Berita

Peranti online mencari kesesuaian program perubahan iklim bagi masyarakat hutan

Ilmuwan menemukan alat yang dapat membantu memperoleh lebih banyak strategi, kebutuhan dan pengetahuan tentang perencanaan adaptasi.
Bagikan
0
Barry Aliman, 24 tahun, mengendarai sepedanya bersama bayinya untuk mengambil air untuk keluarganya dekat Boromo, Burkina Faso. Sebuah peranti online berusaha melukiskan gambar yang jelas mengenai bagaimana hutan berkontribusi pada strategi adaptasi iklim penduduk pedesaan. Ollivier Girard/Foto CIFOR
Barry Aliman, 24 tahun, mengendarai sepedanya bersama bayinya untuk mengambil air untuk keluarganya dekat Boromo, Burkina Faso. Sebuah peranti online berusaha melukiskan gambar yang jelas mengenai bagaimana hutan berkontribusi pada strategi adaptasi iklim penduduk pedesaan. Ollivier Girard/Foto CIFOR

Paling popular

Africa - Catatan editor: Piranti lunak CRiSTAL-Forest — lengkap dengan panduan pemakaian, studi kasus dan informasi bagaimana berbagi pengalaman mengunakan alat ini — dapat dilihat di sini

BOGOR, Indonesia — Banyak yang telah ditulis tentang beragam cara masyarakat pedesaan berinteraksi dengan hutan, melakukan adaptasi dengan perubahan iklim.

Merancang berbagai proyek pembangunan guna mendukung adaptasi perubahan iklim yang lebih maju di tempat-tempat ini memerlukan perhitungan untuk keanekaragaman budaya setempat – juga berbagai risiko perubahan iklim setempat yang dihadapi oleh beragam komunitas.

Sebuah alat terbaru dikeluarkan berusaha untuk melakukan hal tersebut.

Peranti perencanaan proyek, CRiSTAL-Forest (Community-based Risk Screening Tool — Adaptation, Livelihoods and Forest- Piranti Penyaring Risiko berbasis Komunitas – Adaptasi, Penghidupan dan Hutan), dikembangkan dan diuji oleh para ilmuwan di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan International Institute for Sustainable Development (IISD) bekerja sama melalui jejaring UNITAR C3D+ (the Climate Change Capacity Development).

Tujuan perangkat adalah untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang bagaimana kontribusi hutan bagi strategi adaptasi manusia, namun alat ini juga memampukan analisa mengenai bagaimana masyarakat dengan sumber daya hutan bereaksi terhadap berbagai perubahan.

Para pembuat kebijakan sering kali menghadapi kesulitan dalam merencanakan dan merancang berbagai proyek adaptasi strategis yang mengambil pengetahuan setempat untuk membantu para petani, ungkap Houria Djoudi,  ilmuwan CIFOR. Alat CRISTAL dapat memberi manfaat dengan menempatkan fenomena tersebut dalam konteks dengan berbagai faktor lingkungan lainnya.

“Karena minimnya alat yang praktis untuk mempelajari kerentanan perubahan iklim dan adaptasi dalam konteks beragam stresor, alat ini menjanjikan kegunaan akan memahami berbagai strategi adaptasi dan penanganan dalam konteks semacam itu, ” ujar Djoudi.

CRISTAL-Forest awalnya dianggap oleh para peneliti lebih siap diterapkan penggunaannya di kalangan pemangku kepentingan tingkat nasional dan regional. Namun, lokakarya di lapangan selanjutnya diimplementasikan untuk menguji alat ini, dan para peneliti menemukan bahwa alat ini juga mempunyai nilaibagi masyarakat setempat.

“Kami menemukan alat ini dapat berperan sebagai peranti intervensi kebijakan yang memungkinkan tata kelola adaptif dan untuk membantu memperoleh lebih banyak strategi, kebutuhan dan pengetahuan tentang perencanaan adaptasi,” kata Djoudi.

“Meskipun perubahan iklim tidak selalu merupakan tekanan yang paling signifikan yang mempengaruhi suatu komunitas, hal ini harus dimasukkan dalam pertimbangan bila merancang dan mengimplementasikan suatu proyek pembangunan, khususnya di bidang-bidang yang membina penghidupan bergantung sumber daya alam,” ujarnya.

Kegunaan praktis alat ini memerlukan pemakai mengidentifikasi berbagai sumber daya penting bagi penghidupan; meringkas informasi tentang perubahan iklim terproyeksi dan teramati; menggambarkan bencana iklim saat ini dan yang potensial di masa depan; menganalisis risiko iklim; dan menilai berbagai strategi respons yang ada.

Hutan menyediakan beragam barang dan jasa penting yang digunakan orang untuk merespons keadaan krisis, tetapi kontribusi ini sering kali terlewatkan ketika berbicara mengenai rencana dan kebijakan adaptasi nasional. Namun, hutan sendiri terpengaruh baik oleh perubahan iklim maupun tekanan manusia seperti pertanian.

Dampak ganda yang saling berjalin ini dapat mengompromikan baik kemampuan hutan untuk menghasilkan barang dan jasa maupun kapasitas adaptif manusia, ujar Djoudi.

“Para pembuat kebijakan di banyak negara Afrika mengemukakan kebutuhan akan perangkat praktis untuk membantu mereka mengintegrasikan hutan ke dalam rencana adaptasi nasional, jadi CIFOR dan para mitranya telah berusaha menangani kekurangan ini,” ujarnya.

Perangkat CRiSTAL-Forest tidak memperlakukan risiko iklim secara ketat sebagai sebuah masalah lingkungan, tetapi menautkannya dengan prospek pembangunan melalui pendekatan berbasis bukti terhadap penghidupan.

Djoudi mengatakan bahwa ia berharap berbagai organisasi lain menggunakan alat ini dan membagikan pengalaman dan pengetahuan mereka tentang alat ini di kanal CRiSTAL-Forest CIFOR.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai berbagai topik yang didiskusikan, silakan hubungi Houria Djoudi di h.djoudi@cgiar.org

(Visited 189 times, 1 visits today)