Liputan Khusus

Satu tujuan, banyak jalan menuju pembiayaan ‘ekonomi hijau,’ kata panelis

Alasannya adalah, kurang ada bukti ini berhasil dan kurangnya skema pembiayaan untuk menarik modal dengan efektif dan kredibel.
Bagikan
0
Kayu manis, hutan dekat desa Lubuk Beringin, kabupaten Bungo, provinsi Jambi, Indonesia. Foto: Tri Saputro/ CIFOR
Kayu manis, hutan dekat desa Lubuk Beringin, kabupaten Bungo, provinsi Jambi, Indonesia. Foto: Tri Saputro/ CIFOR

Paling popular

Indonesia - JAKARTA, Indonesia — Urgensi investasi publik dan swasta untuk mendanai “ekonomi hijau” di Asia Tenggara sejauh ini lambat datang, kata para pakar di konferensi regional terbaru, seraya mendorong beragam pendekatan berbeda untuk membantu akselerasinya.

Menggerakkan sumber daya finansial untuk menstimulasi investasi pertanian kecil dan penggunaan lahan berkelanjutan – terentang dari aktivitas REDD+ ke pasar karbon hutan, di antaranya – bisa membantu memperlambat penyebab deforestasi. Celah finansial telah muncul, disebabkan oleh kurangnya keinginan politis.

Hal ini bertentangan dengan latar belakang para pembicara dari sektor swasta, publik dan pembangunan dalam salah satu forum diskusi di Pertemuan Puncak Forests Asia di Jakarta untuk mengeksaminasi pendekatan inovatif dalam mendanai keuntungan hijau yang inklusif. Forum tersebut diminta menjawab bagaimana pembiayaan publik dapat mendorong investasi lebih besar dari sektor swasta dalam lanskap berkelanjutan, bagaimana perusahaan lebih kecil didorong untuk memanfaatkan sumber daya lanskap secara berkelanjutan, dan bagaimana menarik insentif menyimpang seperti subsidi bahan bakar fosil.

Para panelis menyatakan nyaris sama mengenai apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Thomas Heller dari Climate Policy Initiative dengan cepat mengaku pentingnya debat global mengenai ekonomi hijau, tetapi dengan cepat pula menyebut tidak majunya perdebatan itu. “Ketika Anda berbicara mengenai biaya disrupsi sistem, perubahan yang terjadi dalam pertanian kita, “ katanya, “maka sangat sedikit yang terjadi.”

“Insentif perubahan pada skala ini tidak akan datang dari kebijakan dan transfer internasional. Mereka datang dari ekonomi nyata – yaitu, cara bagaimana kita memproduksi makanan dan cara kita memproduksi bahan bakar.”

Visi Heller mengenai keberhasilan ekonomi nyata mencakup penggunaan sumber daya secara efisien; produktivitas yang diturunkan dari lebih majunya ilmu pengetahuan dan teknologi informasi; rangkaian terintegrasi jasa lingkungan dari adopsi pendekatan lanskap dalam mengelola modal alam; serta penyampaian jasa dan produk melalui pemanfaatan sektor swasta lebih berpengalaman bekerjasama dengan badan pemerintah.

Panelis Lou Munden, salah satu pendiri Proyek Munden, sebuah firma konsultasi lingkungan, masuk ke inti debat lanskap.

“Bagaimana Anda menstimulasi investasi petani kecil di lanskap bagi timbal balik hijau?” katanya.

Jika ia punya semua uang dan inklinasi di dunia, kata Munden, tidak ada yang meyakinkannya saat ini untuk berinvestasi dalam manajemen lanskap berkelanjutan. “Alasannya adalah, Anda kurang punya bukti ini berjalan dan Anda kurang memiliki skema pembiayaan untuk menarik modal saya dengan cara efektif dan kredibel.”

Munden menekankan perlunya fokus pada proses dalam kehutanan dan pertanian yang menghasilkan “produk tangibel, layak jual – dengan cara yang membuat orang membeli karena mereka ingin menggunakannya. Proses ini memungkinkan untuk membesarkan jenis alur uang yang kita perlukan untuk membuatnya menarik.”

Pinjaman untuk pertanian berkelanjutan, lanjutnya, harus mencakup tiga elemen unik: periode pembayaran kembali lebih lama, tingkat bunga rendah dan jadwal pembayaran kembali yang didorong secara alami, tidak dipaksakan – tidak satupun, dalam proyek mandiri, berterima dengan perbankan. “Tetapi jika Anda mengambil beragam pinjaman seperti ini di sejumlah negara berbeda dan menyatukannya bersama secara cerdas,” catat Munden, “itu menjadi proposisi nilai sebenarnya” yang bisa menarik minat perbankan.

Sebuah pendekatan berbeda untuk tantangan ini datang dari Yalmaz Siddiqui, Direktur Senior Office Depot, sebuah lembaga retail suplai kantor berbasis di AS. Menurut Siddiqui, Office Depot membeli sekitar 1 miliar ton produk kertas setiap tahun dan dapat menggunakan kekuatan beli ini untuk menggunakan barang ramah lingkungan. Ia mengatakan hadir di Konferensi Tingkat Tinggi Asia karena “berposisi sebagai pembeli besar produk hutan, … ini saatnya menggunakan kontrak kami dengan cara positif … katakanlah untuk mensuplai wilayah dan perusahaan yang meningkatkan kinerja lingkungan dan kinerja keberlanjutan, jadi Anda mendapat akses kontrak sangat signifika.”

Panelis Morris Vohner, Direktur Yayasan Gold Standard menggambarkan bagaimana lembaganya melakukan sertifikasi sekitar 1.000 proyek setelah memenuhi aturan praktik-terbaik – mengatur hal termasuk syarat konsultasi dengan pemangku kepentingan lokal, reduksi berkelanjutan emisi gas rumah kaca, serta peningkatan lingkungan dan kehidupan manusia. Proyek sertifikasi memperoleh kredit yang diuangkan oleh pemerintah, bisnis, dampak investor dan individual. Vohner menyatakan yayasannya telah mengeluarkan kredit karbon senilai 100 juta dolar AS, dengan sebagian besar uang kembali untuk manajemen lanskap berkelanjutan.

Dana untuk memulai “ekonomi hijau” global bukan suplai kecil-kecilan, dinyatakan pada peserta di konferensi. Bagaimana membuka kunci dan membelanjakannya – adalah fokus diskusi sepanjang pertemuan.

Heller menyatakan satu hal pasti: Ekonomi hijau harus dibangun melalui insentif positif.

“Ini tidak akan berjalan dengan mengancam orang – Jika Anda tidak melakukan X, kami tidak membeli produk Anda. Itu benar-benar bukan cara efektif berurusan dengan insentif secara umum.”

(Visited 145 times, 1 visits today)
Topik :   Bentang alam