan di Asia Tenggara, saya pikir ini penting bagi wilayah ini, sebagai bagian diskusi untuk mendorong diskusi hutan dan tidak terus menjadi adik kecil debat. Kita perlu keputusan politik, We need to have political decision, solusi politik terhadap hutan, tidak hanya sebagai bagian debat iklim tetapi debat pembangunan.

Terima kasih banyak.

(Visited 149 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi