Analisis

‘Pendekatan Bentang Alam’ menolak definisi sederhana – dan itu bagus

Pendekatan bentang alam berupaya mencari cara mengatasi rumit dan luasnya tantangan yang melampaui batas-batas tata kelola tradisional.
Bagikan
0
Bentang alam di sekitar Taman Nasional Halimun Salak, Jawa Barat, Indonesia. Foto: Kate Evans/ CIFOR.
Bentang alam di sekitar Taman Nasional Halimun Salak, Jawa Barat, Indonesia. Foto: Kate Evans/ CIFOR.

Paling popular

Istilah “lanskap”, “pendekatan lanskap” dan “manajemen lanskap terintegrasi,” termasuk dalam terminologi serupa yang “berfokus pada lanskap”, mendukung wacana serupa dalam lingkaran riset kontemporer, donor dan pembangunan terkait konservasi, pertanian dan penggunaan lahan lainnya. Sebagian besar istilah ini membingungkan namun sudah menyebar. Misalnya, sebuah pemahaman bersama mengenai apa itu “pendekatan lanskap” mewakili sesuatu yang sulit dipahami secara konseptual atau yang terlihat di lapangan.

Pendekatan lanskap mencakup semuanya kecuali soal keteraturan. Ini lebih berupa upaya keluar dari keterpurukan dan menjadi cukup fleksibel untuk beradaptasi terhadap perubahan, dan mengintegrasikan beragam tujuan untuk kemanfaatan terbaik.

Dalam upaya menyediakan kerangka panduan pendekatan lanskap, Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan lembaga mitra menjelaskan 10 prinsip yang menggambarkan pendekatan tersebut. Sepuluh prinsip tersebut menekankan manajemen adaptif, pelibatan pemangku kepentingan dan dialog, serta beragam tujuan. Seraya mengakui bahwa pendekatan lanskap bukan panasea, artikel kami menunjukkan beberapa alternatif yang bisa mengatasi perubahan iklim pada skala lanskap secara lebih efektif.

Bagaimanapun, dan agak mengejutkan, reaksi publik terhadap publikasi kerangka longgar yang utamanya terfokus pada spesifikasi daripada kerangka lebih luas itu sendiri. Respon beragam mulai dari, “apa itu lanskap?” ke “dimana prinsip-prinsip ini dipraktikkan?” hingga “lanskap mana yang secara berlanjut dikelola?”

Pertanyaan tersebut kredibel dan valid, serupa dengan pertanyaan komunitas kami sendiri (yaitu penelitian lingkungan dan pembangunan) untuk memberi kategori dan mengkompartementasi konsep lanskap guna memudahkan pemahaman merupakan sesuatu yang diperlukan untuk memperluas kebutuhan keteraturan, sistem, dan proses. Benar bahwa pendekatan lanskap mencakup semuanya kecuali keteraturan. Hal ini lebih berupa upaya keluar dari keterpurukan dan menjadi cukup fleksibel untuk beradaptasi terhadap perubahan, dan mengintegrasikan beragam tujuan untuk kemanfaatan terbaik.

CGIAR and Healthy Landscapes from CGIAR

BEDA KONTEKS, BEDA MAKNA

Secara sendiri kata “lanskap” cukup menggugah. Kajian ilmiah sejarah, seni, filsafat, biologi, antropologi, politik dan lingkungan menggunakan istilah ini, dengan sedikit keberubahan antar disiplin ilmu tersebut. Lanskap jelas mewakili entitas berbeda pada orang berbeda.

Memang etimologi istilah ini sendiri rumit tetapi mengindikasikan terdapatnya beberapa kesamaan pemahaman yang bisa memberikan wawasan menuju kesamaan paham mengenai apa yang diwakili istilah “lanskap”. Istilah “lahan”, dari akar katanya dalam bahasa Jerman, mengindikasikan rasa memiliki (= Saya punya). Kemudian suffiks “-scape” berarti, dalam banyak bahasa, “membentuk.” Oleh karena itu istilah “lanskap,” secara etimologi, menyatakan bahwa lingkungan secara inheren dipengaruhi oleh manusia dan aktivitas kita. Kita, dalam realitasnya, hidup dalam zaman “lanskap manusia,” dan dalam banyak sudut pandang signifikan kita dapat menerapkan terminologi ini ke manapun, dan di tempat manapun, dalam lingkungan global.

Disainer lanskap ternama Geoffrey Jellicoe mendefinisikan “lanskap manusia” sebagai sebuah “lingkungan yang telah dibentuk dan dikelola oleh aktivitas manusia.” Dalam ekstensifnya jejak manusia, hanya terdapat sedikit lanskap global yang tidak dipengaruhi oleh kita sendiri dan saudara-saudara kita. Hidup dalam zaman Antroposens, seperti kita saat ini, lanskap kita menjadi representasi hidup dari peradaban kita dalam beragam bentuk.

Secara ringkas, pendekatan lanskap dalam kaitannya dengan konservasi, pertanian dan penggunaan lahan lain berupaya mencari cara mengatasi makin rumit dan luasnya tantangan lingkungan, sosial dan politik yang melampaui batas-batas tata kelola tradisional. Pendekatan ini bukan resep, penentu atau terbungkus disiplin ilmu tertentu. Pendekatan ini membutuhkan multi-dan interdisiplin, menolak definisi dan karakterisasi. Mungkin hal menarik pendekatan lanskap adalah bahwa, dalam menolak definisi, ini dapat, dan seharusnya, menjadi prinsip menyeluruh dari konsep dan implementasi dibanding mundur pada kompartementalisasi dan pemeringkatan yang tampaknya menjadi tujuan kita semua.

Seluruh lanskap berbeda, dengan perbedaan pengaruh dan tekanan pada mereka. Dalam kondisi ini, bisa diperdebatkan bahwa kebutuhan untuk mendefinisikan “lanskap” adalah pengabadian dari mentalitas silo yang dalam komunitas penelitian kita mencoba untuk hindari. Mengkompartementalisasi sesuatu yang tidak bisa dikompartementalisasi. Kebingungan muncul karena dorongan untuk mendefinisikan istilah ini sia-sia ketika makna istilah ini sudah dipahami.

Mungkin tidak ada definisi yang disepakati bersama dalam “pendekatan lanskap”, tetapi terdapat konsensus kuat mengenai maknanya, dan juga kekuatan dan potensinya untuk mengatasi beberapa masalah penelitian krusial masa kini, termasuk perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, tata kelola sumber daya alam, pengurangan kemiskinan, keamanan pangan dan kesejahteraan manusia.

(Visited 468 times, 1 visits today)
Topik :   Bentang alam