Video T&J

‘Jangan mencampurkan kelapa sawit & pengembangannya’: T&J dengan ilmuwan

Di bawah ancaman boikot, menggantikan sawit dengan komoditas lain, justru bisa menghancurkan hutan. Di sini, Levang menawarkan jalan keluar.
Bagikan
0
Papua - Indonesia, 2010.

Paling popular

YAOUNDE, Kamerun — Boikot terhadap minyak kelapa sawit sebagai penyebab deforestasi secara tidak tepat menyalahkan tanaman tsb, ungkap seorang peneliti terkemuka, sementara mengabaikan penyebab deforestasi dari jenis tanaman lain-lain.

Minyak kelapa sawit – yang digunakan dalam berbagai jenis makanan, kosmetika dan bahkan diesel nabati (biodiesel) – telah menjadi sorotan beberapa tahun terakhir, serta adanya tekanan dari konsumen yang mendorong beberapa pembeli minyak kelapa sawit untuk berkomitmen tidak akan ada deforestasi di rantai suplai mereka.

  • Di acara Forum Bentang Alam Global (Global Landscapes Forum):Di tengah-tengah perubahan iklim, adakah masa depan berkelanjutan bagi banyak komoditas seperti minyak kelapa sawit? Sejumlah ahli akan membahas hal ini dan topik-topik lain dalam sesi ini di Forum Bentang Alam Global di Lima, Peru 6-7 Desember.

Meski penggambaran sejumlah pembeli utama minyak kelapa sawit bahwa perusahaan-perusahaan besar adalah pemicu deforestasi, hal itu terlalu sederhana, tulis Patrice Levang, ilmuwan dari Institut de Recherche pour le Développement (IRD) dan Pusat Penelitian Hutan Tropis (CIFOR), dan Alain Rival, ilmuwan dari CIRAD, dalam publikasi terbaru  “Kontroversi Sawit: Kelapa sawit dan tantangan pembangunan (Palms of controversies: oil palm and development challenges).”

Dalam kesempatan wawancara baru baru ini tentang buku terbarunya dengan CIFOR; berikut adalah sebuah transkrip yang diedit dari wawancara.

T: Untuk sebagian pihak, kelapa sawit itu tanaman ajaib; bagi pihak yang lain, sawit adalah suatu ancaman global. Mengapa tanaman ini begitu kontroversial?

J: Jadi begini, perdebatan berawal dari keberhasilan pengembangan kelapa sawit, khususnya di Asia Tenggara. Hanya dalam beberapa tahun, jutaan hektar telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Dan di sinilah kontroversi dimulai, antara pihak yang mendukung, sektor industri – dan pihak yang menentang, kelompok-kelompok lingkungan.

T: Menurut Anda apa peran ilmuwan-ilmuwan independen dalam perdebatan ini?

J: Perdebatan ini sangat kuat antara pihak pro dan kontra. Disinilah mengapa diperlukan suatu keseimbangan persepsi, dimana para ilmuwan bisa masuk memberikan pandangan nyata dan seimbang sisi baik dan sisi buruk pengembangan kelapa sawit, … Kami [para penulis] sepakat untuk turun ke arena ketika beberapa ekstrimis, kelompok-kelompok lingkungan hidup radikal bersepakat memboikot minyak kelapa sawit, yang menurut kami, adalah sebuah solusi yang sangat buruk karena boikot semacam itu akan sangat memiliki dampak yang lebih negatif dibandingkan dampak positif. Menggantikan kelapa sawit dengan komoditas lain-lain, kedelai contohnya, dapat menghancurkan hutan.

T: Fakta-fakta apa saja tentang kelapa sawit, sebagai tanaman, yang bisa mengejutkan publik umum?

J: Dapat saya katakan, hal pertama bahwa kelapa sawit berasal dari negara-negara yang berbatasan dengan Teluk Guinea di bagian barat dan tengah Afrika. Jadi, kelapa sawit tumbuh secara spontan di hutan tropis. Dan setelah beberapa waktu kemudian, berkat keberhasilannya, ini menjadi sebuah komoditas industri. Mungkin sebuah fakta yang paling menarik tentang kelapa sawit adalah ini merupakan komoditas penghasil minyak dengan hasil panen tertinggi sampai sejauh ini. [Komoditas tertinggi yang kedua] memiliki produktivitas delapan sampai sepuluh kali lebih rendah. Jadi, apabila anda mencoba untuk menggantikan kelapa sawit dengan kedelai, sebagai contoh, anda membutuhkan lahan dengan luasan delapan sampai 10 kali lebih besar. Anda perlu mengkonversi hutan delapan sampai 10 kali lebih banyak.

Palm_Oil_Balance_EXCERPT
JALAN MENUJU KERUSAKAN ATAU KESELAMATAN?
Klik di sini cerita bergambar tentang suatu tanaman yang penuh kontroversi.

T: Dalam buku Anda, Anda mempertanyakan apakah serta merta ada hubungan antara perkebunan kelapa sawit dan deforestasi. Apakah jawaban untuk pertanyaan ini?

J: Jawabannya adalah ya….dan tidak. Pertama, pengembangan kelapa sawit dilakukan oleh industri pertanian yang besar, dan lebih disukai pada lahan hutan. Jadi, tentu saja kelapa sawit dapat dianggap bertanggung jawab untuk deforestasi. Namun, kelapa sawit tidak harus dibudidayakan di atas lahan hutan. Ini dilakukan hanya karena ini cara termudah untuk melakukannya. Anda bisa menanam kelapa sawit di sabana, seperti di Kolombia. Anda dapat menanam kelapa sawit di atas lahan terdegradasi. Jadi kelapa sawit sendiri, sebagai suatu komoditas, tidak bertangunggjawab terhadap deforestasi. Pesan utama kami dalam buku ini adalah, jangan merancukan komoditas ini [dengan] orang-orang yang mengembangkannya.

T: Apakah kelapa sawit adalah sebuah penggerak pembangunan seperti klaim sejumlah perusahaan, atau ini adalah sebuah pertanda meningkatnya kemiskinan, seperti diyakini oleh sejumlah LSM?

J: Sekali lagi jawabannya adalah campuran. Di kebanyakan tempat kelapa sawit dikembangkan, semua orang yang mengembangkan kelapa sawit telah terangkat dari kemiskinan. Masalahnya yaitu, di banyak wilayah berhutan, ketika kelapa sawit dikembangkan, bahkan sebelum perkebunan mulai berproduksi, orang-orang telah menjual lahan mereka untuk memperoleh uang tunai dengan cepat. Kemudian, tentunya, mereka tidak terangkat dari kemiskinan namun dipaksa masuk ke dalam pemiskinan. Namun seperti dikatakan oleh para perusahaan, itu adalah pilihan mereka. Namun kelapa sawit memiliki dampak terhadap diferensiasi ekonomi. Mereka yang memilikinya menjadi semakin kaya. Mereka yang tidak ikut terlibat di dalamnya akan tertinggal.

T: Anda menuliskan, ada beberapa cara mengembangkan perkebunan kelapa sawit tanpa merusak hamparan luas kawasan hutan. Bisa disebutkan apa saja?

J: Kelapa sawit adalah tanaman hutan. Awalnya dikumpulkan di alam liar. Kemudian secara progresif diperkenalkan oleh masyarakat ke dalam ranah pertanian, dengan berbagai cara – Anda tidak perlu menggunakan monokultur. Anda dapat memanfaatkanya [melalui] agroforestri: Anda dapat mencampur perkebunan kelapa sawit di bentang alam yang beragam, di dalam suatu ‘mosaik’ bentang alam. Dan, tentu saja, Anda dapat memanfaatkannya dengan cara ramah lingkungan. Idenya yaitu tidak merubah hamparan luas hutan menjadi satu pertanian-mono, tapi memberi perlakuan ekologis, dan menekankan cara yang lebih ramah lingkungan.

T: Ke mana penelitian Anda akan dibawa dari sini?

J: Apa yang kami lakukan sekarang adalah untuk mendorong pengembangan kelapa sawit secara berkelestarian di Kamerun dan semoga di Afrika Tengah. Karenanya, kami membantu Kementerian Pertanian di Kamerun merancang sebuah strategi nasional bagi pengembangan kelapa sawit lestari. Dalam hal ini, kami juga mencoba untuk mendorong, memperkenalkan hal-hal ini bagi petani kecil. Namun gagasannya adalah untuk meyakinkan industri pertanian bahwa akan menguntungkan bagi mereka untuk mengadakan skema yang berkesetaraan, kemenangan bagi dua belah pihak (win-win). Dengan mengembangkan kelapa sawit pada lahan yang sudah dibuka oleh masyarakat atau penanam swasta, maka sebanyak itulah lahan yang tidak akan diambil dari hutan primer.

Palms of controversies: Oil palm and development challenges” tersedia gratis untuk diunduh di http://www.cifor.org/publications/pdf_files/Books/BLevang1401.pdf.

Untuk informasi tentang publikasi ini, silakan hubungi Patrice Levang di p.levang@cgiar.org.

Penelitian CIFOR tentang bentuk-bentuk minyak kelapa sawit sebagian didanai oleh Program Penelitian CGIAR untuk Hutan, Pohon dan Agroforestri

(Visited 394 times, 1 visits today)
Topik :   Deforestasi Kelapa sawit