Berita

Keajaiban pembangunan atau bencana lingkungan? Meninjau kontroversi kelapa sawit

Perkebunan kelapa sawit dapat dikembangkan tanpa menghancurkan hamparan hutan tropis. Bagaimana caranya?
Bagikan
0
Juara yang tak terkalahkan, buah dari kelapa sawit (Elaeis guineensis), yang terlihat di sini adalah di Indonesia, menghasilkan lebih banyak minyak dibandingkan tanaman lain. Hari Priyadi/CIFOR photo
Juara yang tak terkalahkan, buah dari kelapa sawit (Elaeis guineensis), yang terlihat di sini adalah di Indonesia, menghasilkan lebih banyak minyak dibandingkan tanaman lain. Hari Priyadi/CIFOR photo

Paling popular

Asia Pacific - NAIROBI, Kenya — Bagi industri pangan-pertanian dan petani kecil di wilayah tropis, kelapa sawit adalah tanaman ajaib.

Bagi para LSM dan masyarakat-masyarakat adat, hal ini merupakan ancaman besar terhadap hak-hak atas lahan dan lingkungan.

Jadi sebenarnya yang mana? Bagaimana bisa suatu tanaman – kelapa sawit – menjadi sebab terjadinya perbedaan pendapat yang begitu besar?

Konversi hutan primer menjadi mono-spesifik perkebunan kelapa sawit tidak diragukan lagi merupakan bencana ekologis.

Terdapat banyak pertanyaan dan pembahasan dari Alain Rival dan Patrice Levang dalam publikasi, “Palms of controversies: Oil palm and development challenges,” yang dibuat menjadi publikasi digital dalam bahasa Inggris oleh Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR).

“Masalahnya,” ungkap para penulis,” terletak bukan di tanamannya namun pada pilihan cara bagaimana orang semena-mena memanfaatkan kelapa sawit.”

Rival, peneliti dari CIRAD, pusat penelitian pertanian dan pembangunan Perancis, dan Levang, peneliti CIFOR dan institut penelitian lingkungan di Perancis (IRD), menggunakan data dan pengalaman di lapangan untuk memberikan suatu gambaran yang menyeluruh dan bernuansa tentang kelapa sawit – sebuah gambaran yang selama ini terasa kurang dalam perdebatan problematik tentang satu komoditas penting di dunia ini.

Palm_Oil_Balance_EXCERPT
JALAN MENUJU KERUSAKAN ATAU KESELAMATAN?
Klik di sini cerita bergambar tentang suatu tanaman yang mengundang kontroversi.

Tanaman ini tidak bisa dianggap sebagai penggerak pembangunan, seperti klaim sejumlah perusahaan, dan juga bukan sebagai pertanda meningkatnya kemiskinan, seperti yang dijadikan pegangan oleh sejumlah LSM, ujar Levang.

“Situasinya jauh lebih kompleks; kelapa sawit bukan bagian dari salah satunya tetapi adalah keduanya pada saat yang sama,” ujarnya. “Penilaian menjadi berbeda tergantung dengan lokasi yang dipilih, periode yang bersangkutan dan individu yang ditanya.”

Hingga hari ini, kurang lebih 18 juta hektar lahan di kawasan tropis ditanami dengan kelapa sawit – wilayah sekitar ukuran negara Kamboja. Para penulis mengakui , dampak lingkungan dari perluasan kelapa sawit telah “menjadi bencana”, khususnya di Asia Tenggara, yang merusak hutan tropis, salah satu penyimpan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Hanya dalam beberapa dekade, Indonesia telah menyaksikan konversi lebih dari 5 juta hektar hutan primer dan di Malaysia lebih dari 4 juta hektar.

“Konversi hutan primer menjadi perkebunan kelapa sawit yang mono-spesifik tentunya tidak diragukan lagi merupakan bencana ekologis,” tulis Rival dan Levang.

Namun mereka juga mencatat, tanaman ini tidak bertanggungjawab akan dampak yang ditimbulkan, seraya mengatakan, sekarang adalah waktu tepat mengeser posisi ekstrim dan berlebihan mengutuk atau memuji kelapa sawit, beralih pada mengidentifikasi cara-cara guna memastikan bahwa produksi kelapa sawit akan lestari.

SUATU ‘MESIN MINYAK ALAMI’

Buku ini menggambarkan dengan sangat baik bagaimana luar biasanya tanaman kelapa sawit itu.

Meski banyak yang mengaitkan kelapa sawit dengan Malaysia dan Indonesia, jenis yang digunakan pada sebagian besar budidaya kelapa sawit saat ini, Elaesis guineensis, berasal dari wilayah tropis lembab di Afrika Barat dan Tengah. Di wilayah asalnya, jenis ini masih dinilai sebagai tanaman bernilai multifungsi yang menghasilkan buah kelapa sawit; minyak inti; tuak; jantung sawit; dan berbagai bahan-bahan bangunan atau kerajinan tradisional, termasuk daun untuk membuat atap, pagar dan memperkuat bahan-bahan bangunan, keranjang, jaring, tali dan sapu.

Saat ini, minyak kelapa sawit merupakan minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia, yang mencakup lebih dari sepertiga produksi dunia. Konsumsi global per kapita rata-rata minyak kelapa sawit telah meningkat dua kali lipat lebih, yaitu dari 11 kilograms (kg) pada tahun 1976 menjadi 24,7 kg pada tahun 2009. Popularitasnya terletak sebagian karena sifatnya yang serba guna – tidak hanya sebagai minyak goreng, ini juga dijumpai pada margarin, kue-kue, sejumlah besar makanan yang diproses, kosmetik, sabun, pelumas, lilin, obat-obatan, bahan kimia pertanian, cat dan bahkan alat elektronik.

Kelapa sawit mampu menyediakan permintaan ini karena ini benar-benar merupakan “mesin minyak alami,” demikian ungkap para penulis: Ini menempati hanya 7 persen dari lahan yang diperuntukkan untuk tanaman yang menghasilkan minyak di seluruh dunia, namun menghasilkan 39 persen dari suplai global untuk minyak nabati. (Kedelai menghasilkan 27 persen dari minyak nabati dunia, namun menempati 61 persen lahan yang digunakan untuk menghasilkan minyak.) Selain itu, produktivitas minyak per hektar dari kelapa sawit melampaui setiap tanaman penghasil minyak lainnya, dan ini membutuhkan jauh lebih sedikit penggunaan pestisida dibandingkan tanaman yang lain, demikian ditulis dalam buku ini.

SEBUAH MODEL PENGEMBANGAN YANG BARU

Terkena imbas dari semakin berkembangnya suara-suara terkait aktivitas anti-deforestasi, industri minyak kelapa sawit berargumentasi, memboikot minyak kelapa sawit adalah hal yang tidak masuk di akal, sebab menggantikan kelapa sawit dengan tanaman penghasil minyak seperti kedelai atau bunga matahari mengkonversi hutan sebanyak delapan kali lebih banyak untuk menghasilkan minyak.

  • T&J dengan peneliti minyak kelapa sawit: Jangan membuat rancu komoditas ini dengan pihak-pihak yang mengembangkannya,” ujar Patrice Levang seorang ahli CIFOR dalam sebuah wawancara. Baca lebih lanjut di sini.

Rival dan Levang beranggapan, argumen ini menyesatkan, mengingat tidak satupun dari komoditas tersebut yang menuntut deforestasi, dan bahwa potensi dalam intensifikasi ekologis juga ditemukan di dalam skema-skema sertifikasi seperti halnya Forum Meja Bundartentang Kelapa Sawit Berkelanjutan (RSPO).

Demikian juga produksi minyak kelapa sawit yang tidak selalu membutuhkan penglibatan industri pertanian, demikian ujar mereka. Hampir separuh dari minyak kelapa sawit yang diproduksi saat ini tidak berasal dari perkebunan industri namun dari pertanian kecil; secara global sekitar 3 juta petani kecil terlibat dalam sektor ini. Di Indonesia, sekitar 25 juta orang hidup secara tidak langsung dari budidaya kelapa sawit. Di Afrika Barat dan Tengah, minyak kelapa sawit sering diproduksi pada perkebunan desa kecil dengan berbagai pilihan tanaman pepohonan.

Perkebunan kelapa sawit, kata para penulis, dapat dikembangkan tanpa menghancurkan hamparan hutan tropis yang luas. Pengembangan model-model untuk ini mencakup berbagai teknik agroforestri, pengembangan petak-petak kerja (patchwork) dan perencanaan bentang alam ekologis.

Tantangannya, menurut para penulis, bukan pada mencegah perluasan sektor minyak kelapa sawit, melainkan dorongan ke arah bentuk-bentuk pengembangan yang berupaya untuk memperkecil dampak negatif bagi keanekaragaman hayati serta kesejahteraan masyarakat lokal.

Palms of controversies: Oil palm and development challenges” tersedia gratis untuk diunduh di http://www.cifor.org/publications/pdf_files/Books/BLevang1401.pdf.

Untuk informasi lebih lanjut tentang topik artikel ini, silakan menghubungi Patrice Levang di p.levang@cgiar.org atau Alain Rival di alain.rival@cirad.fr.

Penelitian CIFOR tentang minyak kelapa sawit sebagian didanai oleh Program Penelitian CGIAR untuk Hutan, Pohon dan Agroforestri (CGIAR Research Program on Forests, Trees and Agroforestry).

(Visited 605 times, 1 visits today)
Topik :   Bentang alam Sertifikasi Kayu Kelapa sawit