Wawancara

Krisis iklim ‘bisa menjadi revolusi global’

Sangat mungkin mendapatkan lebih banyak pangan, lebih banyak hutan, lebih sedikit emisi dan penghidupan lebih baik. Ini dapat dilakukan.
Bagikan
0
Amazon Brasil. Separuh penurunan deforestasi dunia dalam delapan tahun terakhir tercapai di satu provinsi di Brasil. Neil Palmer@CIFOR photo
Amazon Brasil. Separuh penurunan deforestasi dunia dalam delapan tahun terakhir tercapai di satu provinsi di Brasil. Neil Palmer@CIFOR photo

Paling popular

BOGOR, Indonesia — Keberhasilan Amazon Brasil adalah bukti bahwa ada peluang menurunkan deforestasi dan menghindari krisis iklim, kata Daniel Nepstad, Direktur Eksekutif Earth Innovation Institute (Institut Inovasi Bumi).

“Kita benar-benar perlu menyederhanakan dan menyatukan kekuatan untuk menghindari krisis perubahan iklim, kelangkaan pangan, konservasi hutan yang muncul. Dan ada bukti besar bahwa ini berhasil – seperti ditunjukkan Brasil,” kata Nepstad, pakar ekologi hutan yang meneliti penggunaan lahan di Amazon selama 30 tahun, dalam wawancara dengan Forests News.

Untuk mengubah krisis menjadi revolusi kita perlu mengatasi intens-nya fragmentasi yang ada saat ini

“Saya pikir sangat mungkin mendapatkan lebih banyak pangan, lebih banyak hutan, lebih sedikit emisi dan penghidupan lebih baik. Ini dapat dilakukan.”

Nepstad adalah satu dari enam panelis yang berbagi ‘gagasan besar’ pada Kolokium mengenai Hutan dan Iklim: Pemikiran Baru untuk Perubahan Transformatif di New York 24 September. Kolokium ini merupakan kerja sama Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan Institut Kebumian Universitas Kolumbia . Di bawah ini, transkrip wawancara yang telah disunting.

Informasi lebih lanjut tentang Kolokium: Diantara para panelis John Holdren tentang energi, Carlos Nobre tentang variabilitas iklim, Eduardo Brondízio tentang pemerintahan, Cheryl Palm tentang pertanian dan Pushpam Kumar tentang ekonomi hijau. Informasi lebih lengkap tersedia di kanal ini.

T: ‘Gagasan besar’ apa yang akan Anda diskusikan pada acara itu?

J: Sebuah krisis global tengah berlangsung dapat menjadi revolusi global. Perubahan iklim dan cepatnya pertumbuhan konsumsi pangan, bahan bakar dan serat mendorong perluasan pertanian – khususnya di wilayah tropis. Tren ini bisa mempercepat deforestasi tropis, memperburuk perubahan iklim. Atau, kita bisa keluar dari masalah ini dan mengembangkan lebih banyak pangan di lahan yang telah digunduli.

Untuk mengubah krisis menjadi revolusi kita perlu mengatasi intens-nya fragmentasi yang kita ada saat ini – kita punya pendekatan kerelawanan sektor swasta melawan pendekatan kebijakan melawan pendekatan internasional seperti REDD+ — dan kita perlu menemukan jalan mempersatukan mereka pada skala yang bisa membuat perbedaan.

Ini sudah mulai terjadi – kita menyaksikan kemajuan pendekatan bawah-ke-atas untuk keberlanjutan pertanian di wilayah besar yang nantinya bisa dikaitkan standar internasional komoditas pertanian dan pembiayaan iklim. Pertama dan terpenting, pendekatan ini harus berhasil di Amazon, di Kalimantan, di masyarakat langsung yang terkait dalam sistem produksi ini.

T: Bagaimana fragmentasi ini bisa diatasi?

A: Langkah pertama adalah membuat definisi berhasil yang bisa dipenuhi setiap orang di seluruh wilayah – kabupaten, provinsi, dan negara. Langkah kedua adalah kemampuan memantau keberhasilan tersebut secara regional, dan langkah ketiga adalah insentif yang akan mendorong pembangunan desa ke arah lebih banyak pangan, lebih banyak hutan, penghidupan lebih baik dan emisi lebih sedikit. Insentif tidak harus finansial – beberapa insentif paling kuat justru dalam bentuk penyederhanaan alur birokrasi dan membuatnya lebih efisien melakukan bisnis. Anda tidak membutuhkan satu ton uang REDD+ untuk mendapat hak insentif – Anda hanya perlu menghilangkan sebagian birokrasi.

Di Brasil hal ini sudah mulai berlangsung. Terdapat kesepakatan multi-sektor mengenai deforestasi yang dasarnya adalah upaya mengumpulkan apa yang sebelumnya terpisah-pisah dalam kebijakannya. Hal ini dapat segera mengisi celah – moratorium kacang kedelai berakhir Desember, kesepakatan peternakan mengalami hal yang sulit karena melibatkan hanya 30 persen pasar, Undang-undang Kehutanan berlaku seperti pusaran yang menyerap habis semua oksigen diskusi mengenai deforestasi dan keberlanjutan. Dan masih terdapat kelompok sektoral – kedele, sapi, finansial, pemerintahan daerah – yang telah bertemu dalam 18 bulan terakhir untuk merumuskan definisi keberhasilan dengan pijakan kuantitatif untuk menurunkan deforestasi, dan putaran pertama insentif yang bisa mendorong wilayah tersebut menuju keberhasilan.

Kami juga lihat kemajuan secara global. Bulan lalu di Acre, Brasil, Satuan Tugas Tata Kelola Iklim dan Hutan menandatangani deklarasi untuk menurunkan deforestasi hingga 80 persen pada 2020. Hal itu mencakup seperempat hutan tropis dunia, sebagian besar Indonesia, sebagian besar Amazon.

Jadi ini fragmentasi nyata, tetapi juga waktu dimana bisa terwujud perpaduan antara inisiatif rantai suplai berfokus pada tingkat peternakan di mana sertifikasi menjadi mekanismenya – dan inisiatif kebijakan yang diikuti penegakkan hukum serta insentif fiskal yang benar-benar dapat membawa transformasi pada tingkat yang benar.

T: Apa artinya secara praktis untuk mendorong tindakan reduksi deforestasi?

A: Pergeseran paradigma, katakanlah peternakan Anda berada dalam wilayah yang berhasil melakukan reduksi deforestasi, oleh karena itu Anda boleh masuk pasar.

Daripada menyatakan, properti Anda bersertifikat berkelanjutan, yang juga sangat penting, tetapi akan sulit untuk bisa mencapainya, sebagian karena jadi sangat mahal untuk mengaudit properti individual.

dan_nepstad

““Kita benar-benar perlu menyederhanakan dan menggabungkan kekuatan jika kita ingin menghindari krisis perubahan iklim, kelangkaan pangan, dan konservasi hutan,” kata Dan Nepstad, Direktur Eksekutif Institut Inovasi Bumi.

Di Brasil, kami sudah sangat dekat pada kesepakatan multi-sektor dengan dukungan program pemantauan, sehingga semua investor, semua pembeli kedele atau sapi bisa bertanya, “Baiklah, rantai suplai saya ingin bekerja dengan empat negara itu, jadi bagaimana mereka melangkah menuju standar keberlanjutan – oh, mereka sudah mencapai standar tersebut, mereka bagus hingga 2018, dan jadi itu tempat rendah risiko bagi saya untuk menjadi sumber.”

Kami juga lihat kemajuan secara global. Bulan lalu di Acre, Brasil, Satuan Tugas Tata Kelola Iklim dan Hutan menandatangani deklarasi untuk menurunkan deforestasi hingga 80 persen pada 2020. Hal itu mencakup seperempat hutan tropis dunia, sebagian besar Indonesia, sebagian besar Amazon.

Jadi ini fragmentasi nyata, tetapi juga waktu dimana bisa terwujud perpaduan antara inisiatif rantai suplai berfokus pada tingkat peternakan di mana sertifikasi menjadi mekanismenya – dan inisiatif kebijakan yang diikuti penegakkan hukum serta insentif fiskal yang benar-benar dapat membawa transformasi pada tingkat yang benar.

T: Apa artinya secara praktis untuk mendorong tindakan reduksi deforestasi?

A: Pergeseran paradigma, katakanlah peternakan Anda berada dalam wilayah yang berhasil melakukan reduksi deforestasi, oleh karena itu Anda boleh masuk pasar.

Daripada menyatakan, properti Anda bersertifikat berkelanjutan, yang juga sangat penting, tetapi akan sulit untuk bisa mencapainya, sebagian karena jadi sangat mahal untuk mengaudit properti individual.

Di Brasil, kami sudah sangat dekat pada kesepakatan multi-sektor dengan dukungan program pemantauan, sehingga semua investor, semua pembeli kedele atau sapi bisa bertanya, “Baiklah, rantai suplai saya ingin bekerja dengan empat negara itu, jadi bagaimana mereka melangkah menuju standar keberlanjutan – oh, mereka sudah mencapai standar tersebut, mereka bagus hingga 2018, dan jadi itu tempat rendah risiko bagi saya untuk menjadi sumber.”

“Kita benar-benar perlu menyederhanakan dan menggabungkan kekuatan jika kita ingin menghindari krisis perubahan iklim, kelangkaan pangan, dan konservasi hutan,” kata Dan Nepstad, Direktur Eksekutif Institut Inovasi Bumi.

Hutan Amazon menjadi tempat tinggal beragam keragaman hayati di dunia dan menyimpan sejumlah besar karbon – tetapi juga rumah bagi lebih dari 30 juta orang. Klik di sini untuk membaca “Pelajaran dari Amazon,” laporan khusus riset CIFOR untuk membantu hutan dan masyarakat di wilayah tersebut. Marco Simola @CIFOR

Hutan Amazon menjadi tempat tinggal beragam keragaman hayati di dunia dan menyimpan sejumlah besar karbon – tetapi juga rumah bagi lebih dari 30 juta orang. Klik di sini untuk membaca “Pelajaran dari Amazon,” laporan khusus riset CIFOR untuk membantu hutan dan masyarakat di wilayah tersebut. Marco Simola @CIFOR

T: Anda telah menulis banyak mengenai keberhasilan Brasil menurunkan deforestasi dalam dekade terakhir ini. Bisakah hal ini terjadi di negara lain atau ini sekadar gabungan peristiwa keberuntungan?

J: Ini mungkin bisa dilihat dari keinginan Presiden Luiz Inácio Lula da Silva untuk menjadi pemimpin internasional dan menempatkan Brasil sebagai kekuatan internasional. Dia melihat deforestasi Amazon sebagai kerikil dalam sepatunya, dan pada 2004 memberi Marina Silva kekuasaan untuk menangani hal ini. Ketika deforestasi menjadi program Kabinet, hal ini mendorong level baru penegakkan aturan. Tetapi terdapat banyak kendala.

Separuh penurunan deforestasi dunia yang tercapai dalam delapan tahun terakhir terjadi di provinsi Mato Grosso. Figur seperti Blairo Maggi menjadi simbol perubahan global.

Gubernur menyatakan 80 persen reduksi deforestasi pada 2020 sendiri tidak bermakna. Tetapi jika menjadi konteks mendorong dialog dan perubahan, untuk menyatukan kebijakan, maka ini bisa bermanfaat.

Maggi adalah pengusaha besar kedelai yang menjadi gubernur Mato Grosso. Saya bertemu pada 2004 dan mulai banyak berbicara sejak saya melakukan eksperiman besar di salah satu peternakannya. Saya menyaksikan wacananya mulai dari, “Kita harus memberi makan dunia, kita harus menggunduli hutan” dan unjuk diri pada Greenpeace – untuk membuktikan bahwa sangat baik bisnis merangkul keberlanjutan pada skala lebih luas.

Ia meraih penghargaan Golden Chainsaw of the Year pada 2005, karena menetapkan target reduksi deforestasi ambisius pada Konferensi Tingkat Tinggi Kopenhagen 2009 – 89 persen pada 2020. Dan Mato Grosso benar-benar mencapai target tersebut lebih dini, yaitu pada 2012.

Ini adalah titik balik mengagumkan. Dan saya pikir di situ kita bisa melihat pasar menolak deforestasi dari rantai suplai, terbantu fakta menyenangkan bahwa sapi diternakkan secara intensif di area penggembalaan kecil, hingga memberi ruang untuk kedelai serta menurunkan kebutuhan menggunduli hutan.

T: Apa harapan Anda mengenai pikiran orang setelah Kolokium usai?

J: Kita benar-benar perlu menyederhanakan dan menggabungan kekuatan jika kita ingin menghindari krisis perubahan iklim, kelangkaan pangan, konservasi hutan yang muncul. Dan ada bukti besar bahwa hal ini berhasil – seperti ditunjukkan Brasil.

Saya pikir sangat mungkin mendapatkan lebih banyak pangan, lebih banyak hutan, lebih sedikit emisi dan penghidupan lebih baik. Ini bisa dilakukan.

T: Mengapa acara seperti ini penting?

J: Mereka adalah orang-orang di lapangan sekitar kita yang bisa digerakkan untuk maju. Gubernur menyatakan 80 persen reduksi deforestasi pada 2020 sendiri tidak bermakna. Tetapi jika menjadi konteks mendorong dialog dan perubahan, untuk menyatukan kebijakan, maka ini bisa berhasil. Dan saya pikir Kolokium seperti ini membantu menarik para pemimpin duduk bersama dan menjadi bagian narasi publik terkait isu-isu ini.

Untuk informasi lebih mengenai Kolokium mengenai Hutan dan Iklim, lihat di sini. 

(Visited 150 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi