Analisis

Pakar: Restorasi bentang alam, suatu keseimbangan rapuh antara manusia, kebijakan & kegunaan

Para perencana seharusnya selalu mengambil pendekatan bentang alam sejati. Makin luas, makin banyak tantangan.
Bagikan
0
Benih mangrove di Bali, Indonesia. Proyek restorasi mangrove merebak di Asia Tenggara, dengan beragam derajat keberhasilan. Aulia Erlangga/Foto CIFOR
Benih mangrove di Bali, Indonesia. Proyek restorasi mangrove merebak di Asia Tenggara, dengan beragam derajat keberhasilan. Aulia Erlangga/Foto CIFOR

Paling popular

BOGOR, Indonesia—Aktivitas manusia mengorbankan hutan dunia: Sebanyak dua pertiga ekosistem Bumi dapat dikategorikan terdegradasi, demikian menurut perhitungan Pusat Keragaman Biologis.

Tahun 2010, negara-negara anggota Konvensi Keragaman Biologi berkomitmen merestorasi 15 persen ekosistem terdegradasi dunia pada 2020, hingga dapat membuat lingkungan lebih tahan menghadapi perubahan iklim dan peningkatan kandungan karbon.

Ini serumit kedengarannya.

“Keberhasilan restorasi ekologi, atau restorasi bentang alam, bersifat multidisipliner dan transdisipliner,” kata Manuel Guariguata, ilmuwan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) yang berkantor di Peru. “Ini melibatkan ilmu sosial, ilmu biofisik dan ekonomi lingkungan, bersama juga pengaturan tata kelola formal dan informal.”

  • Di Forum Bentang Alam Global:Restorasi bentang alam akan menjadi topik kunci diskusi pada Forum Bentang Alam Global, 6-7 Desember di Lima, Peru selama UNFCCC COP20. Ikuti semua berita dari Forum di cifor.org/lima.

Perencana juga harus berpikir besar.

“Para desainer seharusnya selalu mengambil pendekatan bentang alam sejati – ini artinya puluhan ribu hektar,” kata Guariguata. “Makin luas, Anda makin menghadapi banyak tantangan daripada Anda bekerja di tingkat petak petani.”

Karena bentang alam melintasi batas-batas politis, regulasi nasional dan lokal harus kompatibel,” tambahnya.

“Harus tersedia sistem tata kelola yang baik dalam situasi global, nasional dan lokal. Jika korelasinya tidak terbangun bagus, target global menjadi tidak efektif.”

Kabar Hutan bertanya pada tiga pakar mengenai pandangan mereka terhadap restorasi bentang alam saat ini dan masa depan. Transkrip teredit bisa dibaca di bawah ini.

Hutan dekat pantai Atlantik di Brasil. Upaya negara tersebut merestorasi hutan Atlantik telah berhasil didorong oleh keterlibatan pemangku kepentingan dan perimbangan keseluruhan penggunaan lahan, tidak semata konservasi. Robertcurtin/Foto Flickr

Hutan dekat pantai Atlantik di Brasil. Upaya negara tersebut merestorasi hutan Atlantik telah berhasil didorong oleh keterlibatan pemangku kepentingan dan perimbangan keseluruhan penggunaan lahan, tidak semata konservasi. Robertcurtin/Foto Flickr

Manuel Guariguata, Peneliti Utama, CIFOR

Mengenai alasan di balik restorasi bentang alam

Restorasi bentang alam adalah sebuah jalan peningkatan pemanfaatan lahan, umumnya untuk mengembalikan kondisi bentang alam pada tingkat minimum susunan karakteristik biofisik – contohnya, provisi air bersih, menggabungkan keragaman hayati atau sekadar mengembalikan wilayah sudah mengalami degradasi berat sampai tingkat fungsi berterima. Ekosistem tidak lantas perlu meniru serupa dengan kondisi aslinya.

Mengenai beberapa contoh keberhasilan di Amerika Latin

Restorasi Hutan Atlantik di Brasil secara khusus bagus, karena melibatkan pandangan dan kepentingan beragam tipe pemangku kepentingan untuk bekerja mencapai tujuan bersama, yaitu pemulihan keragaman hayati, dengan pertimbangan sosial ekonomi, sejalan dengan membangun prinsip-prinsip tata kelola.

Hal ini membutuhkan pendekatan bawah-ke-atas melibatkan koalisi beragam pemangku kepentingan berbeda – sektor swasta, organisasi non-pemerintah, akademisi, serta pemerintah lokal dan regional. Ini memiliki struktur tata kelola unik, berisi dewan koordinasi, unit regional dan kelompok kerja masalah teknis, pengumpulan dana dan masalah kebijakan publik. Koalisi ini menjadi penting untuk membawa semua dimensi dan kepentingan bergabung demi pemulihan keragaman hayati dalam sebuah ekosistem yang berada dalam kondisi nyaris punah.

Mengenai hambatan restorasi bentang alam

Lemahnya hak tenurial, tidak jelasnya alokasi lahan dan masalah kepemilikan; kurangnya dialog lintas sektor; dan dalam banyak kasus, buruknya tata kelola menghambat upaya restorasi. Ketika hukum lokal tidak konsisten dengan hukum nasional untuk daerah aliran sungai tertentu, ini menciptakan banyak kebingungan, bottlenecks dan kebuntuan. Jika ada kelemahan kontinuitas regulasi di tingkat nasional, regional dan lokal, akan terdapat banyak masalah.

Mengenai pelajaran dari upaya di Amerika Latin

Di beberapa negara kita masih melihat pendekatan restorasi atas-ke-bawah, terfokus pada pemerintah, dengan mandat nasional yang ambisius, seperti penanaman miliaran pohon, tetapi tidak ada visi menyeluruh yang menyatukan semua sektor masyarakat dan semua pemangku kepentingan, hal itu tidak akan berhasil. Pendekatan atas-ke-bawah tidak selamanya buruk, tetapi target ambisius, dipimpin pemerintah seringkali gagal dalam implementasi karena mengabaikan dimensi lain.

Mengenai kebutuhan riset lebih lanjut

Dari titik pandang biofisik, kita masih perlu bekerja lebih banyak menyesuaikan spesies pada tempatnya. Penting pula melakukan pendekatan bentang alam yang lebih luas. Penelitian masih kurang dalam meningkatkan skala, dari perspektif sosial dan biofisik, seperti juga dari titik pandang keberhasilan jasa lingkungan. Orang cenderung berpikir restorasi pada skala petak, tanpa mempertimbangkan isu ekologi lebih luas terkait dengan konteks perubahan iklim, yang bisa mendorong migrasi.

Hutan mangrove di Nusa Lembongan, Indonesia. Upaya restorasi mangrove di Asia Tenggara menghadapi perluasan akuakultur pesisir. Foto: Leony Aurora/ CIFOR

Hutan mangrove di Nusa Lembongan, Indonesia. Upaya restorasi mangrove di Asia Tenggara menghadapi perluasan akuakultur pesisir. Foto: Leony Aurora/ CIFOR

Jurgenne Primavera, Kepala Penasihat Sains mangrove, Zoological Society of London

Mengenai pendekatan holistik restorasi bentang alam

Selama bersentuhan dengan mangrove, saya menggunakan istilah “rehabilitasi,” artinya merestorasi beberapa derajat fungsi ekosistem – tidak seratus persen, tetapi lebih baik daripada kondisi terdegradasi.

Di Filipina, tahun-tahun terakhir ini, kami mengalami sejumlah bencana – banjir, topan dan lainnya. Secara umum mereka bisa dijejak dari perubahan penggunaan lahan yang mengarah pada degradasi habitat, khususnya pada habitat laut. Untuk merestorasi ketahanan ekosistem alami dan manusia yang bergantung padanya, perlu pendekatan bentang alam, atau apa yang ktia sebut “gunung ke karang,” dari gunung hingga batu karang.

Anda tidak bisa melihat habitat secara terisolasi.

Mangrove penting bagi simpanan karbon, selain melindungi dari badai dan kenaikan permukaan laut. Anda bisa melakukan yang terbaik untuk mangrove, tetapi jika hutan di atasnya tetap terdegradasi, maka limpasan air akan mencekik mangrove dan terus ke padang rumput laut. Anda memerlukan pendekatan holistik.

Mengenai tantangan yang dihadapi dalam restorasi mangrove di lapangan

Sebagian orang mengatakan, “Jangan sentuh kawasan mangrove,” tetapi di Filipina, di mana perikanan dan akuakultur sangat penting, ini bukan pilihan. Kita perlu mengembangkan sebagian mangrove, tetapi harus ada panduan ekologis.

Satu yang harus dijaga adalah rasio empat hektar mangrove untuk satu hektar kolam ikan. Di Filipina, kita terliwatkan. Sebagian besar mangrove dibangun menjadi tambak udang, dan kini posisinya rasio satu-banding-satu.

Sekarang bahwa mangrove tumbuh berdampingan dengan akuakultur, pembangunan didukung oleh riset ekologis, beberapa produsen bertujuan menghasilkan udang dalam sistem campuran mangrove-tambak, untuk lulus sertifikasi lingkungan dan mendapat harga berbeda produk mereka.

Mengenai pemangku kepentingan dan riset

Terdapat kompetisi atau konflik di tumpang tindih lembaga pemerintah. Mangrove jatuh di bawah kehutanan, tetapi sekali kita menggali lubang dan mengubahnya menjadi tambak, mangrove masuk di departemen pertanian. Ini sumber daya yang sama, tetapi tidak ada integrasi atau kondisi harmonis. Dan kita berbicara mengenai ribuan hektare tambak.

Korupsi juga merupakan masalah. Begitu pula pengabaian atau penolakan protokol berbasis sains. Bertahun-tahun, ilmuwan memberi tahu masyarakat tidak menanam mangrove pada lapangan rumput laut atau tidak menanam spesies tertentu. Sudah terlalu sering, penanaman dilakukan berdasarkan kenyamanan, bukan ekologi.

Terdapat banyak riset mengenai ekologi mangrove, tetapi makalah dipublikasikan di jurnal yang tidak dibaca banyak orang. LSM dan bahkan akuakulturis perlu mampu menyerap informasi ilmiah dan menerapkannya.

Lereng bukit gundul di China, tempat pemerintah mencoba menghutankan kembali lereng untuk mencegah erosi. Nick Hogarth/ CIFOR

Lereng bukit gundul di China, tempat pemerintah mencoba menghutankan kembali lereng untuk mencegah erosi. Nick Hogarth/ CIFOR

Kiran Asher, Ilmuwan Senior, CIFOR

Mengenai dimensi restorasi bentang alam

Restorasi bentang alam cenderung dipahami sebagai tugas teknis dan/atau ekologi, dengan tujuan melakukan restorasi bentang alam guna menyediakan manfaat lebih dari manfaat lokal. Tetapi apa kondisi sebelumnya yang ingin kita kembalikan, dan untuk tujuan apa? Jika tujuannya mengembalikan bentang alam pada kondisi memberi jasa seperti yang diberikan sebelumnya, apa jasa tersebut, siapa yang mendapat manfaat dan mengapa mereka menghilang? Saya tidak bermaksud merendahkan kompleksitas ekologis, tetapi ini bukan semata masalah teknis. Sebuah bentang alam mencakup entitas sosial dan politis, termasuk pula biologis dan ekologis.

Mengenai upaya restorasi bentang alam di China

Proyek The Sloping Lands in Transition (SLANT) di China mencoba mengkonversi lahan pertanian menjadi hutan di wilayah lereng. Proyek ini dikatalisasi oleh bencana banjir 1990. Banyak proyek restorasi diujungtombaki oleh kerusakan ekologis sebelum aktivitas dilakukan.

Mengingat wilayah lereng secara ekologis lebih rapuh, dan apa yang terjadi di dataran tinggi mempengaruhi dataran rendah, proyek tersebut melihat data dari intervensi (restorasi) di dataran tinggi. Banyak pusat intervensi mengenai pembayaran jasa lingkungan (PJL), yang membayar orang untuk mengubah penggunaan lahan untuk sesuatu yang lain memberi manfaat bagi wilayah rendah.

Wilayah lereng adalah rumah bagi minoritas etnis yang menjalankan semacam pertanian tebang-dan-bakar. Satu hal yang kami temukan adalah intervensi yang dilakukan tidak banyak berarti bagi restorasi bentang alam dan agroforestri, tetapi untuk … memodernisasi komunitas tersebut di lapangan yang pada praktiknya menyebabkan degradasi bentang alam. Selama 40 tahun panggilan akademis memunculkan pertanyaan bahwa narasi perladangan berpindah menyebabkan degradasi lahan, tetapi intervensi berlanjut seakan degradasi masih disebabkan oleh perladangan berpindah.

Mengenai keharusan bagi peneliti dan pembuat kebijakan

Membutuhkan upaya jangka panjang dan kesabaran untuk memahami cara berbeda menganalisa dan memahami masalah. Ini rumit, karena terdapat lebih dan lebih banyak tekanan melakukan riset terapan yang mengarah pada hasil konkret yang cepat. Dan beberapa masukan membutuhkan waktu.

Penting pula memahami politik kebijakan. Kebijakan tidak sekadar perbaikan teknis. Kita (dapat) memberi pengambil kebijakan informasi bagus, tetapi kebijakan tidak lantas berbasis informasi bagus. Pengambil kebijakan selalu berhadapan dengan ragam agenda, dan pertukaran.

Mengenai kebutuhan riset lanjutan

Kita membutuhkan riset yang komparatif dan interdisipliner, riset mendasar dan terapan, tanpa kepentingan dan fungsional – tidak hanya riset yang berada di bawah tekanan untuk memberi hasil yang bisa diterapkan dalam jangka pendek. … Sebagian riset bisa menunjukkan bahwa perbaikan cepat yang kita cari tidak dimungkinkan atau bahwa hal yang kita coba perbaiki telah patah oleh instrumen presisi yang kita gunakan untuk memperbaiki mereka.

Kita harus memberi perhatian terhadap masalah migrasi serta relasi etnis dan gender. Bagaimana pemahaman nasional mengenai masyarakat minoritas? Bagaimana mereka ditargetkan dalam proyek restorasi bentang alam? Di mana mereka tinggal? Kapan proyek restorasi bentang alam menggunakan buruh perempuan untuk menanam atau memelihara pohon, misalnya, asumsi apa yang disepakati mengenai apa yang dilakukan perempuan, dapat bekerja atau harus bekerja, atau mengenai relasi antara perempuan dan laki-laki? Dalam jangka panjang, riset mendalam adalah keharusan.

(Visited 457 times, 1 visits today)
Topik :   Tenurial Gambut dan Mangrove Jender