Berita

Perhitungan nilai ekonomi hutan sering mengabaikan keragaman hayati, temuan riset

Jika kita fokuskan kebijakan pada pertimbangan ekonomi, kita akan kehilangan keragaman hayati.
Bagikan
0
Katak pohon di Taman Nasional Manú di Amazon Peru. Kebijakan yang dirancang melindungi wilayah di mana jasa ekosistem memiliki nilai ekonomi tinggi mungkin tidak memasukkan nilai tingginya keragaman hayati, demikian menurut penelitian terbaru. Foto: Michael Tweddle
Katak pohon di Taman Nasional Manú di Amazon Peru. Kebijakan yang dirancang melindungi wilayah di mana jasa ekosistem memiliki nilai ekonomi tinggi mungkin tidak memasukkan nilai tingginya keragaman hayati, demikian menurut penelitian terbaru. Foto: Michael Tweddle

Paling popular

BOGOR, Indonesia—Jika Anda perencana pemanfaatan lahan di negara tropis, bagaimana Anda memutuskan sebuah wilayah digunakan untuk mengembangkan pangan, melindungi keragaman hayati atau melindunginya untuk jasa lingkungan (seperti kontrol erosi atau polinasi)?

Alat ukur konvensional penilaian jasa lingkungan kehilangan nuansa keragaman bentang alam tropis, kata para peneliti.

Mereka memandang rendah nilai ekonomi tempat dengan keragaman hayati tinggi; lokasi tersebut seringkali jauh dari wilayah berpenduduk, demikian menurut penelitian baru di jurnal Biological Conservation.

Jika kita fokuskan kebijakan pada pertimbangan ekonomi, kita akan kehilangan keragaman hayati

Hasilnya, kebijakan yang dirancang untuk melindungi wilayah dengan jasa lingkungan memiliki nilai ekonomi tinggi tidak memasukkan tingginya keragaman hayati, walaupun hal itu penting bagi keamanan pangan dan penghidupan masyarakat terpencil, kata penulisnya.

“Kita perlu mengambil langkah lebih bernuansa dan berkonsentrasi pada keterbatasan sumber daya di wilayah yang tidak hanya menyediakan jasa lingkungan, tetapi berkorelasi dengan tingginya keragaman hayati,” kata Terry Sunderland, ilmuwan senior Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dan salah seorang penulis.

NILAI EKONOMI BERFOKUS PADA ORANG

Dengan berkembangnya kebutuhan produksi pangan di negara tropis, perencana menggunakan nilai jasa ekosistem untuk memutuskan pemanfaatan lahan. Tetapi banyak perhitungan didasari nilai rata-rata tidak mencerminkan besarnya keragaman hayati dalam ekosistem tropis, kata penelitian tersebut.

Menggunakan data dari TEEB (The Economics of Biodiversity and Ecosystems), yang mereka sebut “basis data jasa lingkungan paling komprehensif,”  para penulis memetakan dan menganalisa nilai ekonomi jasa lingkungan di wilayah tropis Amerika Latin, Asia dan Afrika.

Di luar asumsi umum bahwa melindungi wilayah yang memberi jasa lingkungan bernilai tinggi juga melindungi wilayah dengan keragaman hayati, para peneliti justru menemukan bahwa lokasi tersebut seringkali tidak tumpang tindih.

Jika Anda tidak bisa bertahan hidup tanpa hutan, artinya hutan memiliki nilai tak terhingga bagi Anda

Nilai ekonomi cenderung tertinggi ketika sejumlah besar orang merasakan manfaat dari sebuah jasa, kata Roman Carrasco dari Universitas Nasional Singapura, salah seorang penulis. Tetapi tempat dengan keragaman hayati tinggi biasanya hutan terpencil jauh dari pusat populasi.

“Keragaman hayati lebih tinggi berada di tempat yang relatif tak terganggu atau hutan perawan—di sanalah sejumlah besar spesies tinggal,” kata Carrasco. “Jika Anda memiliki konsumen jasa seperti regulasi air, Anda akan memiliki nilai lebih tinggi, tetapi kekayaan spesies akan rendah.”

Sebagai kompensasi, perencana seharusnya memasukkan faktor “lebih dari sekedar nilai uang,” kata Carrasco. “Jika kita fokuskan kebijakan pada pertimbangan ekonomi, kita akan kehilangan keragaman hayati. Ini bertentangan dengan kebijakan konvensional yang mengasumsikan bahwa ekosistem lebih homogen,” katanya.

Hutan dengan keragaman hayati sangat bernilai bagi manusia yang tinggal di hutan atau dekat dengan hutan yang bergantung pada kayu, buah-buahan, serat, regulasi air dan jasa lain yang diberikan.

Walaupun sedikit orang merasakan manfaat jasa tersebut, karena populasi lebih tersebar di wilayah terpencil, ketergantungan mereka pada hutan untuk manfaat kultural dan pangan lebih tinggi daripada orang di wilayah kota — nuansa yang dalam perhitungan lebih luas gagal tertangkap, kata Sunderland dan Carrasco.

“Peran hasil hutan sebagai jaring pengaman ekonomi termasuk manfaat keragaman makanan, nutrisi anak dan kesehatan jutaan orang di wilayah tropis adalah buktinya,” tulis mereka.

Pemasukan dari hutan dan hasil hutan menyediakan lebih dari seperempat pemasukan keluarga desa, hampir sebanyak pertanian, demikian menurut riset Jaringan Kemiskinan dan Lingkungan pimpinan CIFOR.

‘NILAI TAK TERHINGGA’

Penelitian baru menunjukkan bahwa perencana harus menambahkan keragaman hayati dalam perhitungan mereka, khususnya ketika membandingkan manfaat pertanian terhadap hutan, walaupun tidak ada kesepakatan bagaimana menempatkan nilai uang pada keragaman hayati, kata Carrasco.

“Kita perlu mencoba mengkuantifikasi kesejahteraan manusia, tidak semata nilai ekonomi,” katanya. “Ini tidak berarti kita berhenti menggunakan nilai ekonomi—hanya saja kita perlu melengkapinya dengan indikator lain.”

Ini berarti menukar peta umum jasa lingkungan dengan peta lebih terinci dengan urgensinya — dan nilai — jasa bagi masyarakat lokal, bahkan alam tempat lebih terisolasi.

“Kita perlu melihat seberapa fundamental jasa tersebut,” kata Carrasco. “Jika Anda tidak bisa bertahan hidup tanpa hutan, artinya hutan memiliki nilai tak terhingga bagi Anda.”

Untuk informasi lebih mengenai topik penelitian ini, silahkan hubungi Terry Sunderland di t.sunderland@cgiar.org.

Riset ini didukung antara lain oleh USAID dan menjadi bagian dari Program Riset CGIAR mengenai Hutan, Pohon dan Agroforestri.

(Visited 596 times, 1 visits today)