Berita

Di wilayah tropis, invasi tumbuhan asing sebagian besar masih tak terpantau

Dampak invasi tanaman termasuk kerusakan pohon, mengurangi tutupan kanopi dan mendorong kebakaran.
Bagikan
0
Sulur anggur di hutan tropis dekat Porto Velho, Rondonia, Brasil. Spesies invasif di wilayah tropis dapat menimbulkan dampak merusak hutan. Kate Evans/Foto CIFOR
Sulur anggur di hutan tropis dekat Porto Velho, Rondonia, Brasil. Spesies invasif di wilayah tropis dapat menimbulkan dampak merusak hutan. Kate Evans/Foto CIFOR

Paling popular

BOGOR, Indonesia — Penyerbu hijau kecil bersiap menimbulkan kekacauan di wilayah tropis, demikian diindasikan penelitian baru.

Di wilayah tropis, skala invasi spesies tumbuhan asing sama sekali tak terduga selama beberapa dekade terakhir dalam bentuk area terdampak, spesies terlibat serta dampak ekonomi, ekologi dan kesehatan.

Tanpa perhatian lebih besar untuk mencegahnya, hanya soal waktu sebelum spesies tumbuhan tersebut memicu malapetaka di wilayah tropis, demikian menurut kajian literatur terbaru.

Mau lebih baik atau lebih buruk, inilah garis dasar yang sering mendorong orang untuk bertindak

Penelitian ini, dipublikasikan di jurnal Forests mencatat, tutupan hutan tropis meliputi 1,7 miliar hektar, lebih dari sepertiga permukaan lahan tropis. Hutan tropis mensuplai sekitar 9 persen kebutuhan kayu dan produk kayu dunia, serta produksi dan pemrosesannya memberikan pemasukan signifikan di banyak negara tropis. Sedikit diketahui risiko dan dampak penyerbu eksternal ini di wilayah tropis, khususnya dalam hutan kontinen.

Beberapa melaporkan atau mencurigai dampak invasi tanaman dalam hutan produksi termasuk kerusakan langsung pohon kayu, mengurangi tutupan kanopi pohon, memperlambat pengisian celah akibat pohon tumbang dan mendorong kebakaran, kata kajian tersebut. Kerugian invasi termasuk berkurangnya panen kayu, dan biaya untuk upaya pengontrolannya.

“Tidak ada penelitian potensi dampak ekonomi spesies tanaman asing di hutan tropis produksi,” kata salah seorang penulis, Michael Padmanaba, peneliti Pusat Penelitian Kehutanan Internasonal (CIFOR).

“Sekali kita bisa menghitung biaya, kita bisa menggunakan angka ini untuk meningkatkan kesadaran pengelola hutan produksi mengenai masalah ini. Untuk lebih baik atau lebih buruk, inilah garis dasar yang sering mendorong orang bertindak.”

MEREKA BERPUTAR

Spesies tumbuhan asing didefinisikan sebagai tumbuhan yang dibawa dari wilayah asli dan dimasukkan dalam ekosistem berbeda yang membuat mereka menyebar cepat. Penyerbu hijau kecil ini biasanya menggunakan cara biasa berpindah ke wilayah baru.

Clidemia hirta, contohnya, berasal dari Amerika Tengah dan Selatan dan kepulauan Karibia. Semak dengan ranting padat menghasikan beri bisa dimakan, tumbuh di area terbuka seperti padang, sisi sungai dan pinggir jalan. Pada akhir abad 19, pria bernama Koster tak sengaja menyebar bijinya di pembibitan kopi di pulau Fiji.

Kini dikenal sebagai “kutukan Koster,” tumbuhan ini ditemukan di seluruh Asia tropis dan lebih toleran terhadap keteduhan daripada di Amerika. Terlepas dari kehadiran tanaman di hutan tebangan dan perkebunan, Padmanaba mengamati Clidemia hirta tumbuh di hutan alam di mana sering hanya spesies asing bisa tumbuh dari jalan setapak. Tumbuhan ini berkembang cepat, mengisi celah akibat pohon tumbang atau keabakaran.

Meski riset terbaru menyatakan Koster bukan biang keroknya, tidak ada yang memperdebatkan bahwa ada tindakan manusia di balik masuknya Clidemia hirta ke wilayah tropis. Walaupun, seperti ditunjukkan kajian CIFOR, jalan masuk invasi ke dalam hutan tropis produksi seringkali kurang dipahami.

”Penebangan, peladangan berpindah, kebakaran atau bencana alam membuat hutan rentan invasi,” kata Padmanaba. “Biasanya, invasi terhenti ketika kanopi terbangun kembali karena banyak tanaman asing perlu cahaya.” Sementara keteduhan bertindak sebagai halangan alami terhadap banyak invasi, spesies toleran-teduh seperti Clidemia hirta berpotensi menginvasi bahkan hutan kontinen tak terganggu.

PERKEBUNAN JUGA MEMBERI RISIKO

Tumbuhan bukan satu-satunya kekhawatiran. Menurut kajian, lebih dari 100 spesies pohon asing dimasukkan dalam hutan perkebunan tropis sejak paruh abad 20. Bibit dikembangkan di pembibitan dimana mereka diaklimatisasi untuk kondisi lokal sebelum ditanam di area luas dan beragam

Dengan apa yang kita tahu mengenai kecepatan invasi dimana-mana, tidak ada alasan berpuas diri

“Tumbuhan eksotis muncul sebagai sumber penting invasi, sebagian karena mereka dikelilingi oleh jaringan jalan yang membantu menyebarkan invasi,” kata Padmanaba. “’Bocoran perkebunan’ khususnya adalah penyerbu serius karena mereka pohon. Mereka lebih bisa bersaing dengan pepohonan dan lebih mahal untuk dibuang daripada semak dan tumbuhan.”

Spesies yang dikembangkan untuk kayu bakar, seperti Acacia nilotica, jelas sangat invasif. Dengan ekspansi perkebunan bubur kertas di wilayah tropis, dan rencana ekspansi tanaman biofuel, sebagian peneliti menduga “utang invasi” besar harus dibayar dalam beberapa dekade ke depan.

Pencegahan lebih baik daripada kontrol, kata Padmanaba. Cara terbaik antara lain terus memantau spesies invasif; meminimalkan membuka kanopi selama panen dan operasi silvikultur lain; menutup kanopi dengan cepat di perkebunan; meminimalkan meluasnya akses jalan; dan menjamin bahwa kendaraan dan peralatan lain tidak membawa biji spesies invasif.

Rimbawan perlu waspada sumber potensial penyerbu, selain rentannya habitat alami terhadap ancaman dari spesies perkebunan.

“Sejauh ini, hutan kontinental tropis memiliki halangan alami melawan spesies paling invasif,” kata Padmanaba, “tetapi dengan apa yang kita tahu mengenai kecepatan invasi dimana-mana, tidak ada alasan berpuas diri.”

Untuk informasi lebih mengenai masalah dalam artikel ini, silahkan hubungi Michael Padmanaba, m.padmanaba@cgiar.org

Penelitian ini didukung oleh Center for Integrative Conservation, Xishuangbanna Tropical Botanical Garden/Chinese Academy of Sciences. Penelitian ini menjadi bagian dari Program Penelitian CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri.

(Visited 513 times, 1 visits today)

Bacaan lebih lanjut

In the tropics, an alien invasion remains largely below the radar | CIFOR Forests News Blog