Berita

Kepemilikan lahan di hutan adalah soal keamanan pangan: Peneliti

Lebih dari 1 miliar orang bergantung pada produk hutan untuk makanan dan penghasilan.
Bagikan
0
A comparison of nutrition data and tree-cover maps found that the greater the tree cover, the more diverse the diet—up to a point.
A comparison of nutrition data and tree-cover maps found that the greater the tree cover, the more diverse the diet—up to a point.

Paling popular

LIMA, Peru — Hutan adalah tautan penting dalam rantai pangan, khususnya bagi perempuan, anak-anak yang berada dalam risiko kelaparan dan malnutrisi, demikian ditunjukkan hasil awal riset yang tengah dilakukan.

Hak lahan adalah faktor pendorong krusial keamanan pangan bagi masyarakat hutan, kata para pakar.

“Hutan dan pohon sendiri tidak akan mencapai keamanan pangan global, tetapi mereka bisa memainkan peran besar,” kata Terry Sunderland, ilmuwan utama Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dalam sebuah sesi diskusi panel pada Forum Bentang Alam Global di Lima, Desember tahun lalu.

Forum ini diselenggarakan oleh CIFOR, Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), bersamaan dengan konferensi perubahan iklim tahunan PBB. Acara ini dihadiri oleh 1.700 orang dari 90 negara, termasuk juru runding perubahan iklim, para menteri, CEO, pemimpin adat, pemimpin masyarakat sipil dan peneliti.

Bentang alam berhutan menyediakan pangan, bahan bakar, pakan ternak dan produk yang bisa dibarter atau dijual oleh keluarga.

  • Untuk berita, riset dan analisis lain mengenai Forum Bentang Alam Global, kunjungi cifor.org/lima.

Mengelola multifungsi bentang alam dengan mengkombinasikan produksi pangan, konservasi keragaman hayati dan menjaga jasa lingkungan membantu keluarga mencapai ketahanan pangan dan nutrisi,” kata Sunderland.

Penelitian ini, meneliti hubungan antara hutan, nutrisi dan ketahanan pangan, dilakukan oleh Panel Pakar Hutan Global mengenai Hutan dan Ketahanan Pangan, disponsori bersama oleh CIFOR dan Persatuan Organisasi Riset Hutan (IUFRO).

Lebih dari 1 miliar orang bergantung pada produk hutan untuk makanan dan penghasilan, dan sebanyak 20 persen penghasilan orang desa datang dari lingkungan, kata Sunderland. Penduduk desa wilayah tropis memiliki tradisi panjang mengelola hutan mereka atau sebagian bentang alam hutan, dan 40 persen produksi pangan dunia datang dari sistem petani kecil itu, katanya.

Sebuah perbadingan data nutrisi dan peta tutupan pohon di 21 negara Afrika menemukan bahwa makin besar tutupan pohon, makin beragam pola makan — mendukung pendapat ini, ujar Sunderland.

Sebuah penelitian terhadap 93.000 anak menemukan bahwa konsumsi buah dan sayuran meningkat bersama tutupan pohon, mencapai puncaknya ketika tutupan hutan sekitar 45 persen bentang alam, dan kemudian menurun.

Walaupun hutan juga melindungi hewan buruan, tidak terdapat hubungan signifikan secara statistik antara tutupan pohon dan konsumsi hewan, katanya.

Temuan-temuan ini mengindikasikan bahwa hutan di bentang alam lebih bisa beradaptasi, resilien dan beragam daripada monokultur, dan mereka menyediakan beragam jasa penting untuk nutrisi dan, oleh karena itu, bagi kesehatan manusia, kata Sunderland.

Dan manfaat suplai pangan hutan menjangkau lebih dari mereka yang hidup di hutan.

KEPEMILIKAN LAHAN ADALAH MASALAH KETAHANAN PANGAN

Dalam sebuah spektrum yang terentang dari penghuni hutan ke penduduk kota, terdapat beragam jenis bentang alam yang menggabungkan pohon dan pertanian dalam proporsi berbeda, kata Henry Neufeldt dari Pusat Penelitian Agroforestri Dunia (ICRAF).

“Jika kita hanya fokus pada penghuni hutan, kita akan kehilangan seluruh wilayah produksi pangan dari pohon dan sistem pertanian yang mencakup pohon,” kata Neufeldt.

Penting bagi petani kecil untuk memiliki hak legal terhadap lahan dan pohon, katanya.

Karena menjamin akses ke hutan penting, kepemilikan lahan bukan sekadar masalah legal, tetapi juga terkait dengan nutrisi dan keamanan pangan, kata Susan Braatz, pejabat senior kehutanan FAO.

Kebijakan dapat mendorong konservasi hutan dengan memberi akses masyarakat pada sumber daya, kata Braatz. Ia mengutip kasus di Nigeria, ketika masyarakat menanami 5 juta hektare pohon menyusul perubahan kebijakan pemerintah yang memberi mereka hak pada pohon di lahan mereka.

Pemerintah juga dapat mengubah kebijakan menciptakan insentif jahat, seperti melarang petani kecil memotong dan menjual pohon dari sistem agroforestri terkelola dan peternakan. Jika mereka tidak dapat mengambil manfaat dari sumber daya itu, mereka tidak memiliki insentif mengelolanya, katanya.

Braatz menyoroti perlunya melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan dan menjamin bahwa informasi dari kajian panel menjangkau pengambil kebijkan.

Para pakar di panel hutan dan keamanan pangan berencana memproduksi laporan berdasar riset, untuk membantu pejabat pemerintah dan rancangan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan lain serta proyek terkait hutan, nutrisi dan keamanan pangan.

Untuk informasi lebih mengenai topik ini, silahkan hubungi Terry Sunderland di t.sunderland@cgiar.org.

(Visited 180 times, 1 visits today)
Topik :   Tenurial Bentang alam