Kolom DirJen

Berpikir jitu, bukan hanya hutan sebagai solusi isu iklim. Pikirkan juga bentang alam

Kita harus mewaspadai terlalu sempitnya hanya bagi hutan dan kehutanan sendiri ketika mencari solusi.
Bagikan
0
Peternakan di hutan di sekitar taman nasional Bali Barat. Pertanian cerdas-iklim dan kehutanan sama-sama penting untuk meningkatkan penghidupan, memperkuat ketahanan dan mengurangi emisi. Aulia Erlangga/Foto CIFOR
Peternakan di hutan di sekitar taman nasional Bali Barat. Pertanian cerdas-iklim dan kehutanan sama-sama penting untuk meningkatkan penghidupan, memperkuat ketahanan dan mengurangi emisi. Aulia Erlangga/Foto CIFOR

Paling popular

Lebih dari 120 pemimpin negara dan puluhan ribu orang bergabung di New York pekan lalu untuk berkonsentrasi menyoroti kondisi iklim dunia yang memburuk serta tekanan untuk melaksanakan tindakan.

Hutan akan menempati posisi tinggi dalam agenda negosiasi, debat serta pencarian solusi – semoga benar begitu. Namun, memperjuangkan dimasukkannya kehutanan dalam kesepakatan iklim tanpa melihat gambaran yang lebih besar berisiko melemahkan upaya kita.

Tanpa hutan, perubahan iklim akan lebih parah dari apa yang terjadi saat ini. Hutan dan pepohonan mengatur iklim dan air di bentang alam planet kita. Hutan dan pohon juga melindungi tanah, penyedia nutrisi dan energi terbarukan bagi ratusan juta orang. Tanpa jasa ini, sistem pangan akan sangat rentan; manusia tidak mampu, terutama mengalami kekurangan kebutuhan mendasar penghidupannya. Hutan juga berfungsi sebagai perlindungan terhadap efek emisi besar-besaran dari penggunaan bahan bakar fosil. Kita memerlukan hutan jika ingin bertahan hidup.

Sangat jelas bahwa hutan memainkan peran krusial dalam mitigasi perubahan iklim – tetapi kita harus mewaspadai akan terlalu sempitnya fokus  hanya  bagi  hutan dan kehutanan ketika mencari solusi

Hutan tua dan hutan reboisasi menyimpan 4–6 Gigaton karbon setiap tahunnya sejak tahun 1990, artinya lebih dari sepertiga emisi bahan bakar fosil yang dipompakan ke atmosfer selama 20 tahun terakhir diserap oleh hutan. Perlu di ingat bahwa hutan menyimpan dua kali lebih banyak karbon dari seluruh atmosfer – penyangga paling berguna atas efek yang merugikan akibat perilaku manusia saat ini.

Kita dapat mengambil manfaat lebih jauh dari fotosintesis hutan dalam meredam dampak emisi bahan bakar fosil. Laporan Penilaian IPCC mengenai mitigasi perubahan iklim menyarankan agar kita aktif mencari cara mengelola hutan. Ilmu pengetahuan memberi rekomendasi untuk lebih hemat menggunakan kayu dan serat seraya menjaga kapasitas mesin sekuestrasi raksasa berbasis-matahari ini. Fotosintesis hutan memberi manfaat meredam dampak emisi bahan bakar fosil; manfaat yang seharusnya tidak diabaikan atau disepelekan.

Dan kita terus mendegradasi hutan, atau merubah hutan menjadi pertanian. Aktivitas ini secara signifikan mengurangi tidak hanya jumlah simpanan karbon, juga ketersediaan jasa lingkungan penting bagi masyarakat. Inisiatif REDD+ dirancang untuk menghadapi masalah ini baik dalam kebijakan dan tata kelola dan  pelaksanaan teknis.

Jelas sekali hutan mempunyai peran penting dalam mitigasi perubahan iklim dan memperkuat ketahanan – tetapi kita harus mewaspadai terlalu sempitnya hanya bagi hutan dan kehutanan sendiri ketika mencari solusi.

Sudah jelas bahwa kita tidak pernah bisa memisahkan adaptasi dan mitigasi di sektor berbasis lahan. Proses biologis serupa yang menyangga level CO2 di atmosfer juga menyediakan penghidupan, kesehatan dan keamanan pangan, serta memperkuat ketahanan menghadapi dampak perubahan iklim.

Bagaimanapun, akan selalu ada pertukaran dan kita harus sadar hal ini – menangani penggunaan lahan sedikit demi sedikit bisa membuat situasi dimana upaya mitigasi melemahkan upaya adaptasi ataupun sebaliknya.

Oleh karena itu kita harus menerima bahwa  kehutanan dan pertanian – bersama-sama – harus menjadi bagian utama solusi perubahan iklim. Seiring dengan langkah ke Paris, menjadi penting untuk melihat hubungan ini dalam mengantisipasi konteks kesepakatan kerangka kerja luas yang memungkinkan aksi di beragam tingkat dan skala.

CIFOR dan seluruh pusat penelitian di CGIAR menempatkan tantangan perubahan iklim pada posisi yang sangat serius. Memang, bagi lambaga-lembaga di CGIAR, perubahan iklim adalah satu masalah yang akan mendefinisikan misi organisasi ke dekade berikut, seperti yang ditunjukkan dalam Dialog Pembangunan CGIAR pekan lalu. Pertanian cerdas-iklim berada di tempat utama di agenda kami, sebagai ungkapan pengakuan bahwa kita harus merengkuh kerumitan di lapangan jika kita ingin meningkatkan penghidupan, memperkuat ketahanan dan, pada saat yang sama mengurangi emisi.

Pertanian cerdas-iklim dan pendekatan bentang alam umumnya berada dalam topik yang sama dalam mencapai beragam tujuan dan beragam pemangku kepentingan, dan semakin sering kita melihat alasan untuk ini. Kebalikannya, memperjuangkan masalah tunggal satu demi satu mungkin berguna bagi kesadaran politik dan tindakan, tapi mungkin terbukti kurang berhasil memberi solusi nyata.

Kerumitan yang sama dalam peningkatan mata pencaharian, ketahanan dan pengurangan emisi juga melekat di REDD+ dengan kebutuhan kesepakatan akan pengamanan (safeguards). Di tahun-tahun pertama diperkenalkan di perundingan iklim PBB, REDD+ telah berubah dan siap. Di tingkat teknis dan tata kelola, kita siap meningkatkan usaha-usaha. Apa yang diperlukan saat ini yaitu kemauan politik membantu menempatkan pos-pos pembiayaan, khususnya dari negara kaya.

Mari kita berharap Dana Iklim Hijau akan memberikan dorongan menggerakkan REDD+ ke depan, dan bahwa pemerintah di negara maju akan meningkatkan serta memanfaatkan dana, juga munculnya inovasi di tingkat yurisdiksi yang berbeda akan terus digiatkan.

Konferensi Iklim PBB tahun ini bisa memberikan peluang komitmen yang terukur terhadap Dana Iklim Hijau, guna kelangsungan REDD+, dan pertanian cerdas-iklim serta pendekatan bentang alam – dua hal yang perlu menjawab tantangan lebih luas dan lebih pragmatis.

Tetapi juga – dan mungkin lebih penting – saya berharap Konferensi Iklim PBB bisa menjadi momentum penguatan komitmen politik dan semangat kerjasama politik, sehingga kita yakin dapat mencapai kesepakatan di Paris tahun depan.

Peter Holmgren menjadi moderator diskusi tingkat tinggi mengenai perubahan iklim-ketahanan agroekosistem di acara Dialog Pembangunan CGIAR di New York 25 September. Acara ini telah disiarkan langsung melalui siaran internet CIFOR TV.

(Visited 159 times, 1 visits today)
Topik :   Bentang alam