Berita

Perlu empat kondisi untuk melibatkan masyarakat lokal dalam aktivitas REDD+: Riset

Jika Anda lihat literatur akademis, semuanya soal efisiensi biaya? Dan itu benar-benar membatasi.
Bagikan
0
Pemetaan partisipatoris di Papua, ilmuwan bekerja dengan penduduk mengidentifikasi jenis tutupan lahan dari citra satelit di wilayah mereka. Michael Padmanaba/Foto CIFOR
Pemetaan partisipatoris di Papua, ilmuwan bekerja dengan penduduk mengidentifikasi jenis tutupan lahan dari citra satelit di wilayah mereka. Michael Padmanaba/Foto CIFOR

Paling popular

Indonesia - BOGOR, Indonesia— Bulan ini di Lima, para pakar berdebat mengenai bagaimana menjaga hak masyarakat lokal dalam inisiatif karbon-hutan global.

Berjarak separuh bumi, sebuah riset baru mengambil pelajaran dari inisiatif di lapangan di Indonesia— dan memberi gambar lebih bernuansa kondisi untuk memungkinkan masyarakat lokal membantu, dan memetik manfaat dari upaya penurunan emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+).

Literatur partisipasi aktif masyarakat desa dalam proyek REDD+ sebagian besar berputar di sekitar pelibatan penduduk mengukur dan melaporkan stok karbon hutan — dikenal sebagai pengukuran, pelaporan dan verifikasi partisipatoris (atau PMRV).

Tetapi literatur tersebut terfokus sempit pada satu bagian “MRV,” kata para pakar.

“Ketika kita berbicara mengenai PMRV, sebagian besar riset sejauh ini benar-benar fokus pada aspek pengukuran,” kata Manuel Boissiere, ilmuwan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan Pusat Penelitian Pertanian untuk Pembangunan Internasional (CIRAD).

“Jika Anda lihat literatur akademis, semuanya soal efisiensi biaya — bagaimana mengajak masyarakat lokal berpartisipasi mengukur hutan dan berapa biayanya, dan apakah mereka melakukan pekerjaan dengan baik dibanding ilmuwan? Dan itu benar-benar membatasi.

“Dalam MRV juga ada pelaporan dan verifikasi, dan sangat sedikit kajian MRV partisipatoris menyentuh dua bagian ini,” lanjutnya.

3 LOKASI, 4 KONDISI

Manuel Boissière dan timnya menginvestigasi tiga lokasi di Indonesia (Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Papua); dalam penelitian mereka, Estimasi emisi karbon untuk REDD+: kondisi untuk melibatkan masyarakat lokal, memetakan empat kondisi penting pelibatan masyarakat dalam PRMV

Pertama adalah relevansi bagi masyarakat lokal: Sederhananya, jika sesuatu mengenai proyek tidak dipandang relevan bagi keseharian, masyarakat tidak akan berkomitmen pada proyek. Menurut Manuel, hanya karena masyarakat desa di Indonesia tinggal dekat hutan, tidak berarti mereka memiliki ikatan kuat terhadap hutan atau minat melindunginya.

Bahkan jika sebuah masyarakat tinggal dekat hutan yang ingin dipantau, tetapi sebagian besar penduduk bekerja di kota, mereka tidak lagi memiliki ikatan dan sedikit pengetahuan tentang hutan

“Bahkan jika masyarakat tinggal dekat hutan yang ingin dipantau, tetapi sebagian besar penduduk bekerja di kota,” katanya, “mereka tidak lagi memiliki ikatan dan sedikit pengetahuan tentang hutan, oleh karena itu tidak tertarik berpartisipasi terhadap MRV.” Bahkan ketika mereka memiliki ikatan kuat dengan hutan, mereka mungkin tidak tertarik berpartisipasi jika mereka berpersepsi aktivitas pemantuan hutan mengancam mata pencaharian terkait hutan. Menemukan keseimbangan antara pembangunan masyarakat dan perlindungan hutan itu sulit; oleh karena itu bekerja sama dengan masyarakat sangat penting.

Kondisi kedua adalah kemampuan: Mengukur dan melaporkan data karbon memerlukan kapasitas teknis dan literasi. Lebih dari pendidikan formal, ini juga mencakup pengetahuan ekologi tradisional (yang dipelajari di masyarakat), dan kemampuan memanfaatkan teknologi pelaporan (kemampuan yang dapat diperoleh melalui pelatihan). Juga, apakah selalu jelas bagi masyarakat lokal apa yang mereka ukur?

Pertanyaan ini menimbulkan beberapa tantangan bagi tim.

Ketiga adalah sistem pelaporan yang digunakan untuk melacak dan mengirim data. Untuk ini, Manuel beserta mendesak penggunaan struktur yang ada.

“Kami sarankan daripada membuat kembali roda, kami mencari yang sudah ada,” katanya. “Dan kami mencoba membandingkan dan mempelajari sistem pelaporan yang ada di Indonesia untuk mengembangkan sistem pelaporan partisipatoris yang kuat.”

Mereka menemukan sistem MRV yang ada di lapangan berbeda dari kehutanan: pelayanan  kesehatan.

“Di Indonesia Anda memiliki pos pelayanan kesehatan di tingkat desa, penduduk bertemu setiap bulan hampir secara sukarela; hanya sedikit uang terlibat,” kata Boissiere. “Ada pemantauan ibu hamil dan bayi hingga usia 4 atau 5. Informasi dikirim penduduk ke tingkat lebih tinggi dan mencapai tingkat nasional. Ini belum sempurna, tetapi telah berjalan—selama 30 tahun.”

Kondisi pendorong keempat, kata Boissieri, adalah yang tersulit: validasi kualitas — kemampuan memeriksa apakah data terkumpul telah benar. “Kita harus periksa apakah data terkumpul dan terlaporkan menggambarkan realitas lapangan,” kata Manuel.

Peneliti CIFOR Yuli Nugroho menjelaskan proyek PMRV dalam pertemuan masyarakat di Jawa Tengah, Indonesia. Yudha Nugroho/Foto CIFOR

Peneliti CIFOR Yuli Nugroho menjelaskan proyek PMRV dalam pertemuan masyarakat di Jawa Tengah, Indonesia. Yudha Nugroho/Foto CIFOR

MARI MEMBUAT PETA

Satu cara melakukan hal ini, melalui pencitraan jarak jauh saja tidak cukup. “Kita pikir, bahwa, jika ingin masyarakat terlibat dalam MRV, dan Anda perlu proses validasi satu arah – kita di level lebih tinggi memantau apakah Anda bekerja dengan benar – tidaklah membangun kepercayaan,” kata Boissiere. “Untuk melibatkan masyarakat, Anda perlu membangun kepercayaan. Seharusnya ini proses dua arah.”

Tidak ada resep tunggal, tidak ada solusi tunggal

Untuk melakukan ini, tim melakukan apa yang disebut “pemetaan partisipatoris,” yaitu, peta penggunaan dan tutupan lahan dikembangkan bersama dengan masyarakat lokal.

“Jika Anda menumpangsusunkan peta dari citra jarak jauh dan peta dari pemetaan partisipatoris, Anda bisa melihat letak inkonsistensi,” kata Boissiere. “Anda bisa melihat dimana Anda perlu mengirim orang untuk melakukan pemeriksaan lapangan. Menggabungkan peta berbeda menjadi efektif-biaya, karena mengurangi wilayah yang perlu kita cek, untuk disurvei. Ini melibatkan masyarakat lokal lebih dekat, karena mereka menyediakan informasi tidak hanya tutupan lahan tetapi juga apa penyebab perubahan tutupan hutan yang diobservasi.”

Londisi tersebut spesifik-lokasi, kata Boissiere. “Setiap lokasi memiliki situasi berbeda; terdapat cara berbeda terlibat dengan masyarakat lokal, dan mungkin di beberapa wilayah tidak memungkinkan,” katanya. “Mungkin di beberapa wilayah, terbatas pada aspek tertentu dan bagian pekerjaan harus diselesaikan dengan pakar lebih teknis. Tidak ada resep tunggal, tidak ada solusi tunggal.”

“Jadi ini mengapa kita perlu mencoba dalam konteks berbeda, situasi berbeda, dan bentang alam berbeda.”

‘BERBICARA DENGAN MASYARAKAT’

Kajian ini adalah yang pertama dari beberapa dokumen yang direncanakan dipublikasikan oleh tim Boissiere mengenai kerja lapangan mereka—lainya akan melaporkan lebih rinci topik seperti tenurial lahan, persepsi lokal mengenai penyebab perubahan, pemetaan partisipatoris pencitraan jarak jauh, dan pengalaman kelembagaan masyarakat lokal.

Sejalan pembicaraan teknis berlangsung di Lima, penting untuk mengingat bahwa MRV tidak sekadar mengukur karbon, kata Manuel. Hal tersebut juga membantu menjelaskan mengapa terjadi perubahan terkait perbedaan penggunaan lahan. Ini mengapa membangun kepercayaan di lapangan menjadi penting.

“Terdapat semua informasi non-karbon yang dapat diberikan masyarakat, dan kita perlu itu. Dan ilmuwan sendirian tak bisa melakukannya. Pakar pencitraan jarak jauh dapat melihat apa yang berubah tetapi akan sulit berkata, ini karena penebangan, karena orang menebang pohon tertentu, ekspansi pertanian, karena penambangan emas non-formal, atau alasan lain? Untuk mendapat informasi tersebut, Anda perlu ke lapangan dan berbicara dengan masyarakat.”

Untuk informasi lebih mengenai topik riset ini, silahkan hubungi Manuel Boissière di m.boissiere@cgiar.org.

Riset ini didukung oleh Norad, USAID dan  CGIAR Fund, serta bagian dari Program Riset GIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri.

(Visited 225 times, 1 visits today)