Kolom DirJen

Berbagai pernyataan di Pertemuan Puncak Iklim: Pertanian + Hutan = Bentang alam?

Satu tambah satu mungkin lebih dari dua bila berbagai peluang yang dikemukakan digabungkan dan berbagai solusinya ditinjau bersama.
Bagikan
0
Kerumunan dari kurang lebih 400.000 orang berbaris di New York menuntut tindakan terhadap perubahan iklim, mendahului Pertemuan Puncak Iklim PBB. Acara pertemuan puncak tersebut dikhususkan pada delapan bidang tindakan termasuk hutan, pertanian dan lainnya. Foto oleh John Minchillo
Kerumunan dari kurang lebih 400.000 orang berbaris di New York menuntut tindakan terhadap perubahan iklim, mendahului Pertemuan Puncak Iklim PBB. Acara pertemuan puncak tersebut dikhususkan pada delapan bidang tindakan termasuk hutan, pertanian dan lainnya. Foto oleh John Minchillo

Paling popular

NEW YORK– Minggu lalu menandai hari-hari penting bagi masa depan manusia di planet bumi. Pertemuan Puncak Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumpulkan suatu jumlah pemimpin dunia yang menakjubkan yang akan memperbaharui komitmen politik dan finansial mereka untuk memenuhi tantangan perubahan iklim.

Apakah yang harus kita lakukan, menurut pertemuan puncak tersebut?

Minggu lalu juga merupakan hari penting untuk merenungkan tentang berbagai cara ke depan untuk penelitian, penjangkauan dan pengembangan kapasitas–tiga dimensi dari pekerjaan CIFOR–untuk membantu mentransformasikan komitmen ini menjadi tindakan di lapangan.

Ringkasnya-apakah yang harus kita lakukan, menurut pertemuan puncak tersebut?

Salah satu bagian dari acara pertemuan puncak tersebut dikhususkan untuk delapan “bidang tindakan”: Pertanian, Perkotaan, Energi, Pendanaan, Hutan, Industri, Ketahanan dan Transportasi. Untuk masing-masing bidang, sejumlah besar negara, organisasi masyarakat sipil dan perusahaan swasta akan menandatangani pernyataan pertemuan puncak yang menunjukkan bagaimana kita harus bergerak maju.

Di sini saya menawarkan beberapa pemikiran mengenai pernyataan yang beredar tentang pertanian dan hutan, dan bagaimana keduanya berhubungan, dalam pemahaman minat saat ini untuk mencari solusi yang baik dan terintegrasi di seluruh lanskap. Perhatikan bahwa CIFOR sebagai organisasi penelitian independen tidak terlibat langsung dalam mempersiapkan berbagai pernyataan ini.

Deklarasi New York tentang Hutan memfokuskan perhatian pada deforestasi dan “kehilangan hutan alamiah.” Tujuh dari 10 butir pernyataan membahas isu ini secara langsung, atau secara tidak langsung dengan mengacu pada pengurangan emisi gas rumah kaca dari hutan. Dua butir menyoroti kebutuhan restorasi hutan dan satu mendesak untuk tata kelola hutan yang lebih baik.  Dari kesepuluh butir tersebut, dua terkait dengan sasaran pembangunan berkelanjutan dan agenda pembangunan pasca-2015.

Dalam kesimpulannya, dokumen ini menyatakan bahwa berbagai komitmen memiliki potensi untuk mengurangi emisi sampai “4,5 [miliar sampai] 8,8 miliar ton per tahun pada 2030.” Adaptasi atau ketahanan terhadap perubahan iklim tidak disebut sebagai hasil potensial. Agenda Tindakan yang menyertainya menyajikan daftar panjang dari inisiatif yang sedang berlangsung atau prospektif, dan diharapkan bahwa sejumlah komitmen langsung akan dibuat dalam pertemuan puncak ini.

Sebagai kontrasnya, Pernyataan Gabungan untuk Pertanian, Ketahanan Pangan dan Gizi dimulai dari kebutuhan untuk membahas ketidaksetaraan dan memastikan kecukupan gizi untuk populasi yang terus bertumbuh, tantangan yang menjadi semakin jauh lebih besar di hadapan perubahan iklim dan menambahkan kerentanan pada rakyat miskin.

Pertanian cerdas-iklim dipromosikan sebagai pendekatan inti untuk menghadapi tantangan ini, dengan ketiga pilarnya yaitu pertambahan setara dalam pendapatan/produktivitas dari pertanian (peternakan?), ketahanan yang lebih baik dari sistem pangan dan penghidupan, dan pengurangan/penghilangan emisi gas rumah kaca dari pertanian. Sejumlah inisiatif baru atau yang diperkuat sudah didaftarkan, termasuk Aliansi Global untuk Pertanian Cerdas-Iklim.

BERSAMA, SEBUAH AGENDA YANG MEMAKSA

Dengan menempatkan berbagai pernyataan hutan dan pertanian secara bersebelahan, jelaslah bahwa keduanya memiliki asal yang terpisah, dan juga bahwa tidak ada referensi silang yang eksplisit.  Pernyataan hutan menghubungkan deforestasi dengan pertanian, dan sebaliknya pernyataan pertanian mencatat berbagai dampak pertanian terhadap ekosistem dalam kaitannya dengan emisi. Terlebih jauh, pernyataan hutan secara umum mencatat pentingnya hutan untuk “pangan, air, bahan bakar, obat-obatan, budaya tradisional dan penghidupan.” Pernyataan pertanian mengakui “peranan penting para petani, penangkap ikan, rimbawan dan peternak.”

Dirangkum keduanya, kedua pernyataan tersebut memberikan agenda memaksa untuk lanskap dunia. Satu tambah satu mungkin lebih dari dua bila berbagai peluang yang dikemukakan dalam kedua dokumen digabungkan dan berbagai solusinya ditinjau bersama. Dukungan politik yang luas dan kuat yang ditawarkan oleh pertemuan puncak ini kepada masing-masing pernyataan, berkisar dari berbagai pemerintahan, sampai masyarakat sipil, sampai sektor perusahaan swasta tentunya merupakan hal penting untuk dibangun.

Memandang ke depan, satu pertanyaan relevannya ialah bagaimana keduanya dapat digabungkan. Menavigasikan sinergi dan trade-off antara pertanian dan kehutanan merupakan hal penting di semua skala geografis. Jadi tampaknya ada kasus kuat untuk pendekatan lanskap di semua tingkatan-dari global sampai lokal. Esensi dari pendekatan lanskap ini adalah untuk memberikan suatu kerangka kerja dan metodologi supaya banyak sasaran dalam suatu lanskap dapat dipertimbangkan bersama oleh semua pemangku kepentingan terkait.

Pada tahun-tahun terakhir, sudah ada penekanan meningkat terhadap lanskap untuk menemukan solusi gabungan untuk mengembangkan berbagai tantangan di seluruh sektor berbasis lahan. Forum Lanskap Global di Lima, 6-7 Desember, memberikan suatu kesempatan yang sangat baik untuk mendemonstrasikan bagaimana kita dapat memanfaatkan sebaik-baiknya berbagai pernyataan pertanian dan hutan dari Pertemuan Puncak Iklim tersebut.

(Visited 124 times, 1 visits today)
Topik :   Bentang alam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan