Liputan Khusus

Persimpangan negosiasi iklim saat adaptasi & mitigasi berhadapan di Bonn

Banyak negara berbicara mengenai proses nasional agar ratifikasi terlaksana, namun tak ada pernyataan utama yang dibuat.
Bagikan
0
Danum Valley, Kalimantan, Indonesia. Puntos de divergencia y convergencia comienzan a cristalizarse en las negociaciones en curso sobre el clima. Fotografía de CIFOR.
Danum Valley, Kalimantan, Indonesia. Puntos de divergencia y convergencia comienzan a cristalizarse en las negociaciones en curso sobre el clima. Fotografía de CIFOR.

Paling popular

Hutan di Lembah Danum, Sabah, Malaysia. Menetapkan definisi dari jenis-jenis hutan berbeda dapat memampukan analisis yang lebih baik dari pengembangan dan analog kompensasi (tradeoffs) pengelolaan hutan. M. Edliadi/CIFOR photo

Hutan di Lembah Danum, Sabah, Malaysia. Menetapkan definisi dari jenis-jenis hutan berbeda dapat memampukan analisis yang lebih baik dari pengembangan dan analog kompensasi (tradeoffs) pengelolaan hutan. M. Edliadi/CIFOR photo

Peru - Catatan Editor: Berikut ini adalah ringkasan dari artikel yang telah dipublikasikan di kanal Forests Climate Change. Artikel keseluruhan dapat dibaca di sini.

Berjalannya negosiasi iklim bulan Juni lalu dimulai dengan pengakuan yang luas antar pihak terkait kebutuhan penurunan sebanyak mungkin emisi gas rumah kaca (GRK) dan untuk mempercepat negosiasi berdasarkan hasil laporan 5thAssessment Report (AR5) yang dikeluarkan oleh Iklim Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan (IPCC) tahun ini.

Sesi ini adalah kesempatan terakhir bagi para pihak untuk bertemu sebelum Pertemuan Tingkat Tinggi Iklim Sekretaris Jenderal PBB, yang akan diadakan di New York September mendatang – dimana untuk pertama kalinya para pemimpin dunia bertemu membicarakan tema ini setelah gagal pada konferensi Kopenhagen 2009. Ekspektasi tinggi terkait kondisi pendanaan diharapkan muncul dari pertemuan ini.

Pertemuan UNFCCC Subsidiary Bodies (SBs) dan Ad Hoc Working Group on the Durban Platform (ADP) di bulan Juni dilaksanakan berselang dengan pengumuman Presiden AS Barrack Obama mengenai 30% penurunan emisi pembangkit listrik pada tahun 2030 serta berakhirnya Green Climate Fund (GCF) terkait elemen-elemen penting yang dibutuhkan untuk pengoperasian penuh dana tersebut.

Pertemuan tingkat menteri dilakukan, dimana para pihak berharap memperoleh pencerahan. Ini dititikberatkan pada kekecewaan atas kesenjangan ratifikasi Amandemen Doha terhadap Protokol Kyoto (KP) untuk memampukan periode komitmen kedua, sebuah stagnasi terhadap ambisi negara berkembang untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan kesenjangan komitmen keuangan yang masih terjadi. Banyak negara berbicara mengenai proses-proses nasional yang sedang berjalan agar ratifikasi dapat terlaksana, namun tak ada pernyataan utama yang dibuat.

Tuan rumah UNFCCC 20th Conference of the Parties (COP 20) – Peru – berhasil membuat kehadirannya diperhitungkan. Dengan banyak dukungan dari negara-negara kurang berkembang (LDCs) dan negara berkembang kepulauan kecil (SIDS), dalam setiap kesempatan Peru mengingatkan para pihak terkait akan pentingnya bertindak dan menurunkan ekspektasi yang tinggi terhadap pertemuan yang akan dilaksanakan pada bulan Desember di Lima. Presiden COP yang akan datang, Menteri Manuel Pulgar-Vidal menegaskan bahwa beliau berharap keputusan di Lima akan dibuat dengan memperhatikan mitigasi pre-2020, REDD+, kapitalisasi GCF, kontribusi harapan nasional yang diputuskan (INDCs) dan sebuah teks draft untuk sebuah kesepakatan iklim baru.

Dapat dikatakan bahwa substantif negosiasi telah dilakukan. Titik perbedaan dan titik temu mulai mengkristal, yang kemungkinan akan memampukan para Pihak untuk melakukan pekerjaan mereka untuk mencapai kesepakatan yang bertahan lama dan terbukti di masa depan.

Baca artikel selanjutnya di sini.

(Visited 128 times, 1 visits today)