Video T&J

‘Bulan madu’ telah usai, REDD+ berjuang antara politik dan kekuasaan

Kemajuan REDD+ bergerak jauh lebih lambat dari yang diharapkan. Apalagi, masa bulan madu telah berakhir.
Bagikan
0
How can the international community move away from business as usual, the current ways of deforestation and degradation?
How can the international community move away from business as usual, the current ways of deforestation and degradation?

Paling popular

BOGOR, Indonesia—Secara teori, rencana tersebut nampaknya sangat sederhana: sebuah mekanisme finansial untuk mengurangi emisi karbon dengan cara memberi insentif bagi perlindungan hutan.

Pada praktiknya, REDD+ telah berjuang untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya-mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan.

Ketika para negosiator iklim menuju Peru untuk Konferensi Para Pihak (COP) UNFCCC, dimanakah REDD+ berdiri saat ini, dan setelah hampir delapan tahun, mengapa REDD+ di sebagian besar negara masih pada tahap awal, “tahap persiapan”?

Kami berpikir REDD akan bergerak begitu saja, karena pada saat itu hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yang cepat, murah dan mudah — mekanisme sempurna untuk menangani suatu masalah global.

Pergulatan politik dan kekuasaan menjelaskan sebagian dari masalahnya, ujar seorang pakar terkemuka, menunjuk pada berbagai kesulitan dalam perancangan–dan implementasi–berbagai kebijakan yang dapat disetujui oleh para pemangku kepentingan yang jumlahnya terus meningkat.

“Fase bulan madu telah usai,” ujar Maria Brockhaus, peneliti senior Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), dalam wawancara baru-baru ini. “Anda memiliki pelaku yang tidak lagi dengan senang hati menyetujui gagasan besarnya, yang sangat tidak setuju tentang bagaimana mewujudkan gagasan tersebut.”

Pada dasarnya, para pendorong berskala besar harus ditangani dengan basis negara-ke-negara agar REDD+ dapat melaju,” ujar Brockhaus.

Saksikan tayangan video wawancaranya, atas; transkrip yang telah disunting di bawah ini.

Di Forum Bentang Alam Global: Menyederhanakan REDD+

Delapan sesi diskusi secara eksplisit terkait dengan REDD+ pada Forum Bentang Alam Global mendatang, 6-7 Desember in Lima, Peru. Di antara berbagai pertanyaan yang akan diperdebatkan:

Klik di sini untuk mengetahui agenda rinci Forum Bentang Alam Global.

Pertanyaan: Bagaimana REDD+ sedang berubah?

Jawaban: Kemajuan REDD+ bergerak jauh lebih lambat dari yang kami harapkan. Dan maksud kami, sebagai suatu komunitas penelitian dari 2006-2007 dan selanjutnya, kami pikir REDD akan bergerak saja, karena pada saat itu hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yang cepat, murah dan mudah – mekanisme sempurna untuk menangani suatu masalah global, yaitu deforestasi dan degradasi hutan, dan emisi yang dihasilkannya. Ternyata REDD+ tidaklah secepat itu. Pastinya tidak semudah itu, dan tidak semurah itu, sebagaimana yang kami pikir.

T: Kemajuan apa yang telah dibuat sebagian besar negara dalam proses REDD+?

J: Ada gagasan mengenai REDD+ bergerak melalui tiga fase. Jadi, fase pertamanya adalah kesiapan. Fase kedua adalah kebijakan dan tindakan, implementasi, dan belajar dari berbagai lokasi demonstrasi. Dan fase ketiga pada dasarnya adalah elemen pasar atau elemen kinerja ketika tiba pada pembayaran berdasarkan hasil karena kinerja. Sayangnya, negara-negara mandek di fase satu.

Sekarang, Anda benar-benar mengalami perjuangan politis. “Anda memiliki pelaku yang tidak lagi dengan senang hati menyetujui gagasan besarnya, yang sangat tidak setuju tentang bagaimana mewujudkan gagasan tersebut.”

Dalam studi kami, di 12 dari 14 negara REDD+, apa yang kami lihat adalah pada masa paling awalnya, ketika REDD+ dianggap sebagai murah, cepat, mudah, bahwa Anda telah memiliki pelaku yang berbeda dan koalisi pelaku dengan gembira bergabung di bawah payung gagasan REDD+ ini. Dan mereka duduk di sana, mereka berbagi visi yang sama, gagasan yang sama-tetapi untuk alasan yang sangat berbeda, untuk kepentingan yang sangat berbeda. Namun, mereka dapat bergabung semua di bawah gagasan besar REDD+ ini. Kemudian berbagai negara bekerja sama untuk berusaha membuat rancangan gagasan REDD+ ini, dan kemudian tindak lanjutnya dan kebijakan implementasinya. Tetapi itu momen di mana fase bulan madu dari gagasan luar biasa ini benar-benar berakhir.

Dan kita lihat sekarang bahwa negara-negara tidak benar-benar berusaha memantapkan kebijakan untuk serius belajar dari lokasi demonstrasi yang ada, untuk benar-benar mewujudkan REDD+ yang akan mengarah pada pembayaran berbasis kinerja dan kepada hasil-hasil. Sekarang, Anda benar-benar menghadapi perjuangan politis. Anda memiliki pelaku yang tidak lagi dengan senang hati menyetujui gagasan besarnya, yang sangat tidak setuju tentang bagaimana mewujudkan gagasan tersebut.

T: Bagaimana cara CIFOR melakukan pendekatan terhadap REDD+?

J: Cara kami berusaha memahami bahwa dengan penelitian kami, sudut pandang yang kami ambil, adalah sudut pandang ekonomi politik. Karena ada sejumlah alasan dan cara bagaimana Anda dapat menjelaskan bahwa suatu proses kebijakan tidak bergerak secepat yang diharapkan.

Bila saya mendapat manfaat, jika saya mendapatkan keuntungan besar dari deforestasi dan degradasi hutan secara individu, sebagai badan usaha, suatu organisasi – jika saya telah mendapat untung dari cara itu, haruskah saya tertarik untuk mewujudkan REDD+?

Di beberapa negara Anda menemukan banyak wacana. Mereka adalah peladang berpindah-, para petani kecil, pembalak liar. Tetapi apa yang tidak dibuat benar-benar eksplisit, dan itulah temuan sentral dalam semua studi kami, yaitu pendorong berskala besar, konversi lahan berskala besar. Itu adalah agribisnis yang di sebagian besar negara mendorong deforestasi dengan kuat. Dan tampaknya untuk semua negara sangat rumit, atau rapuh atau sukar, untuk benar-benar menangani penyebab yang mendasarinya ini.

Cara kami berusaha memahami hal itu ialah dengan menyediakan suatu kerangka kerja, yang kami sebut empat “Ï”. Sebuah lensa “empat I” artinya Anda harus mengimajinasikan suatu proses kebijakan di mana Anda memiliki arena kebijakan global, arena kebijakan nasional, arena kebijakan subnasional. Yaitu di mana semua pelaku datang berkumpul untuk merancang mekanisme yang disebut REDD+.

Dan jelaslah para pelaku ini tidak beroperasi dalam sesuatu yang sama sekali baru. Arena kebijakan ini diciptakan oleh lembaga-lembaga yang sudah ada-hal itu berarti berbagai norma, nilai, prosedur, peraturan, perilaku yang ada. Jadi Anda memiliki suatu tatanan kelembagaan di sana di mana semua para pelaku beroperasi dan berusaha untuk mewujudkan–atau mungkin bahkan untuk tidak mewujudkan–REDD+. Tidak semua orang memiliki kepentingan dalam REDD+. Jadi bila saya mendapat manfaat, bila saya mendapat keuntungan benar-benar besar dari deforestasi dan degradasi hutan sebagai perorangan, sebagai suatu badan usaha, sebagai sebuah organisasi-bila saya mendapat manfaat dari hal tersebut, mengapa saya harus tertarik untuk mewujudkan REDD+? Jadi, jelasnya, kepentingan saya adalah untuk memastikan bahwa manfaat saya, keuntungan saya, laba saya, juga masuk, di masa depan, tanpa REDD+.

Jadi di sini Anda melihat sedikit mengapa istilah “arena kebijakan” sangat baik, karena Anda harus mengimajinasikan para pelakunya berjuang. Beberapa pelaku memang bergabung, mereka membangun koalisi, koalisi kebijakan. Tetapi aktor-aktor lain benar-benar menentang koalisi ini.

T: Dapatkah Anda menggambarkan beberapa dari para pelaku ini dan hubungan di antara mereka?

J: Sejak awal mulanya, orang-orang tampaknya berkumpul bersama di bawah payung gagasan tersebut. Dan Anda mempunyai banyak LSM nasional dan internasional di bidang lingkungan yang sangat vokal. Anda memiliki masyarakat sipil yang jauh lebih tidak vokal di negara-negara ini, khususnya dari bawah ke atas. Tetapi Anda juga memiliki para pelaku yang sangat vokal dan yang menyuarakan sebuah lembaga, yang menyuarakan kepentingan mereka, yang tampaknya bergabung bersama dan berusaha membangun sebuah aliansi, suatu koalisi, melawan para pelaku itu yang menurut mereka tidak akan mewujudkan REDD+ atau tidak menyadari gagasan ini sebagai suatu gagasan yang sangat efektif karbon, efisien biaya, tetapi juga setara.

Jadi apa yang Anda lihat di arena kebijakan ini ialah Anda menyaksikan berbagai aktor berbeda ini bergabung bersama dan berusaha menyuarakan kepentingan mereka. Dan bukan hanya menyuarakannya, tetapi Anda bersuara karena Anda ingin mewujudkan dalam proses politik ini. Jadi Anda memiliki lingkungan kelembagaan yang menciptakan arena kebijakan ini. Lalu Anda memiliki banyak pelaku yang beragam.

T: Bagaimana para pelaku ini berbeda di manca negara?

J: Jelaslah di setiap negara-negara berbeda. Anda memiliki negara seperti Kamerun di mana, misalnya, hanya sekelompok pelaku yang sangat kecil dan satu kelompok LSM lingkungan hidup yang lebih besar dengan sedikit penelitian yang berbicara tentang REDD+. Bisnis sama sekali tidak ada di sana. Dan kami menemukan bahwa bisnis benar-benar tidak hadir di sebagian besar arena kebijakan, jadi mereka tidak benar-benar berbicara. Dan bila saya mengatakan bisnis, maka saya berbicara tentang bisnis skala besar yang mendorong deforestasi dan degradasi hutan. Jadi saya tidak berbicara di sini tentang bisnis hijau yang cantik dan bagus ini. Saya benar-benar berbicara mengenai sektor swasta yang mapan, bisnis seperti biasa, yang mendorong deforestasi.

T: Apakah peranan berbagai gagasan dalam arena kebijakan REDD+?

J: Hal lain yang mendorong para pelaku dan menjelaskan mengapa hanya ada sedikit sekali kemajuan saat ini dalam fase negosiasi politik yang sangat rumit di berbagai negara berbeda ialah gagasan yang dimiliki oleh para pelaku. Kepercayaan seperti apakah yang Anda miliki mengenai bagaimanakah hutan yang seharusnya? Bagaimana suatu ekonomi yang seharusnya? Pola pikir menyeluruhnya yang mendorong seorang pelaku dalam pengambilan keputusannya dan keterlibatannya. Dan bukan hanya apa yang mendorong diri Anda sebagai suatu gagasan atau ideologi; tetapi juga apa yang memampukan orang-orang lain untuk bergabung dengan Anda.

Jadi di mana Anda telah berbagi gagasan, kemudian Anda melangkah maju. Dan itulah kurang lebih kasusnya tentang sektor bisnis dan negara. Mereka memiliki wacana yang kurang lebih sama. Mereka berbicara dengan bahasa yang sama, dan itu berarti bahwa mereka sangat akrab dan mereka berbagi gagasan yang sama. Anda menemukan hal yang sama dengan koalisi di sekitar LSM lingkungan hidup, dengan sedikit masyarakat sipil dan organisasi penelitian internasional juga.

T: Apakah peranan informasi dalam proses kebijakan REDD+?

J: “I” yang keempat bersifat sentral bagi REDD+, yaitu informasi. Untuk memahami kemajuan dan non-kemajuan dengan REDD+, kami memadukan informasi karena REDD+ sebagai suatu mekanisme memiliki arsitektur, yang terdiri atas sistem finansial dan sistem informasi.  Yang berarti di sini Anda memiliki lokalitas di mana emisi dikurangi, di mana deforestasi dan degradasi hutan dihindari atau dikurangi. Dan sekarang ini harus diamati, diukur, dipantau, dilaporkan, dan diverifikasi.

Informasi merupakan mata uang di dunia masa kini–dan benar-benar juga berarti kekuasaan. Dan bila saya adalah Menteri XYZ yang memiliki set data lengkap mengenai deforestasi, mungkin saya tidak ingin berbagi informasi tersebut.

Jadi dalam arsitektur nasional ini, apa yang telah Anda imajinasikan adalah merupakan bagian sangat besar dalam keseluruhan pelaporan ini, berbagi-informasi, dan berdasarkan informasi yang diberikan, akan ada suatu tindakan finansial. Jadi informasi teknis mengenai satu unit karbon ini harus diterjemahkan menjadi sebuah transaksi finansial. Dan di sini, lagi, kita memiliki jenis dana global ini, pasar global, pasar karbon, pasar regional-dan kemudian lokasi Anda yang sangat spesifik, dari nasional, sub nasional, terus sampai lokasinya yang sebenarnya tempat hasil-hasil dicapai, di mana emisi atau kinerja dilaksanakan. Dan di sanalah tempat Anda ingin memberikan imbalan.

Jadi keadaannya sangat rumit, dan apa yang dapat Anda lihat adalah bahwa informasi merupakan suatu unsur yang sangat penting dalam proses pewujudan REDD+. Informasi juga merupakan sumber daya: Beberapa pelaku memang memiliki informasi, para pelaku lain akan membutuhkan informasi, dan pelaku yang lain lagi tidak memiliki akses informasi, atau memiliki akses informasi. Jadi, sebenarnya, apa yang dapat dikatakan ialah bahwa informasi merupakan mata uang di dunia sekarang–dan juga berbicara tentang kekuasaan. Dan bila saya aadalah Menteri XYZ yang memiliki set data lengkap mengenai deforestasi, mungkin saya tidak ingin berbagi informasi tersebut. Karena, juga, informasi bukan sesuatu yang bersifat objektif secara total, dan yang dipercayai oleh semua orang. Tetapi fakta dapat diseleksi. Fakta dapat ditafsirkan, fakta dapat ditafsir-ulang, dan terkadang Anda hanya mendapat sedikit fakta yang memberikan gambaran yang sangat berbeda dari suatu realitas, dan bila Anda mendapatkan seluruh informasinya, gambaran tersebut akan terlihat sangat berbeda.

Jadi informasi dapat digunakan sebagai sesuatu yang sangat politis, dan itulah alasannya mengapa informasi berada dalam kerangka kerja ekonomi politis kami. Siapa yang memiliki kekuasaan untuk mewujudkan gagasannya tentang bagaimana seharusnya REDD+ itu, atau bagaimana seharusnya yang tidak termasuk REDD+? Itulah pertanyaan besarnya. Anda dapat berpikir tentang informasi juga sebagai suatu sumber kekuasaan, karena Anda tidak dapat mengabaikan suatu organisasi, bahkan mungkin bila suatu kementerian telah melaporkan angka-angka yang sangat meragukan selama puluhan tahun.  Anda tetap tidak dapat mengabaikannya bila kementerian inilah yang memiliki angka-angkanya. Suka atau tidak suka, Anda harus berhadapan dengannya.

T: Apakah pertanyaan besar berikutnya untuk REDD+?

J: Pertanyaan besarnya sebenarnya, bagaimana bergerak dari jenis bisnis seperti biasa ini, cara terjadinya deforestasi dan degradasi hutan saat ini, dan yang memotivasi dan memungkinkannya-ekonomi politis dari hal tersebut. Bagaimana mengubah hal tersebut untuk bergerak ke suatu situasi di mana Anda memiliki perubahan transformasional yang akan diperlukan untuk mewujudkan REDD+. Dan ketika saya berbicara mengenai “perubahan transformasional”, maksud saya misalnya penghapusan subsidi yang merusak. Dan kita melihat hal tersebut di negara-negara seperti Peru. Anda melihat konflik ini terjadi antara berbagai peraturan kementerian baru dari Kementerian Pertanian yang sepenuhnya bertolak belakang dari gagasan tentang apa yang sebenarnya diinginkan mengenai REDD+. Indonesia juga sama.

REDD+ bukanlah masalah kebijakan di sektor kehutanan-Anda benar-benar harus mengubah segala sesuatu di sekitarnya. Itulah sebabnya mengapa kemajuan REDD+ sulit untuk dicapai.

Jadi Anda menghadapi konflik mengenai wacana pembangunan ini. Kita perlu lahan untuk membangun negara kita, untuk memastikan keamanan pangan, dll–tetapi dalam semua kasusnya kita memerlukan lahan untuk hal tersebut. Jadi hutan dipandang sebagai sumber lahan untuk berbagai tujuan pembangunan. Dan jelaslah bahwa hal tersebut sangat berbenturan dengan gagasan mengenai ‘Ada nilai dalam melestarikan hutan, jadi mari kita pertahankan hutan-hutan tersebut.’

T: Apa yang harus terjadi agar memampukan REDD+ membuat kemajuan lebih lanjut?

J: Bukan hanya penghapusan subsidi yang merusak. Bukan hanya jenis perubahan lebih luas ini dalam kerangka kerja pengaturan, kerangka kerja tata kelola seperti tenurial, yang dianggap sangat penting. Tetapi juga tentang implementasi berbagai kebijakan aktual REDD+, seperti suatu moratorium. Dan saya pikir kita semua tahu adanya perdebatan besar mengenai moratorium Indonesia. Gagasan cantik, namun seperti disebut sekali waktu oleh seorang rekan kerja, semuanya adalah tentang politik dari hal yang mungkin. Namun moratorium itu menjadi sangat lemah sejalan dengan waktu. Jadi, pertanyaan sebenarnya adalah, apakah yang mungkin dalam konteks berbagai gagasan yang berbenturan, berbagai kepentingan yang berbenturan, dengan akses informasi yang berbeda, dan dalam suatu tatanan kelembagaan yang sangat lengket?

Dan bila kami bergerak dari bisnis seperti biasa ke skenario perubahan yang transformasional ini di mana Anda perlu melakukan berbagai perubahan besar dalam struktur tata kelola, dalam kerangka kerja pengaturan dalam pengertian subsidi, subsidi yang merusak, dalam pengertian reformasi industri hutan, saya pikir hal tersebut benar-benar penting. REDD+ bukanlah masalah kebijakan di sektor kehutanan-Anda benar-benar harus mengubah segala sesuatu di sekitarnya. Itulah sebabnya mengapa kemajuan REDD+ sulit untuk dicapai.

Untuk informasi selanjutnya mengenai penelitian CIFOR tentang REDD+, hubungi Maria Brockhaus di m.brockhaus@cgiar.org.

Studi Komparatif Global CIFOR tentang REDD+ sebagiannya didukung oleh Program Penelitian CGIAR Research Program tentang Hutan, Pohon dan Agroforestri dan oleh NORAD, AusAID, DFID dan oleh Komisi Eropa.

(Visited 57 times, 2 visits today)
Topik :   Deforestasi