Berita

Pedoman baru berusaha meningkatkan pengaruh hutan bagi perempuan

Di balik semua upaya yang telah dilakukan termasuk oleh penduduk lokal, masih sering suatu kelompok penduduk dikesampingkan
Bagikan
0
Penduduk desa Lubuk Beringin, Seproh (kiri), Hasroh dan Nurhayati, di kabupaten Bungo, provinsi Jambi, Indonesia.
 
Foto: Tri Saputro/CIFOR
Penduduk desa Lubuk Beringin, Seproh (kiri), Hasroh dan Nurhayati, di kabupaten Bungo, provinsi Jambi, Indonesia. Foto: Tri Saputro/CIFOR

Paling popular

Uganda -

SALT LAKE CITY, AS – Mempertimbangkannya sebagai pemecah masalah untuk mencarikan jalan keluar.

Dalam tahun-tahun terakhir, pendekatan “atas-bawah” untuk mengelola hutan dan sumber daya alam lainnya telah memberikan cara bagi metode-metode yang lebih inklusif bagi penduduk lokal – terutama penggunaan metode Pengelolaan Kolaboratif Secara Adaptif (ACM) yang lebih luas.

Namun dibalik semua upaya yang telah dilakukan termasuk oleh penduduk lokal, masih sering suatu kelompok penduduk dikesampingkan dalam pengambilan keputusan:

Perempuan.

Sebuah buku pedoman berusaha memperbaiki ini dengan menawarkan sebuah kerangka kerja guna meningkatkan partisipasi kaum perempuan dalam konteks dinamika pengambilan keputusan metode ACM.

Jender diintegrasikan sebagai semacam proses paralel di sini, ini bukanlah sebuah ‘masalah’ untuk ‘dipecahkan’

Namun ini tidak berusaha memperlakukan perempuan secara berbeda atau terpisah dari proses, seorang pakar memperingatkan.

“Jender diintegrasikan sebagai sebuah proses paralel di sini, namun bukan menjadi sebuah masalah yang harus dipecahkan,” kata Anne Larson, seorang ilmuwan utama di Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) yang sebelumnya pernah menggunakan metode ACM.

“Dan ini bukankah tentang bekerja dengan perempuan, atau melakukan ACM dengan perempuan. Ini tentang mengatur ACM ‘seperti biasanya’ namun diintegrasikan dalam diskusi, pemantauan dan analisis dalam partisipasi perempuan selama proses berlangsung, semacam pengelolaan adaptif yang paralel dalam hubungan jender.”

SEJARAH SINGKAT ACM

Bertahun-tahun, Pengelolaan Kolaboratif Secara Adaptif (ACM) telah berhasil mendukung pengumpulan data dan aktivitas pemantauan serta memfasilitasi pengambilan keputusan berdasar observasi dan pembelajaran. Metode ini digunakan secara luas dengan tujuan meningkatkan pengelolaan sumber daya alam; untuk beberapa hal, integrasi jender lintas proses pengelolaan pengambilan keputusan masih menjadi tantangan.

Buku Field Guide to Adaptive Collaborative Management and Improving Women’s Participation (Pedoman Lapangan untuk Pengelolaan Kolaboratif Secara Adaptif dan Peningkatan Partisipasi Perempuan), belum lama ini diluncurkan dalam Kongres Perserikatan Internasional Organisasi Penelitian Kehutanan (IUFRO) di Salt Lake City,menggarisbawahi tantangan tersebut.

ACM merupakan pemecah masalah, bekerja dengan anggota masyarakat atau pembuat keputusan dalam proses analisis, menggunakan data dari partisipan observasi untuk pengambilan keputusan. Ini telah muncul dalam dekade terakhir ketika para peneliti dan praktisi menyadari bahwa pendekatan pengelolaan tradisional berdasar “perintah dan kendali” pemerintah yang tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan, kebanyakan disebabkan karena tidak melibatkan penduduk setempat dalam pengambilan keputusan, yang berarti pula mengabaikan pengetahuan, nilai dan kapabilitas mereka.

Adanya kesadaran akan upaya untuk mempelajari dan beraksi bersama untuk secara sistematis beradaptasi untuk merubah dan meningkatkan hasil pengelolaan, memunculkan ACM untuk mengatasi situasi ini.

“Interaksi ekologis-manusia itu rumit dan berubah secara konstan. ACM telah menyadari kerumitannya secara eksplisit dan menyediakan kerangka kerja untuk bekerja dalam sistem yang dinamis,” terang Kristen Evans, seorang konsultan CIFOR dan pengarang utama pedoman tersebut.

JENDER DAN HUTAN

Ide dari pedoman lapangan tersebut, menurut Evans dan rekan-rekannya, muncul dari sebuah proyek yang didanai oleh Austrian Development Agency (ADA) tentang Jender, Tenurial dan Masyarakat Hutan di Uganda dan Nikaragua. Proyek ini bertujuan ganda: meningkatkan akses perempuan terhadap hutan lewat peningkatan partisipasi dalam kelompok masyarakat pengguna hutan dengan pertimbangan untuk manfaat keputusan sekaligus penghidupan; serta untuk meningkatkan bagian pemangku kepentingan dalam inovasi kebijakan institusional untuk mempromosikan partisipasi perempuan, lebih spesifik lagi terkait bagaimana keputusan masyarakat hutan yang melibatkan perempuan dan merefleksikan kepentingan mereka.

Larson sebagai koordinator proyek dan Esther Mwangi, ilmuwan CIFOR memutuskan menggunakan ACM untuk membangun kapasitas, kolaborasi dan penyadaran terkait dinamika jender.

Secara keseluruhan, proyek ini mendukung dua proses. Pertama, menggunakan metode ACM, perempuan dan laki-laki mulai bekerja bersama untuk memecahkan masalah sumber daya tingkat masyarakat. Kedua, metode ACM telah digunakan untuk mengobservasi dinamika jender, memantaunya dan mengatasi isu yang telah teridentifikasi dalam proses.

Ketika keseluruhan tujuan proses adalah untuk mengidentifikasi dan mengimplementasikan aksi untuk memperkuat hak perempuan, partisipasi, dan pengaruh atas sumber daya hutan dan keputusan pengelolaan; penelitian membangun kapasitas bagi partisipan untuk melanjutkan pembelajaran, perencanaan dan penyesuaian pada informasi baru. Karena partisipan telah berperan aktif dalam menentukan proses dan melanjutkannya, mereka menyatakan bahwa pendekatan ACM dirasa tidak terlalu intrusif dan mereka mampu untuk mengatasi topik sensitif seperti jender ini.

Proyek ini sekarang tengah dipakai dalam proses ini sekitar tiga tahun, dan di beberapa masyarakat, para partisipan merasa bahwa kepemimpinan perempuan dan kepercayaan diri telah meningkat, disertai peningkatan penerimaan kaum pria atas partisipasi mereka.

Di Uganda, proyek berbasis ACM memampukan partisipasi wanita dalam penanaman pohon; meningkatkan jumlah perempuan dalam posisi pengambil keputusan; serta memampukan perempuan tua untuk memperkirakan peran kepemimpinan. Meski laki-laki, baik tua maupun muda, masih mendominasi diskusi dalam pertemuan, perempuan sedikit demi sedikit mulai merasa nyaman, untuk meningkatkan kepercayaan diri secara keseluruhan.

Di Nikaragua, masyarakat pribumi menghadapi isu sulit terkait dengan pengakuan kawasan komunal, konflik dengan kolonis dan tantangan tata kelola. ACM menciptakan ‘wilayah aman’ di mana laki-laki dan perempuan datang bersama untuk mendiskusikan semua isu sekaligus integrasi perempuan. Beberapa warga memilih untuk terlibat dalam penanaman pohon dan aktivititas pemantauan, namun hampir semuanya ingin bekerja untuk tata kelola, pengembangan pengetahuan dan kepemimpinan.

“Peran kita di sini sangat penting karena kita melakukan pekerjaan yang terintegrasi; kita tidak mengecualikan siapapun,” ujar Evans. “Sebelumnya, sulit bagi perempuan untuk berpartisipasi. Kami telah memahami budayanya. Ada masalah kepercayaan diri; ada perempuan yang bisa berbicara lebih aktif, sementara yang lain mendengarkan, dan ada pula yang memilih terlibat dengan cara lain.”

“Di tiap workshop, semakin banyak perempuan yang ikut serta.”

Larson menyatakan bahwa metode ini akan memakan waktu. “Lewat proses-proses diskusi, aksi dan evaluasi, ACM meningkatkan pemikiran analitis dan semacam keterikatan jangka panjang yang penting untuk perubahan nyata sepanjang waktu,” lanjutnya.

“Isu yang telah mengakar kuat seperti hubungan jender ini tidak dapat diubah dalam semalam.”

Untuk informasi lebih lanjut tentang topik di atas, silakan menghubungi Anne Larson di a.larson@cgiar.org.

Penelitian ini didukung bersama oleh Austrian Development Agency dan Program Penelitian CGIAR untuk Hutan, Pohon dan Agroforestri

(Visited 200 times, 1 visits today)