Berita

Kesepakatan terminologi: Mencari ‘literatur abu-abu’ tentang bentang alam

Saat ini, terjadi banyak kebingungan melingkupi apa yang digambarkan dan mengapa kita memerlukan pendekatan ini
Bagikan
0
Lanskap pedesaan di Kalimantan Barat. Yayan Indriatmoko/CIFOR photo
Lanskap pedesaan di Kalimantan Barat. Yayan Indriatmoko/CIFOR photo

Paling popular

NAIROBI, Kenya — Apakah yang dimaksud dengan “tata kelola lanskap terintegrasi?

Jika Anda bertanya pada 78 ilmuwan berbeda, Anda mungkin akan mendapat 78 jawaban berbeda, demikian ditemukan peserta konferensi pemanfaatan lahan.

Konsensus mengenai definisi adalah tanda sah ilmu pengetahuan. Ketika tidak ada konsensus, banyak hal menjadi sulit diterapkan – terutama ketika ilmu berhadapan dengan kebijakan.

Hal yang sama juga terjadi pada “pendekatan lanskap” untuk pembangunan berkelanjutan, sebuah kerangka kerja yang melingkupi seluruh spektrum pemanfaatan lahan, pelaku dan tata kelolanya.

Saat ini terdapat kebingungan seputar apa yang digambarkan  dan mengapa kita membutuhkan (pendekatan lanskap) ini

Istilah “lanskap” telah menjadi sesuatu yang biasa dalam wacana global pembangun dan tata kelola berkelanjutan lahan dan sumber alam lain, tetapi komunitas ilmiah belum bersepakat mengenai definisi tunggal “pendekatan lanskap,” tampaknya karena alasan yang baik. Pada konferensi terbaru Lanskap untuk Masyarakat, Pangan dan Alam yang diselenggarakan Pusat Agroforestri Dunia di Nairobi, Kenya, peserta menemukan tidak kurang dari 78 istilah berbeda terarah pada tata kelola lanskap terintegrasi.

Beberapa tahun terakhir, komunitas riset menghabiskan banyak waktu dan energi intelektual mencoba menyempitkan terminologi seputar istilah “lanskap” untuk menyulapnya menjadi sebuah definisi universal yang diterima untuk lanskap juga tata kelola lanskap. Pemahaman istilah berlebihan tidak banyak berguna ketika berhadapan dengan beragam pemangku kepentingan, hingga mendorong upaya terbaru dalam komunitas riset untuk menyediakan kerangka lebih kohesif dalam pendekatan lanskap.

Ketika Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan mitra mempublikasikan laporan berisi 10 prinsip yang menyaring pendekatan lanskap pada elemen esensialnya, hal ini tidak lantas mendorong pendekatan ini pada tahap berikut maknanya di lapangan.

UPAYA MEMETAKAN

Pada saat laporan dipublikasikan, terlihat ketertarikan besar dari media: Pertanyaan yang ingin mereka dapatkan jawabannya dari penulis adalah di mana pendekatan lanskap berhasil diterapkan, agar mereka bisa melihat hasilnya. Masalahnya? Hanya sedikit tempat pendekatan ini diterapkan secara eksplisit.

Masalah yang mengganggu terminologi seputar lanskap membuat diskusi terancam berbelok dan terganggu dari nilai dan lingkup pendekatan ini. Untuk mengatasi hal ini, ilmuwan CIFOR kini melakukan upaya pemetaan sistematis untuk menyempurnakan apa yang digambarkan sebagai pendekatan lanskap dalam praktik, seraya menghindari definisi kaku, terkait begitu banyaknya strategi implementasi.

“Kami akan menggunakan riset berbasis bukti dalam bentuk pemetaan sistematis,” kata peneliti CIFOR James Reed. “Ini adalah metodologi yang dikembangkan dalam ilmu medis dan baru-baru ini diadopsi oleh ilmu alam dan sosial.” Tujuannya, kata Reed adalah untuk mensintesa bukti-bukti terserak dalam pendekatan lanskap dan memahami apa yang digambarkan “pendekatan” tersebut.

Menggunakan kriteria telah ditentukan, tim akan menyeleksi relevansi dan kualitas literatur untuk mengembangkan dua peta – satu dengan kerangka konseptual pendekatan lanskap dari beragam institusi, dan kedua, peta interaktif untuk menunjukkan di mana dan bagaimana pendekatan lanskap diterapkan atau sedang diterapkan.

Menurut Liz Deakin, mitra post-doktoral CIFOR yang juga mengerjakan kajian tersebut, “sangat penting” untuk menjelaskan cara pendekatan lanskap di lapangan. “Saat ini, terjadi banyak kebingungan melingkupi apa yang digambarkan dan mengapa kita memerlukan pendekatan ini,” katanya.

Proses pemetaan akan dicoba dengan literatur peer-reviewed dari beragam sumber, selain juga akan mencari dokumen kajian non-peer-reviewed relevan seperti tesis disertasi, catatan lapangan, ringkasan kebijakan dan “literatur abu-abu” lain.

Pemetaan sistematis, yang akan diselesaikan dan dipresentasikan pada Forum Lanskap Global yang akan datang di Lima, Peru, Desember 2014, seharusnya membantu menggerakkan wacana lanskap lebih dari sekadar definisi dan pemikiran samar agar peneliti bisa berkonsentrasi pada penerapan dan penyempurnaan pendekatan lanskap, yang – tidak seperti alternatif lain – menawarkan titik masuk negosiasi di antara bersaingnya para pengguna lahan.

Untuk kontribusi literatur abu-abu dalam kajian sistematis, silahkan hubungi James Reed (j.reed@cgiar.org) atau Liz Deakin (l.deakin@cgiar.org).

(Visited 260 times, 1 visits today)
Topik :   Bentang alam